ATTENTION:
Perhatiin baik-baik chapter ini.
-;-
24
: m a n u s i a w i :
2018
"Nama kontak gue 'Kuah Muncrat' banget, Vir?"
Pertanyaan itu adalah hal pertama yang dilontarkan Aksel begitu Virga memasuki ruang kerja di Rumah Bivalvia. Sang gadis sengaja tak menutup pintu ruangannya setelah masuk. Membiarkannya sedikit terbuka. Dia pun meletakkan goodie bag di meja tamu. "Emang kenapa, Kak?" tanya Virga, berbalik ke arah Aksel, lalu mengangkat alis. Wajahnya tak terlihat merasa bersalah. "Kan, Kak Aksel kalau ngomong kuahnya emang suka muncrat."
"Ebuset," ucap Aksel spontan, lantas mendesah. "Image gue emang udah jelek sih, ya, di pikiran lo."
"Loh, emangnya Kak Aksel mau punya image kayak gimana di pikiranku?"
Aksel membuka mulut, kemudian terdiam. Pertanyaan itu sungguh berbahaya seandainya Aksel tak mengendalikan diri untuk tak bicara blak-blakan.
Virga terkekeh. "Santai aja sih, Kak," ujarnya. Dia merogoh goodie bag-nya yang berisi beberapa susu rasa cokelat dan stroberi, lalu mengeluarkan dua susu kotak rasa cokelat. Salah satu susu kotak Virga serahkan kepada Aksel, kemudian gadis itu duduk di sofa seberang sang pemuda. "Diminum aja, Kak."
Aksel tersenyum. "Thanks."
Mereka berdua pun menusuk susu kotaknya dengan sedotan.
"Mau ngapain ke sini, Kak? Tumben datang pagi amat."
Aksel menatap jam. Ya, pukul sembilan pagi mungkin terlalu pagi jika mengingat biasanya Aksel datang pukul sebelas di hari Sabtu. "Nggak kenapa-kenapa. Pengin datang aja."
"Ada masalah?" tanya Virga, santai. Dia menyelonjorkan kaki di sofa ganda yang dia duduki. Matanya memandang Aksel, menunggu jawaban.
Aksel agak tertegun. Meski sudah lama dia kenal Virga, hal ini tak luput membuat Aksel senang. Virga tumben peka, alhamdulillah, batin Aksel. "Gue tadi habis disidang sama keluarga gue," ujar Aksel, meminum susu kotak rasa cokelatnya. "Mereka ngomongin kelakuan gue ke... cewek-cewek yang selama ini gue pacarin."
"Hmm...." Virga menyedot susu kotaknya. "Terus, kenapa?"
"Ya... mereka merasa kelakuan gue itu bisa berefek buruk ke citra perusahaan dan citra gue sebagai Head of Division di Bentala."
"Itu sih, udah pasti berefek buruk, Kak," ujar Virga, kalem. "Kak Aksel sendiri juga harusnya udah tahu tentang konsekuensi ini jauh-jauh hari sebelum Kak Aksel ngerjain pacar-pacar Kakak."
"I know," ujar Aksel. "Cuma, begini loh, Vir. Gue itu masih bisa kerja di bawah tekanan, atau bahkan semisal gue harus kerja sama dengan mantan-mantan gue pun, gue yakin gue masih bisa kerja secara profesional karena gue nggak pernah ngerasa attached ke mereka. Kenapa yang dilihat malah sepak terjang gue yang suka ngerjain cewek? Kenapa nggak dilihat cukup dari gimana gue kerja di Bentala? Presiden pertama kita aja masih bisa dihormati walau ceweknya banyak. Kenapa gue nggak bisa? Apa hanya karena gue bukan presiden?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Deklasifikasi | ✓
Romance[Seri Disiden #3] Sebab banyak yang bilang, seorang eligible bachelor yang suka main perempuan seperti Aksel akan berubah begitu menemukan perempuan yang tepat untuk mereka. Copyright: All Right Reserved 2017 by Crowdstroia
