Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

20 : Bunga :

45.3K 6.5K 348
                                        

20

: b u n g a :


2018



PT Bentala Hadi Nusantara Tbk dibangun sejak 35 tahun yang lalu, dan masih berdiri sampai sekarang dengan berbagai fluktuasi yang mengembangkannya.

Hardana Hadiwijaya, sang Presiden Direktur, sudah memasuki usia ke-60 tahun ini. Hardana tahu bahwa sudah waktunya bagi dia untuk menyerahkan jabatannya kepada orang lain. Para pegawai Bentala tahu bahwa anak bungsu Hardana, yakni Aksel Hadiraja akan dipilih untuk menggantikan sang ayah. Namun, semua orang pun juga sadar bahwa Aksel terlalu muda untuk menjabat posisi Presdir. Meskipun tak ada yang mengingkari bahwa Aksel berotak cemerlang dan pekerja keras, sebagian besar anggota dewan direksi merasa agak keberatan jika Aksel langsung diangkat menjadi atasan mereka.

Termasuk sang Direktur Operasional, Regen Argentara.

"Seperti yang Om Hardana pernah bilang, sebaiknya tunggu Aksel sampai matang dan stabil secara emosi. Gimana kalau nanti dia dapat tekanan tinggi setelah menjabat?" ujar Regen kepada Hardana ketika sang Presdir mengajak berdiskusi sebentar seusai rapat. Valerio, sang Direktur HRD pun juga diajak. Mereka kini tengah duduk di salah satu sofa yang berada di ujung ruangan, terpisahkan dari orang-orang lain.

Hardana mengangguk. "Iya, tapi, tekanan itu udah pasti bakal dia terima dan dia bisa membiasakan diri seiring berjalannya waktu."

"Om, mohon maaf," ujar Valerio. "Saya akui, Aksel memang bagus. Tapi, benar kata Regen. Dia masih belum matang secara emosi dan pengendalian diri. Perusahaan itu bukan cuma butuh pemimpin yang cemerlang. Pemimpin yang bisa menjaga citra perusahaan dengan nggak terlibat skandal itu susah." Valerio pun terdiam. "Saya yakin Om Hardana nggak tutup mata dan tutup telinga dengan 'hobi' Aksel."

Hardana menghela napas. "Val, ini aja saya udah syukur dia nggak main-main sama karyawati di sini."

"Tapi, tetap aja, Om. Sebagian orang udah pada tahu kelakuan Aksel," ujar Valerio. "Itu bisa bikin citra buruk buat masyarakat. Masa iya, Presdir Bentala kerjaannya main perempuan? Kita bisa dinilai nggak kredibel."

"Kalau menurut gue, itu bukan masalah besar, Val," ujar Regen tenang. "Iya, Aksel tiap minggu menggandeng perempuan yang beda-beda. Dia juga nggak pernah berusaha menutupi itu. Tapi, selama ini Aksel masih profesional. Masalah pribadi Aksel ya sudah, biar dia sendiri yang urus. Sebaiknya kita atau orang kantor nggak usah ikut campur."

"Nggak gitu juga, Re," ujar Valerio. "Iya, oke, Aksel masih bisa profesional. Tapi, gue ngomongin impact ke Aksel maupun ke perusahaan beberapa tahun mendatang gitu. Kita nggak tahu Re, dia itu mainan perempuan sampai sejauh apa. Kalau dia sampai hamilin anak orang, gimana? Kredibilitas, Re, kredibilitas."

Regen terdiam. Dia pada akhirnya hanya melirik Presdirnya yang kini melipat dahi. Kemudian, dia baru tersadar bahwa tadi Valerio membicarakan kemungkinan sejauh apa Aksel 'main perempuan' di depan ayah Aksel sendiri.

Sebelum Regen hendak bicara, Hardana duluan bertanya, "Lantas, saran kalian apa?" Hardana mengetuk lengan sofa yang didudukinya. "Perlu bikin regulasi bahwa Aksel harus berhenti mainan perempuan sebelum bisa menjabat jadi Presdir?"

"Suruh nikah aja udah," ujar Valerio, lelah. "Jodohin aja."

"Nein, Val. Jodohin Aksel dengan perempuan manapun nggak akan menyelesaikan masalah," ujar Regen. "Aksel itu mainan perempuan karena itu kesenangan buat dia. Semacam hobi keseharian. Dia butuh petualangannya. Jadi walau dia dijodohin, tetap aja dia bakal mainan perempuan."

Deklasifikasi | ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang