Ephemeral

870 148 150
                                        

"Hyung, aku ingin mengatakan satu rahasia, tapi janji ya, jangan marah padaku."

"Apa? Apa kau mengencingi sikat gigiku?" tanya Chanyeol sambil memicing, pura-pura marah.

"Hahahaha tidak, hyung. Lebih parah dari itu."

"Apa? Cepat beritahu."

"Janji dulu hyung tidak akan marah."

"Iya janji."

"Chanyeol hyung..." Sehun menatap Chanyeol intens seakan itu adalah kesempatan terkahirnya berani menatap mata Chanyeol, "Aku mencintaimu."

Chanyeol membelalakkan matanya.

"Hunnie..."

"Dan karena aku mencintaimu, aku akan melindungi kebahagiaanmu."


***


"Chanyeol-ssi, aku ingin mengabulkan doa Sehun."

Mendengar nama Sehun disebut, Chanyeol membeku. Sorot matanya dan Johnny bertabrakan. "Aku ingin semua yang masih tersisa di antara kalian selesai sebelum kami menikah," sambungnya.

"Karena itu, Park Chanyeol, katakan padaku. Apa yang bisa membuatmu bahagia?"


***


"Waktu itu kau memintaku untuk menanyakan padanya, apa yang membuatnya bahagia."

"Lalu apa yang akan kau lakukan jika kebahagiaannya kini sedang tak berdaya menunggumu?" 


***


"Terima kasih sudah datang."

Gestur yang begitu canggung dari Chanyeol.

Sehun hanya mengangguk, pada akhirnya, setelah sepersekian detik berpikir apakah harus menjawab dengan "Tentu, senang bisa membantu" atau hanya sekadar ucapan "Sama-sama" yang singkat. Sehun mempertanyakan kewarasannya, bagaimana bisa dari sekian banyak pilihan perbendaharaan kata untuk membalas ucapan terima kasih dari seseorang, tidak ada satupun yang mampu dilafalkan lidahnya.

Atmosfer di antara mereka terasa sedingin es, kaku dan membekukan. Saat ini Chanyeol dan Sehun duduk di halaman rumah sakit. Sehun telah selesai menjenguk Hunnie, yang tiba-tiba mendapatkan nafsu makannya kembali setelah melihatnya. Kemajuan yang bagus.

Saat ini Hunnie sedang tidur, dan hanya di saat tidurlah Sehun bisa meninggalkannya. Sebenarnya Sehun tidak tega. Hunnie terus merengek dan tidak sedetikpun melepaskan Sehun sejak ia menginjakkan kaki ke kamar rawat. Sehun sedikit kewalahan dibuatnya. Akhirnya setelah bocah itu pulas, Sehun mohon pamit pada Nyonya Park yang kebetulan ikut menjaga Hunnie seharian ini, sebelum tiba-tiba Chanyeol menghampirinya.

"Aku sudah menerima undanganmu. Selamat."

Chanyeol langsung menyesal sesaat setelah kata-kata dan senyum itu meluncur dari mulutnya. Ia tidak mengerti mengapa ia malah memilih topik ini untuk memecahkan kebisuan di antara mereka. Ini hanya akan menyakiti hatinya.

"Terima kasih."

Sehun masih menunduk, menghela nafas yang entah mengapa terasa begitu berat sebelum melanjutkan, "Datanglah kalau sempat."

"Aku pasti datang," Chanyeol menyuguhkan senyum terbaiknya.

Mereka kembali tenggelam dalam diam. Chanyeol terlalu takut terluka, sedangkan Sehun tidak mampu berbicara lebih dari ini.

Satu menit.

Dua menit.

Dua setengah menit yang menyiksa.

Love in ColorCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang