Cuaca sedang buruk sekarang. Beberapa para penumpang menghela nafas panjang dan menggerutu karena jadwal penerbangan mereka harus delay selama dua jam.
Seorang namja tampan itu justru bernafas lega. Pesawatnya terhindar dari badai yang dimulai sejak 20 menit yang lalu dan berhasil mendarat dengan selamat. Ia melirik sang bayu yang semakin gelap dan mendengar gemuruh yang cukup memecah keheningan.
Detak jantungnya tak beraturan. Ia gugup. Bagaimana jika ia tersesat? Bagaimana jika ia akan tertimpa hal buruk?
Ia segera memeriksa handphone-nya. Mengeceknya dengan sangat teliti. Dengan percaya diri, dia memasukkan handphone-nya ke saku dan berjalan keluar bandara dengan segera.
Seperti biasa, Beijing bukanlah kota yang anti padat. Justru Beijing sangat padat dikondisi seperti ini.
"Hei, Yoongi. Beruntung pesawatnya delay 2 jam, jadi imo tidak terlambat. Kau bisa jaga Jimin kan? Tolong ya!"
Suara yang paling namja itu benci itu justru baru saja terdengar ditelinganya. Ia segera menoleh pada seorang yeoja bergaun merah yang baru saja lewat disampingnya.
'Ternyata benar, dia lebih memilih Jimin' batin Taehyung sembari kembali berjalan menghindari hujan yang mulai turun dengan elegannya.
...Broederschap...
Irene menoleh ke arah belakang setelah ia mematikan sambungan teleponnya dengan Yoongi. Tanpa peduli lagi, ia justru berjalan masuk ke bandara tanpa memastikan apa yang membuat ia penasaran tadi.
...Broederschap...
Namjoon mengeluh dan merutuki kesalahannya lagi. Seokjin berusaha menenangkan namja itu karena mereka sudah saling meminta maaf atas semua tingkah kekanakan mereka tanpa peduli dengan perasaan Taehyung. Dan justru sekarang mereka kehilangan namja berharga itu.
Jungkook bilang bahwa Taehyung pergi dan kemungkinan ia tidak kembali ke Cafe milik Baekhyun lagi. Sayangnya kebodohan dan kepolosan Jungkook malah menambah masalah baru di keluarga Kim. Chanyeol dan Baekhyun berkali-kali memohon maaf pada Namjoon dan Seokjin karena keteledoran putri kecilnya itu.
"Sekarang bagaimana, Oppa?"
Seokjin benar-benar ingin menangis sekarang. Ia tidak mau kehilangan seseorang lagi. Cukup Tuhan mengambil bayinya.
"Kita cari pelan-pelan. Kamu juga belum makan kan? Ayo cari tempat makan dulu!"
Dengan tampang tak berdosa Seokjin memukul kepala Namjoon, "Bagaimana kalau Taehyung belum makan diluar sana? Tega sekali kau!"
"Sayang, tapi kondisimu masih sangat kurang baik. Kau perlu banyak nutrisi, sayang"
"Masa bodo dengan diriku!"
"Hei sayang, dengarkan aku" Namjoon menarik bahu Seokjin agar istri cantiknya itu mau mendengarkannya, "Aku sudah kehilangan anakku, aku juga baru saja kehilangan uri-taehyung. Jangan bilang kau juga mau meninggalkanku sendirian sehingga aku terlarut dalam semua kesalahanku. Kali ini aku mohon padamu, tolong pentingkan kondisimu sendiri. Aku akan mencari Taehyung, kau makan dan istirahat bersama Baekhhyun-noona ya"
Namjoon merapikan rambutnya dan kemejanya. Ia harus memperbaiki semuanya sekarang.
"Perkiraan hari ini hujan deras, Joon. Jangan lupa bawa payung dibelakang pintu," ujar Chanyeol.
"Gomawo, hyung!"
Tanpa menunggu lama, Namjoon merih payung dibelakang pintu dan pergi meninggalkan Cafe milik Baekhyun.
Ia menarik nafas panjang. Menyusuri jalanan yang kini kian ramai dengan orang-orang yang sibuk mementingkan kepentingannya masing-masing.
...Broederschap...
Taehyung menatap sebuah bangunan besar yang ada dihadapannya. Ia meneguk salivanya kasar untuk mengurangi kegugupannya.
"Ini benar, alamat Min Yoongi itu. Tapi, kok sepi sekali?"
Ya, Taehyung mendapat alamatnya dari Jungkook. Ia tidak berniat marah pada Yoongi mengenai masalah Jungkook yang terdahulu. Ia hanya ingin meminta tolong agar ia dapat bertemu dengan kembarannya dan meminta kejelasan mengenai hubungan persaudaraan mereka.
Perlahan-lahan, Taehyung menekan tombol bel rumah megah itu. Suara jawaban terdengar dari dalam rumah.
Sosok paruh baya yang masih terlihat awet muda itu tersenyum sambil membuka pintu. "Ah.. Taehyung"
Taehyung hanya mengerutkan dahinya heran. Mengapa yeoja paruh baya itu mengenalnya? Ah.. mungkin Yoongi menceritakan dirinya pada orang tuanya. Namun, mengapa yeoja paruh baya ini berbahasa korea lancar sekali?
"Masuk. Kau mencari siapa? Yoongi? Dia masih kerja jam segini. Kamu bisa istirahat sebentar"
"Ah.. gamsahamida"
Yeoja paruh baya itu meletakkan sebuah teko dan dua buah gelas dihadapan Taehyung. Taehyung hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan menunduk berterima kasih.
"Jadi, Taehyung mau kuliah dimana? China?"
"Masih belum saya tentukan"
"Aduh,,, makin ganteng ya kamu. Imo jadi gemas lihatnya"
"Ah.. terima kasih"
Taehyung menormalkan jantungnya yang gugup. Apakah dulu Taehyung pernah bertemu yeoja ini?
Yeoja paruh baya itu tersenyum melihat tingkah canggung Taehyung. "Tae, mau lihat album masa kecil Yoongi tidak?"
"Ah... bolehkah?"
Yeoja itu mengangguk.
'Apa jangan-jangan yeoja ini menganggapku sebagai namjachingu Yoongi?' batin Taehyung sambil meneguk salivanya kasar.
Yeoja paruh baya itu tersenyum sambil menyerahkan sebuah album foto besar ke arah Taehyung. Taehyung menerimanya dengan canggung. Membuka lembar demi lembar. Dan fotonya? Mengapa banyak sekali fotonya dan Jimin disana?
Melihat kebingungan dari wajah Taehyung, yeoja itu terkekeh. "Kalian itu teman semasa kecil. Kau pasti lupa. Oh iya.. pasti kamu juga lupa nama imo. Panggil saja Luhan imo seperti waktu kecil"
Taehyung tersenyum. Rasa canggungnya sedikit menghilang dan membawa kelegaan hati. Setidaknya, ada orang yang menganggapnya ada didunia ini.
"Waktu kecil kau lucu sekali, merengek meminta cacing untuk dimakan, menghabiskan chesse cake buatan Jin, bahkan berebut Jungkook dengan Jimin hingga akhirnya Jimin mengalah dan memilih bermain bersama Yoongi. Padahal kupikir, Kau yang akan berkencan dengan Jungkook. Tapi tidak apa, toh kalian berdua tidak canggung kan?"
"Ne, imo"
Luhan terkekeh, "Lalu sebenarnya apa tujuanmu datang ke Beijing, Tae?"
"Ah.. aku ingin menemui Jimin"
"Benar juga. Mungkin ini saatnya kamu tau semuanya. Kamu juga punya kesempatan mendengarkan apa yang terjadi. Tapi, lebih baik kamu istirahat dulu saja dikamar tamu. Nanti imo akan menyuruh Yoongi mengantarkanmu menemui Jimin"
"Ah.. aku bisa menemuinya sendiri jika imo mau memberikan alamatnya"
"Aku tidak yakin Yoongi akan membiarkanmu pergi sendiri. Sudahlah istirahatlah, imo akan menghubungi Yoongi, oke?"
"Baiklah. Terima kasih imo"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Broederschap [COMPLETED]
Fanfiction"Kita bahkan tidak terlihat seperti saudara" "Lalu!? Kau---" "Aku akan mengakhirinya. Jangan menyerah tentang apapun. Kau memiliki segalanya" ●●● Dalam diriku, aku tidak ingin kehilangan semua milikku. Aku memang egois, terutama mengenaimu. Kita sam...
![Broederschap [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/125837481-64-k955894.jpg)