3. Apakah kau orang yang sama?

658 77 3
                                        

July, 10th 20XX
Hatiku pun berawan!
Ini bukan impian, ini sebuah harapan!

Hari ini cuaca sangat cerah dibandingkan kemarin. Ini bukan soal teru-teru bouzu yang dipasang orang-orang Jepan untuk menangkal hujan. Ini juga bukan soal sesaji yang digunakan nenek moyang yang berharap hujan reda agar mereka dapat kembali bekerja.

Berbeda dengan cuaca, hati Taehyung merasa mendung. Terakhir kali ini merasa sangat bahagia adalah bulan lalu ketika mereka dipantai. Setelah itu, Namjoon tidak mengizinkannya bolos maupun izin dari sekolah karena dibulan November ia harus melaksanakan ujian.

Dan kali ini, ia benar-benar kacau. Suara dan ocehan gurunya didepan sama sekali tidak menarik perhatiannya. Ia memikirkan Jimin. Sekarang Jimin sudah akan berangkat ke China setelah mengurus semuannya dan Namjoon tidak mengizinkannya mengantar saudara kembarnya.

"Yak! Kim Taehyung kau mendengarku?"

Taehyung tersentak ketika mendengar suara seonsaengnim menyebut namanya.

"Jeongmal mianhaeyo, seonsaengnim"

"Bisakah kau jelaskan apa yang kujelaskan?"

...Broederschap...

Jimin menyeret kopernya ditemani Namjoon dan Seokjin. Hatinya sakit, seperti yang Taehyung rasakan. Namun, ia mencoba baik-baik saja. Seperti air sungai yang tetap mengalir meski ia menabrak batu besar.

"Jiminie, tolong cek rutin kesehatanmu. Kabari eomma jika ada masalah, Eomma akan pergi kesana"

Jimin mengangguk. Tujuan utamanya memang bukan untuk mengambil beasiswa itu.

"Ne, eomma. Gwaenchana"

"Jangan mengatakan hal itu sambil tersenyum"

Penyakit Jimin ini sangat langka. Terlalu langka sehingga Jimin takut kehilangan segalanya didunia. Tiga tahun lalu, ketika usia lima belas tahun, dokter mencurigai penyakitnya dan dua tahun lalu, dokter benar-benar mengatakan bahwa Jimin mengidap penyakit Creutzfeldt-Jakob. Penyakit yang masih belum ditemukan obatnya.

Gejala-gejala awalnya memang ringan, seperti kehilangan ingatan atau demensia, postur tubuh menjadi kaku, mudah gelisah dan ketakutan, dll. Semua ini benar-benar mengubur keinginan Jimin untuk menjadi dancer dan berhenti dance.

Luhan sempat memberitahu Dokter Jimin bahwa di China ada seorang dokter yang mau merawat Jimin ketika semua dokter di Korea angkat tangan. Itulah yang membuat Key setuju jika Jimin pergi ke China dan Jimin sendiri tidak ingin Taehyung melihatnya menderita.

"Eomma, Appa tolong sampaikan salamku pada Taehyung. Aku berangkat"

"Hati-hati, jaga dirimu nak"

Jimin melangkah meninggalkan sepasang suami-istri itu. Ia hanya berharap semuanya akan baik-baik saja.

...Broederschap...

Pesawat akan berangkat lima menit lagi. Beberapa penumpang sudah hampir terisi penuh. Ya, karena bangku sebelah Jimin masih kosong saat ini.

"Permisi, ah... nomor 12"

Yeoja dengan jaket hitamnya itu segera duduk disamping Jimin. Bagaimana bisa penumpang ini terlambat.

"Ah... aku lupa jas labku. Biarkan saja deh, toh nanti aku bisa beli lagi"

Yeoja itu menatap jendela pesawat dan mengetukkan jarinya dikaca, "Aku akan merindukan tanah airku"

Jimin tidak peduli dengan yeoja aneh nan tidak disiplin itu. Namun, majalah-majalah disana tidak semenarik yeoja yang ada disampingnya.

Broederschap [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang