8
: l a m p i o n :
2004
Selepas Magrib, Virga sudah mandi dan hendak keluar rumah.
Sedari sore, warga setempat sudah bersiap-siap untuk menyambut tahun baru. Sudah cukup banyak pedagang berjualan makanan, kembang api, ataupun terompet. Namun, tak ada yang menjual lampion. Itulah kenapa Virga membelinya di warung dari kemarin. Sebab hanya di warung yang dia datangi saat itulah warung yang menjual lampion. Dan warung itu tutup di malam tahun baru.
Senyum Virga tersungging. Hatinya terasa ringan. Dia mendengar terompet berbunyi di luar rumah. Tasha dan neneknya masih di dalam sambil menyiapkan makan malam. Virga menyengir, lalu membuka pintu rumahnya.
Dan cengirannya luntur saat saat melihat di dahan-dahan pohon rumahnya, lampion-lampionnya yang telah dia gantung rusak.
Lampion itu robek, seperti habis terkena timpukan batu. Semuanya rusak tanpa terkecuali. Terpaku, Virga menatap lampion-lampionnya dengan nanar. Dia pun mendekat, ingin memastikan bahwa yang dia lihat ini nyata. Seisi dadanya pun terasa dikerat. Sesak melihat lampion-lampion itu sungguhan robek. Dia tidak tahu ini ulah siapa. Tidak mungkin binatang. Tak ada binatang berbahaya yang bisa merobek lampionnya hingga rangkaian kayunya patah dan serusak itu. Apa mungkin ada anak-anak iseng? Kenapa ada yang tega? batinnya bertanya.
Tak pernah sekali pun dia melihat hal ini. Selama ini, Virga selalu merayakan tahun barunya dengan tenang bersama neneknya dan Tasha. Tak ada anak-anak nakal yang mengusik atau melakukan kerusakan seperti ini. Masih dengan hati pedih, Virga memandangi lampion-lampion yang susah payah dia gantung di dahan pohon. Matanya terasa panas. Dia sudah menabung untuk membeli lampionnya sendiri, sebab harga lampion lebih mahal daripada harga balon. Lampion adalah benda-benda yang mengingatkannya pada rumah, kepada ibu dan keluarganya di Jakarta yang pernah merayakan ulang tahunnya dulu dengan lampion di malam hari. Dan kini, Virga hanya ingin merayakan dan mengenang memorinya dengan tenang. Kenapa ada yang tega merusak lampionnya? Salahku apa?
Tak tahan, mata Virga yang memanas pun perlahan makin pedas. Dia berjongkok, mulai terisak, lalu menenggelamkan tangisnya sambil memeluk lutut.
Sudah menjelang Isya, dan manusia-manusia di sekitar Virga merasakan kebahagiaan untuk semarak Tahun Baru. Kembang api mulai dinyalakan di sekitarnya. Kendati demikian, meski mendengar suara tawa dan riuh bahagia dari orang-orang sekitar, dari para pedagang makanan, dari warga setempat, serta dari tiupan terompet dan suara kembang api yang meletus, Virga tetap merasa sesak. Dia tidak menyangka akan seperti ini. Padahal dia juga tak pernah meminta yang macam-macam saat dia ulang tahun. Salahku apa? tanya Virga lagi dalam hati.
"Pacil!" panggil suara yang sudah Virga kenal. Virga berhenti menangis sejenak, tak ingin ada orang yang melihatnya terisak. Dia segera beranjak dan mengelap air matanya. Namun, terlambat. Aksel sudah melihatnya. "Ya ampun, Pacil." Lelaki itu mendekat, lembut mengelus bahu Virga. "Pacil kenapa nangis?"
Virga tak berbicara. Tenggorokannya masih terasa tercekat. Sulit baginya untuk berbicara dengan jelas di saat dia masih ingin menangis. Akhirnya, Virga hanya menunjuk lampionnya yang rusak di pohon, lalu meninggalkan Aksel sambil menahan tangisnya.
"Pacil, Pacil, ntar dulu," ujar Aksel lembut, mencegat Virga memasuki rumahnya kembali. "Ya ampun, Pacil jangan nangis. Kita beli lampion baru aja, ya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Deklasifikasi | ✓
Romance[Seri Disiden #3] Sebab banyak yang bilang, seorang eligible bachelor yang suka main perempuan seperti Aksel akan berubah begitu menemukan perempuan yang tepat untuk mereka. Copyright: All Right Reserved 2017 by Crowdstroia
