how much do you know about Aksel Hadiraja? :)
-;-
2
: n a k a l :
2003
Sematan kata 'player' yang melekat di diri Aksel bermula dari kisah-kisah masa sekolahnya.
Dari muda, Aksel tahu dan yakin bahwa dia memang memiliki kecerdasan, bahwa dia cepat menangkap pelajaran, bahwa walau ketika tertidur di kelas pun, jika guru membangunkannya dan memintanya mengerjakan soal-soal yang barusan dijelaskan ketika Aksel tertidur, Aksel akan tetap bisa menjawab soal-soal itu dengan sempurna. Dia bukan genius. Dia hanya cepat menangkap sesuatu, lalu menyambungkannya dengan ingatannya akan pelajaran-pelajaran dahulu.
Karena Aksel bersinar di kelas oleh kecerdasan dan tampangnya atraktif, banyak perempuan mengidolakannya. Awalnya, Aksel jelas merasa senang. Ke sana kemari, dia akan dipuja-puja, ditatap dengan mata berbinar, dan kadang dikirimi beberapa hadiah kecil. Aksel pikir, adalah suatu kewajaran jika dirinya dipuja-puja. Sebab ke mana pun dia pergi, ketika orang-orang tahu akan potensinya—atau minimal sudah melihat wajahnya—dia akan disanjung-sanjung. Dia dulu berpikir bahwa abangnya, Bara, tidak pernah disanjung atau dipuja-puja karena abangnya itu bodoh. Namun, ibunya berkata bahwa Bara bukan bodoh, tetapi memang Aksel cenderung cepat dalam menangkap pelajaran, sehingga lebih cepat memahami suatu konsep dibandingkan anak-anak pada umumnya. Aksel pun memercayai hal itu. Buktinya, dengan Bara belajar lebih sering, Bara mampu mendapat kesempatan student exchange ke Australia, lalu mendapat beasiswa saat kuliah, serta sempat student exchange lagi ke Amerika beberapa tahun setelah itu.
Orang-orang berkata bahwa Aksel adalah anak emas. Namun, orangtuanya tak pernah memperlakukannya lebih spesial daripada abangnya. Bara disayang juga sebagaimana mestinya seorang anak disayang. Jika ayahnya ingin menghabiskan waktu bersama anak-anaknya, Aksel dan Bara pasti diajak, tidak dianaktirikan salah satunya, dan mereka akan mengobrol seperti ayah-anak pada umumnya tanpa perlu ada yang memusingkan si adik mendapat nilai rapor tinggi, atau si kakak dapat nilai rapor tidak setinggi si adik.
Hingga pada suatu titik ketika dia SMP, Aksel mulai mempertanyakan hal-hal yang dia alami.
Kenapa orang-orang itu mengidolakannya?
Jawaban yang dia dapat pun sudah bisa dia prediksi; karena dia tampan dan cerdas. Orang cerdas di negara mana pun pasti akan disanjung. Orang tampan di mana pun pasti akan ditatap dengan mata kagum. Mengagumi Aksel bagi sebagian besar orang adalah suatu kewajaran. Aksel tak pernah peduli dengan orang-orang yang mengaguminya, karena memang begitu banyak yang memberi kekaguman. Sampai akhirnya, dia memasuki masa SMA di tahun 2005 dan mulai berkenalan dengan dunia asmara.
Perempuan pertama yang Aksel sukai adalah teman sekelasnya sendiri. Cantik, berambut panjang, berkulit putih mulus, cukup aktif di kelas. Kelak di masa depan, Aksel sudah lupa siapa nama perempuan ini saking banyaknya gadis yang dia pacari. Budaya di sekolah mengajarkannya bahwa jika dia menyukai perempuan, maka dia harus mendekati perempuan itu dan memacarinya. Aksel pun ikut-ikutan. Dan, jelas tidak sulit bagi Aksel untuk mendapatkan perempuan yang dia inginkan. Aksel adalah idola sekolah yang tampan dan cerdas. Gadis sekolah macam apa yang bisa menolak pesona seperti itu?
Pacaran pertama, jelas masih kaku. Tidak ada sentuh-sentuhan kecuali pegangan tangan. Baru kemudian Aksel mengetahui bahwa ternyata dalam pacaran, mereka juga bisa mencium pacarnya di bibir. Di bibir! Astaga, itu seperti yang ada dalam film Hollywood. Aksel sudah berkhayal bagaimana rasanya mengecup bibir pacarnya itu—yang kelak di masa depan sudah Aksel lupakan siapa namanya—sambil berjalan di koridor SMA ketika dia merasakan bahunya diputar untuk menghadap ke belakang.
"Lo habis ngobrol sama siapa tadi di kantin?" tanya Hizraka dengan tatapan nyalang. Hizraka semasa SMA dulu adalah kakak kelas Aksel, sekaligus teman Bara. Hizraka, Bara, Nolan, dan Mahesa adalah teman satu kelompok dari kelas satu SMA, dan Aksel sudah mengenalnya dari Aksel masih di bangku akhir SMP.
Aksel pun menepis tangan Hizraka dari bahunya. "Sama Ramon. Kenapa?"
Hizraka memasukkan kedua tangannya ke saku celana abu-abu SMA-nya. "Lo ngapain dekat-dekat sama dia?"
"Ya gue dekat sama siapa pun yang gue maulah. Siapa lo, ngatur-ngatur?"
"Temannya abang lo. Nggak enak juga gue sama ibu lo, kalau sampai lo kenapa-kenapa gara-gara Ramon, tapi guenya nggak cegah, padahal gue tahu busuknya Ramon gimana."
Aksel mengernyit. "Busuk kenapa?"
"Gue nggak tahu ini benar apa enggak. Tapi, ada rumor kalau dia nge-drugs," ujar Hizraka dengan pelan. "Dia dari dulu juga suka main cewek. Kerjaannya clubbing tiap minggu. Minum-minum. Menantang diri sendiri ke tempat pelacuran. Begolah pokoknya."
"Kenapa bego?"
"Ya begolah. Masa iya, gue perlu ngingetin lo lagi betapa bahayanya narkoba? Nyokap lo pasti udah sering ngingetin, kan? Emangnya lo nggak pernah nonton berita, apa?"
"Bukan itu, Kak. Maksud gue, kenapa main cewek dianggap bego, gitu. Kan, cuma main. Ya kayak kita-kita ini kan, lagi 'main'."
Hizraka terdiam agak lama, kemudian tertawa terbahak-bahak. "Polos amat sih, lo!" serunya sambil tertawa memegangi perut. "Sel, gue kasih tahu. Main cewek itu maksudnya lo sama cewek itu ngeseks. Seks, oke? Bersetubuh. Berhubungan seksual. Atau bahasa paling halusnya, 'berhubungan suami istri'."
Aksel mengerjap. "Lah, apa hubungannya sama kata 'main'?"
Hizraka tertawa lagi. "Ntar lo juga tahu."
"Lah, gue tahu kok, seks itu apa. Yang gue tanya itu, kenapa dikonotasikan dengan kata 'main cewek'?" tanya Aksel.
Hizraka mendengus tertawa. "Lo tahu kan, playboy itu maksudnya cowok player yang suka mainin perasaan cewek? Ya itu maksudnya mainin cewek, kadang bisa sampai mainin tubuh mereka."
Aksel manggut-manggut. Jelas tidak tahu bahwa kelak di masa depan, dia sendirilah yang akan menyandang gelar playboy itu.
"Zraka," panggil lelaki dari belakang Aksel. Pemuda itu menoleh, melihat sosok Mahesa yang mendekatinya serta Hizraka. "Sama Aksel ternyata. Kau dicari dari tadi sama Nolan di kelas."
"Oh, ntar gue ke sana." Hizraka beralih kepada Aksel. "Sel. Lo emang bisa bergaul sama siapa pun yang lo mau. Tapi, hati-hati aja. Karena lo nggak benar-benar tahu orang itu temenan sama lo tulus, atau cuma mau ngajak orang lain berbuat kerusakan biar nggak sendirian."
Aksel manggut-manggut. "Iya, Kak."
"Ya udah, gue cabut dulu," ujar Hizraka, lalu berjalan bersama Mahesa ke kelas mereka di lantai dua.
Sementara itu, Aksel memikirkan ulang perkataan Hizraka. Setelah berhari-hari mengenal Ramon, Aksel sadar bahwa Hizraka memang benar. Ramon memakai narkoba, 'main cewek', serta suka clubbing dan minum-minum alkohol. Namun, satu hal yang tak Hizraka tahu. Ramon-lah yang membuka mata Aksel lebih lebar akan sisi lain dunia yang dia tinggali.
[ ].
KAMU SEDANG MEMBACA
Deklasifikasi | ✓
Romantik[Seri Disiden #3] Sebab banyak yang bilang, seorang eligible bachelor yang suka main perempuan seperti Aksel akan berubah begitu menemukan perempuan yang tepat untuk mereka. Copyright: All Right Reserved 2017 by Crowdstroia
