10. Cemen

9.7K 874 20
                                        

Yang baca, ga vomment, semoga pantatnya gede sebelah kek Arkan.

Yang punya kuota lebih, watch, like, and comment short movie sekolah aku yaa https://youtu.be/Au7V5gr-_Gc

Arlen menggelengkan kepala perlahan, wajahnya mengisyaratkan keheranan karna melihat tingkah dua manusia di depannya.

"Iya, tapi gua lagi sibuk, lu ganggu" ujar cowok berjambul di depan Arina.

"Pelit amat sih lu jadi orang!!" balas suara cempreng Arina.

"Nanti dulu, gua mau latihan basket, kalo mau tanda tangannya nanti aja selesai gua main basket" cowok itu Althaf.

Arina memandang Althaf makin kesal. Baginya, tidak ada orang se aneh Althaf di dunia ini. Tiba tiba baik, tiba tiba jahat. Kan aneh.

"Serah lu deh" Arina membalikan badannya, lalu menjauh dari Althaf, memang apa susahnya tanda tangan sih? Ini juga buat kepentingan bersama, kalo bukan dia sponsor ship terbesar aja, nggak bakal Arina mau susah susah kayak gitu.

Arlen tersenyum, lalu mendekati Arina. "Emang kayak gitu Althaf orangnya, moody-an"

"Itu mah udah lebih dari kata moody kali len! Helloo!!" jawab Arina dengan sedikit nada jengkel yang masih tersisa.

"Nanti coba gue yang bilang deh, sekarang pulang aja, ini hari terakhir kita bebas, besok kan mama pulang" ujar Arlen.

Arina menarik napasnya dalam, lalu menghembuskan perlahan. "Yaudah deh, Arkan kemana?"

"Nunggu di parkiran"

"Yuk" Arina dan Arlen melangkah meninggalkan lapangan menuju ke arah parkiran.

Arkan yang sedari tadi menunggu di dalam mobil, ternyata belum terlihat bosan, dari tadi suasana hatinya seperti sedang ketimpah emas.

"Kau begitu sempurnaa, hooouooo, dung tak tak dung dung" Arkan bernyanyi dengan tidak jelas. Sambil sesekali berkaca di spion mobil, merapihkan jambulnya.

"Kau membuat diriku semakin memujamuuuuuuuuuuu..." Suaranya semakin keras, mungkin dari luar mobil saja terdengar, hingga membuat beberapa siswa menoleh heran.

Baru saja Arkan menarik napas. "Suara kayak bebek demo pake jerit-jerit segala" ceplos Arina sambil duduk di jok kursi belakang. Seketika Arkan menelan napasnya dan memasang wajah datar.

"Ganggu banget sih lu tai" ujar Arkan kesal.

"Diem udeh, kita sekarang mau kemana?" alih-alih menonton Arkan dan Arina bertengkar, Arlen memilih mengganti topik.

"Nonton pilem aja yok? Itu pilem horor lagi tenar di bioskop" sahut Arina.

"Hah? Enggak!" Arlen dan Arkan menyambar dengan cepat. Emang penakut nih orang dua.

"Yailah, ayolaaahhh" rengek Arina.

Arkan menjalankan mobilnya. "Tapi lu yang bayarin ya?" tanya Arkan.

"Iya! Deal" jawab Arina.

"Dih, kaga usah deh, males gua ah" Arlen menatap Arina dengan wajah melas.

"Bilang aja takut lu len" ujar Arkan.

Arlen menatap Arkan, lalu menggeleng. "Enggak, siapa bilang njir"

"Udah, deal pokoknya nonton pilem horor titik!" Jika sudah Arina yang berkata, mereka mau berbuat apa?

------

Setelah membeli tiket dan beberapa makanan, ternyata filmnya masih agak lama, mungkin sekitar 30 menit lagi.

' Neoui du nuneul gameumyeon
  Tteooreuneun geu nundsiryeoseo
  Jakku gaseumi siryeoseo
  Ichyeojigil baraesseo '

Triplets [ Si Kembar Tiga ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang