5.Kau harus menghadapi resikomu

476 61 4
                                        

August, 21st 20XX
Kita punya waktu untuk menyesal.

Suara gemercik hujan seolah-olah menumbuhkan nada-nada baru. Beberapa orang sibuk berjalan menggunakan payung mereka. Melangkah dengan mudahnya melewati hari-hari mereka.

Yeoja berpakaian putih itu mendekat. Derap kakinya juga semakin cepat. Entahlah, perasaan sesal ini juga melekat.

"Jimin? Kau kedatangan tamu"

Untuk kesekian kalinya, Jimin tidak peduli dengan yeoja itu. Yeoja yang selalu mengaturnya, melarangnya, dan juga merawatnya di China. Min Yoongi.

Jimin diam. Tidak peduli hingga ia mendengar suara derap kaki yang lain.

"Jimin!"

Suara yang begitu familiar dan memedihkan hati benar-benar membuat hatinya teriris. Jimin tidak berani menatap pemilik suara itu.

"Jimin, Kau mendengarku?"

Pemilik suara itu menoleh ke arah Yoongi seakan-akan memastikan bahwa Jimin belum sepenuhnya kehilangan pendengarannya.

"Maafkan aku"

Air hujan seolah-olah sudah mematikan rasa peduli dan pendengaran Jimin. Kakinya sudah mulai tidak dapat bergerak bebas. Ya, Jimin hanya bisa duduk dikursi roda

"Mereka sudah mengatakan semuanya. Kau tidak perlu takut kehilangan masa depanmu. Kau punya aku. Aku bisa membangunkanmu masa depan yang tinggi"

"Berhentilah!"

"Park Jimin, dengarkan aku!"

"Margaku Kim!"

Irene meneteskan air matanya. Seharusnya setelah pernikahan Seokjin dan Namjoon, ia membawa kedua anaknya bersamanya. Namun, ia justru tidak pernah lagi menemui anak-anaknya itu dan memilih hidup di China bersama Bogum.

"Jimin.."

"Jangan panggil namaku!"

"Aku eommamu, Jim"

"Kau bukan eommaku, Jin eomma adalah eommaku"

Irene menyerah. Sebulan lamanya, Irene dan Bogum sudah mengurus semua perubahan marga pada ijazah dan semua baru saja selesai. Seokjin dan Namjoon tidak apa-apa, toh kandungan Seokjin sudah memasuki lima bulan. Mereka berdua tidak akan sendirian.

Irene melangkahkan kakinya keluar dari kamar pasien. Menenangkan dirinya diluar sana.

Yoongi mendekat dan berjongkok didepan Jimin. Menatap mata Jimin yang dipenuhi kekhawatiran.

"Hei, besok aku akan ke Korea. Kau tidak ingin menitipkan sesuatu padaku?" tanya Yoongi sambil menyenggol lengan Jimin.

"Aku ingin pulang"

"Kau ingin bertahan atau menyerah?"

"Aku masih ingin bertahan"

"Ambillah kesempatanmu dari Irene-ssi. Yakinkan dirimu, jika kau masih ingin bertahan"

"Maksudmu?"

"Seorang ibu pasti tidak akan pernah membenci dan meninggalkan anaknya. Dia pasti punya alasan untuk itu"

Jimin terdiam. Untuk sekian kalinya, Jimin juga selalu merasa ia adalah namja paling beruntung yang bisa mengenal Min Yoongi.

"Noona, Gomawo"

Yoongi tersenyum. Entahlah, selama ia mengenal Jimin hatinya selalu menghangat. Sikap dinginnya selama ini tiba-tiba menghilang begitu saja.

"Kau tidak menitipkan sesuatu padaku?"

Broederschap [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang