6 : Iseng :

65.8K 8.2K 552
                                        

6

: i s e n g :


2004



 Aksel sebenarnya hanya iseng.

Pada hari ketiga di Lombok, dia iseng berjalan-jalan sore ke sekitar kelurahan tempat rumah Hizraka bernaung. Di tengah jalan, dia melihat dua orang bapak-bapak sedang serius main catur sambil minum kopi, dan di kursi tengah ada seorang anak kecil mengamati jalannya pertandingan sambil minum susu kotak. Tergerak oleh insting, Aksel pun mendatangi kedua bapak-bapak itu dan turut mengamati jalannya permainan.

Aksel sudah sering bermain catur sejak kecil. Main catur hanya hobi, sebenarnya. Sekalian untuk menemani sang ayah menghabiskan waktu di kala senggang sambil menunggu ibunya selesai masak. Aksel suka berinteraksi dengan banyak orang. Menemukan suasana dan orang-orang baru seperti ini membuat energinya terasa lebih besar, lebih hidup. Itulah kenapa ketika melihat kedua orang tua yang bermain catur barusan, kemudian melihat salah satunya berhasil dikalahkan, Aksel dengan semangat dan percaya diri berkata, "Wah, Pak! Bapak jago juga. Main sama saya dong, Pak!"

Gunter, lelaki yang menang main catur itu menatap Aksel dengan tatapan keras, terlihat kurang ramah dengan orang asing yang terlihat ingin sok kenal. Namun alih-alih mengabulkan keinginan Aksel, dia justru berkata, "Main sama Virga saja kau, bujang."

Aksel mengernyit. "Virga siapa?"

"Ini," tunjuk Gunter ke arah sosok gadis kecil yang duduk di kursi antara kursi Gunter dengan lawan mainnya barusan.

Mengetahui dirinya diminta bertanding dengan anak-anak, Aksel pun merasa terhina. "Bapak minta saya main masak-masakan sama anak kecil?"

"Bukanlah, bujang." Gunter mengganti posisi duduknya dengan Virga. Dia mempersilakan Aksel duduk di kursi lawan yang tadi sudah pergi, kemudian melanjutkan, "Kau tanding sini sama Virga. Kalau Virga kalah, baru aku mau tanding sama kau."

Aksel mendengus, ingin tertawa. Suruh tanding sama anak kecil begini? Yang benar aja, batin Aksel. "Bapak ngehina saya? Sampai-sampai bikin saya kudu tanding sama dedek-dedek?"

Gunter mengangkat alis. "Tak usahlah kau banyak cakap. Coba kau kalahkan Virga dulu. Kalau memang kau pandai main catur, aku mau tanding sama kau."

Aksel menyipitkan mata. Yakin dia bisa mengalahkan gadis kecil di depannya dalam sekejap. Dia pun duduk dan mulai menyusun bidaknya.

Gunter mengamati jalannya permainan dengan santai. "Siapa nama kau, bujang?"

"Aksel, Pak," jawab Aksel. "Bapak siapa namanya?"

"Gunter," jawab lelaki paruh baya itu. "Kau kawan si anak diplomat itu, kan? Kenapa malah kemari sendirian, tak sama mereka?"

"Saya bosan di rumah." Aksel mengernyit. Memutar otak karena bidak rajanya mulai terancam direbut. Dia akui, anak kecil di depannya ini lihai bermain.

Gunter mengangguk. Dan seperti dugaannya, Aksel kalah tak sampai lima belas menit bermain.

Tanding ulang dilakukan hanya untuk mengetahui kekalahan Aksel yang kedua kalinya terjadi. Aksel pun juga sebenarnya hanya iseng ingin bermain catur. Tak dia sangka anak kecil yang tanding dengannya ternyata pandai bermain. Virga kecil menarik minatnya karena Aksel ingin tahu apa yang gadis kecil itu lakukan tiap harinya hingga pandai menciptakan strategi. Itulah kenapa Aksel penasaran, ingin bertemu lagi.

Keesokan paginya, karena rumah Hizraka dan rumah nenek Virga tetanggan, Aksel kembali bertemu dengan Virga yang tengah menyiram tanaman di depan rumahnya.

Deklasifikasi | ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang