Unfathomable

998 138 129
                                        

"Belum selesai juga?"

Sehun mendelik ke arah Johnny. Gereja sedang sepi, hanya ada mereka berdua di sini. Johnny sudah sangat bosan sebenarnya, sejak dulu ia memang selalu mengantuk saat menunggui Sehun berdoa.

"Sedikit lagi," gumam Sehun. "Pulanglah duluan."

Johnny menghela nafas. "Aku tidak akan pulang duluan. Setelah ini kita sudah janji untuk membeli cincin pernikahan, kalau kau ingat."

Mendengar kata 'pernikahan', Sehun menghentikan kegiatan berdoanya dan serta merta membuka mata.

"Maaf."

Sehun tidak tahu apa lagi yang harus ia katakan. Johnny sudah terlalu bersabar selama ini. Setiap kali mereka bersama, pikiran Sehun selalu melayang entah ke mana. Sehun pernah melupakan ulang tahun Johnny, melupakan hari dan jam kencan mereka, dan sekarang melupakan janji mereka memesan cincin pernikahan. Sehun merasa sungguh jahat. Berkali-kali ia berupaya menata perasaannya terhadap Johnny, namun semuanya tetap seperti puzzle yang berserakan.

"Kita akan segera menikah, Sehun."

"Aku tahu. Aku minta maaf."

"Kau meminta maaf karena melupakan janji kita, atau karena kau masih belum bisa melupakan Chanyeol?"

Sehun terdiam.

"Aku akan menjadi orang yang paling bersalah di dunia jika pada saat kita menikah nanti aku masih memikirkan pria lain. Oleh karena itu, anggaplah ini doa terakhirku untuknya. Setelah ini, di hadapan Tuhan, aku akan melepaskannya, dan menyerahkan takdirku padamu."

Sehun tersenyum. Senyum manis yang penuh luka.

"Doa yang sama seperti tujuh belas tahun lalu?" tanya Johnny.

Sehun mengangguk.

"Dan selama tujuh belas tahun Tuhan masih belum juga mengabulkannya?"

Sehun kembali tersenyum.

"Tuhan pernah mengabulkannya, tapi keberadaanku mengacaukan segalanya."

"Itu sebabnya kau memilih melarikan diri ke Amsterdam?"

"Aku pikir itu pilihan terbijak yang bisa kulakukan."

"Baiklah. Kau sudah berusaha menyelesaikan semuanya. Jadi bisa dibilang doamu sudah terkabul?"

"Aku tidak tahu. Aku tidak bisa memastikannya."

Sehun kembali menautkan jemari, berniat melanjutkan doanya. Namun sebelum memejamkan mata, ia berujar lembut, "Bisakah tinggalkan aku sendiri? Ini yang terakhir. Aku janji."

Johnny ingin marah, namun bukankah Sehun sudah berjanji? Ini terakhir kalinya Sehun memikirkan orang itu. Setidaknya ia sedikit lega. Bukankah itu pertanda bagus?

Pada akhirnya Johnny memilih untuk menuruti kemauan Sehun.

"Sehun," panggil Johnny pelan, teramat pelan sebelum ia benar-benar membawa tubuh tingginya beranjak dari bangku gereja.

"Selama ini, sebenarnya apa yang kau doakan untuknya?"

Dan lagi, Sehun hanya melempar senyum.

"Aku berdoa agar Chanyeol hyung selalu berbahagia."

***

"Appa!"

Seorang anak kecil berusia tiga tahunan sibuk berlarian ke sana kemari.

"Hah-hah hah, cukup Hunnie, appa lelah..." Park Chanyeol, ayah dari si kecil Park Sehun tampak terengah-engah mengejar anaknya yang begitu bersemangat bermain di halaman mansion mereka yang megah.

Love in ColorCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang