Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

30 : Luka :

55K 6.5K 1.3K
                                        

Chapter 31 itu chapter terakhir.

Dari semua komen, yang bisa nebak akhir cerita ini cuma satu orang. Gue sampe kaget hahaha.

EH BTW, buat yang penasaran kelanjutan kisah Tante Varsha sama Om Regen, jangan lupa masukkin "Arkais" ke library ya.

-;-

30

: l u k a :


2018



Mereka duduk bersebelahan. Sama-sama menatap lantai.

Mendesah, Bara mengenggam kedua tangannya. Menunduk, memejamkan mata. Di sampingnya, Leia mengelus punggungnya. Ingin membuatnya lebih tenang.

Sudah empat jam berlalu dari dia menginjakkan rumah sakit. Beberapa jam lalu, masih di pelaminan dan menyalami kolega ayahnya, mendadak ada keributan di luar ballroom dan kabar bahwa adiknya pingsan tertabrak troli. Troli tersebut jatuh, menumpahkan minyak yang kemudian menjadi penyulut ketika ada lilin menyala yang jatuh. Sang pelayan dikatakan sebagai karyawan baru. Pelayan yang mendorong troli berkata bahwa saat awal pengecekkan, lilin aromaterapi yang dibawa memiliki api lebih besar dari biasanya. Sehingga dengan asumsi bahwa besar apinya dapat menjadi normal seperti besar api lilin aromaterapi yang biasa dipakai, lilin tersebut sengaja dinyalakan ketika dibawa menuju salah satu kamar tujuan, dan yang membawa jelas sudah berjalan dengan hati-hati. Tak ada yang menyangka bahwa ada pria yang berlari tanpa tedeng aling-aling lihat kanan-kiri, menyebabkan troli itu tertabrak, terjatuh dan apinya menyebar. Beruntung penyelamatan cepat dilakukan, sehingga api itu tak menyebar ke tempat-tempat lain. Setelah diselidiki, ada kemungkinan cacat produksi dari lilin itu. Pernikahan yang dilaksanakan pun bubar karena ternyata yang pria yang mengalami kejadian itu adalah adik dari sang mempelai pria.

Usai mendapat kabar duka itu, Bara, Leia, serta yang lain pun ikut mengantar Aksel ke rumah sakit. Sudah beberapa jam terlewati. Kedua mempelai kini sudah berganti baju dan menunggu Aksel sadar di dalam kamar rawat inap.

Bara menghembuskan napas kasar, memijat pangkal hidungnya. Dia meraih tangan Leia yang mengelusnya, lantas menatap istrinya itu. "Maaf karena nikahan kita malah jadi kacau, Lei."

Leia tersenyum, mengelus tangan Bara. "Nggak apa-apa, Mas. Namanya juga kecelakaan, nggak ada yang bisa prediksi."

Bara menarik napas lagi. Sungguh, dia merasa bersalah. Satu hal yang dia syukuri adalah beruntung dia sudah menjalani ijab kabul tadi pagi dan acara resepsi pun sudah hampir di penghujung acara.

Bara menatap ibunya yang duduk di samping ranjang Aksel. Ayahnya berdiri di samping ibunya sambil mengelus-elus pundak istrinya itu. Bara menarik napas lagi. Dari semua hal, dia paling tidak tega melihat orangtuanya terlihat sedih seperti ini. Dia sudah pernah melihat Aksel sehabis baku hantam entah dengan siapa dan meninggalkan luka atau bengkak di wajah. Rima sebagai ibu mereka jelas berlaku sebagai sosok ibu yang akan ada ketika anaknya butuh. Wajah yang ditampakkan Rima kini lebih terlihat tertekan dibanding saat dulu mengetahui kelakuan Aksel kepada banyak perempuan. 

Pandangan Bara turun ke lantai. Tangan istrinya pun dia elus lagi untuk mencari ketenangan.

Bara teringat lagi dengan satu jam sebelum ini, waktu setelah dokter menyatakan Aksel sudah berada dalam kondisi aman. Saat itu, Virga datang dan meminta maaf kepada Rima dan yang lain atas kondisi Aksel. Gadis itu menangis, benar-benar tidak menyangka bahwa kejadiannya akan berakhir seperti ini. Rima memeluknya dan setelah dibujuk beberapa kali, Virga pun menceritakan kronologis kejadian hingga Aksel mengalami kecelakaan ini.

Deklasifikasi | ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang