Seokjin kembali mengedarkan pandangannya. Lukisan usang dan beberapa lemari kayu antik tersusun rapi menghiasi ruangan itu.
Seokjin memegang kepalanya ketika ia mencoba duduk. Ini bukan rumah sakit. Ini juga bukan klinik. Ini juga bukan Cafe Baekhyun.
'Aku ada dimana?' batin Seokjin sambil memegangi kepalanya.
Suara ketukan pintu, spontan membuat Seokjin menoleh ke sumber suara. Seorang yeoja manis itu datang sambil membawa sebuah nampan berisi bubur dan segelas air. Yeoja itu tersenyum dan menyapa Seokjin lembut.
"Annyeong haseyo, Kim Sana-imnida"
"Terima kasih"
Sana tersenyum dan meletakkan nampan itu dinakas sebelah tempat tidur. "Apakah anda baik-baik saja?"
"Sedikit. Sebenarnya saya ada dimana?"
"Rumah saya"
"Anakku? Dimana anakku?"
Sana mengerutkan dahinya. Namun, kemudian tersenyum dengan anggunnya. "Kim Taehyung?"
Seokjin mengangguk sembari berharap anak kakak iparnya itu tidak meninggalkannya.
"Dia ada dikamarnya. Badannya panas, tidak apa-apa. Saya akan merawatnya, kondisi tubuh anda masih sangat tidak baik. Lebih baik beristirahatlah"
...Broederschap...
"Jimim demam"
Salah satu perawat segera melangkah keluar ruangan Min Yoongi, dokter penanggung jawab Kim--- Park Jimin. Yoongi hanya diam dan mengacak rambutnya frustasi.
Hari ini rencananya, ia akan mengambil cuti 3 hari untuk kembali ke Korea. Sekedar mengunjungi Taehyung mungkin dan berusaha berbaikan. Namun, semua persiapannya sia-sia. Min Luhan dan Min Sehun benar-benar tidak mengizinkannya pergi sebelum kondisi Jimin membaik. Betapa sial dirinya!
Yoongi melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya menuju ruangan milik Jimin. Pasien VIP-nya itu terlihat benar-benar kesakitan. Entahlah, mungkin dia sedikit stres dengan terapi-terapi.
"Jim"
Sang pemilik nama belum memejamkan matanya dengan sempurna, ia menolehkan kepalanya kearah Yoongi. Yang dilihat hanya tersenyum dan duduk dibangku sebelah ranjang pasien.
"Noona, aku benar-benar lelah. Rasanya sakit sekali, bahkan kepalaku seolah mau pecah", rengek Jimin dengan mata merahnya itu.
"Ada apa? Kau punya banyak pikiran? Aku sudah bilang kan, banyak pikiran akan membuatmu lebih cepat kehilangan ingatan"
"Aku tidak tau, rasanya dadaku juga ikut sesak"
Air mata Jimin menetes. Mengalir lembut dipermukaan pipinya.
"Tidak, Jim. Kamu harus bertahan! Jika kondisimu semakin menurun, kemungkinan besar kau akan kehilangan hal-hal berharga"
"Segitu bencikah Tuhan padaku?"
Yoongi terdiam. Ia tidak tau harus menanggapi ucapan Jimin dengan apapun.
"Tuhan benar-benar tidak adil, Noona! Dia membuatku menderita sejak kecil! Aku benci! Mengapa Tuhan menciptakanku jika ia menyiksaku? Mengapa, Noona!"
Yoongi tau, ia bahkan tidak bisa bertindak apa-apa. Yoongi tau bahwa ia benar-benar dokter yang gagal. Yoongi benci ini. Yoongi benci dengan dirinya yang lemah dan pengecut seperti ini.
"Noona, aku ingin bertemu Taehyung. Aku merindukannya. Aku rindu eomma, appa, Jungkook, Seulgi. Aku merindukan mereka"
Tetes demi tetes air mata Jimin terjatuh. Menghiasi wajah tampannya itu. Begitu menyakitkan bagi Yoongi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Broederschap [COMPLETED]
Fanfiction"Kita bahkan tidak terlihat seperti saudara" "Lalu!? Kau---" "Aku akan mengakhirinya. Jangan menyerah tentang apapun. Kau memiliki segalanya" ●●● Dalam diriku, aku tidak ingin kehilangan semua milikku. Aku memang egois, terutama mengenaimu. Kita sam...
![Broederschap [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/125837481-64-k955894.jpg)