Jimin diam menatap langit-langit ruangannya. Pelukan hangat dari sang saudara kembar masih melekat hingga membuatnya merasa hangat.
Bibirnya menyungging hingga membentuk senyuman yang pahit. Semua perkataan Taehyung dan semua perbuatan cukup menampar dirinya. Ia tau diri. Namja tampan ini tau diri. Tidak ada orang yang kecewa jika dibohongi oleh orang-orang disekitarnya. Dan Jimin menyesali itu.
Yoongi masih berada disampingnya. Ia tak berani mengatakan apapun atau sekedar memberi hiburan bagi Jimin. Ia tau diri, bahwa ia tidak boleh ikut campur dalam masalah ini. Ini bukan masalahnya.
Beberapa suster memasuki ruangan Jimin. Memeriksa keadaan namja yang terbaring lemah tak berdaya itu.
"Tuan Park, anda tidak boleh terlalu stress karena dapat membuat syaraf menegang dan melumpuhkannya"
Park. Ia bahwa baru sadar bahwa marganya sudah berganti. Bahkan ia tidak bisa menanyakan pada saudara kembarnya itu mengenai perubahan marga mereka. Ah.. tidak HANYA MARGANYA yang berubah.
Jimin hanya mengangguk menanggapi ucapan suster itu. Ia tersenyum ramah sembari memikirkan mengenai Taehyung. Mengenai saudara sedarahnya yang memutuskan hubungan mereka. Mereka sudah tidak memiliki hubungan persaudaraan lagi. Ya, Park Jimin dan Kim Taehyung memutuskan untuk berjalan ke arah yang berbeda tanpa menoleh ke arah belakang.
Egois memang, jika Jimin ingin semuanya tetap berjalan seperti dahulu dengan Taehyung disampingnya. Tidak tahu bahwa dihati kecil saudaranya itu menyimpan rasa kecewa pada orang-orang disekitarnya termasuk dirinya. Jimin sadar diri. Oleh karena itu, ia rela melepas Taehyung. Ia rela melepas ingatannya tentang Taehyung. Taehyung benar, ia tidak perlu khawatir. Ia memiliki segalanya.
...Broederschap...
Taehyung berjalan menelusuri jalanan Beijing yang asing baginya. Ia bersyukur mengenai apapun yang menimpa dirinya. Ia merasa bahwa ia tidak dianggap karena memang Jimin lebih membutuhkan mereka. Mungkin mereka merasa bahwa Taehyung adalah sosok yang kuat.
Taehyung berpikir positif mengenai apapun. Kematian sang ayah, penelantaran sang ibu, kematian keponakannya, penyakit Jimin, rusaknya hubungannya dengan Jungkook, pertemuannya dengan Sana, bahkan rasa benci Namjoon waktu lampau.
Taehyung sadar bahwa masing-masing itu mengingatkan namja itu bahwa kita tidak selalu hidup bahagia didunia yang kejam ini. Namja itu percaya bahwa skenario ini sudah dibuat oleh Tuhan. Tidak ada gunanya ia menyesal ataupun kecewa lagi. Ia hanya perlu menguatkan dirinya kan?
Tangannya dingin akibat musim dingin membuatnya memasukkan kedua tangannya pada saku blazer miliknya. Tanpa sengaja menyentuh sebuah benda persegi yang membuatnya merasa harus menghubungi orang penting dihidupnya, Sana.
Tangannya menyentuh beberapa digit nomor dan menghubunginya.
'Yeob--'
"Hai, aku akan kembali besok. Bisakah kau menjemputku dibandara?"
'Tentu saja. Ah.. kau yakin akan pulang besok? Kurasa keluarga akan pergi ke China besok untuk menjemputmu'
"Aku tak punya keluarga. Aku hanya punya dirimu saat ini"
'Yak! Apa yang kau katakan?'
"Terima kasih"
'Untuk?'
"Menjadi rumahku pulang"
Tanpa menunggu jawaban dari seberang. Taehyung memutuskannya secara sepihak. Mematikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku.
Namja itu tersenyum dan kembali berjalan sembari menikmati udara malam yang semakin dingin.
'Kim Junmyeon, apakah kau ada dipihakku?' batin Taehyung dengan perasaannya yang kacau.
Jika Jimin ingin melupakan segalanya. Maka, Taehyung tidak akan melupakan saat-saat Jimin berada disampingnya untuk menghabiskan waktu bersama. Ia ingin belajar dari semua yang terjadi dan telah terjadi.
...Broederschap...
Chanyeol, Baekhyun, Jungkook, Seokjin, Namjoon, dan Irene sedang berada dalam perjalanan ke China. Begitu Luhan menelepon Irene mereka segera memesan tiket untuk kesana. Mereka sadar bahwa terlambat untuk semuanya. Mereka yakin skenario mereka terbongkar dihadapan Taehyung hari ini.
Alasan yang tepat adalah mereka ingin menjelaskan semua pada Jimin dan Taehyung. Namun, tanpa mereka ketahui, hubungan sepasang anak kembar itu sudah rusak.
Jika kalian membaca, siapakah biang masalah sebenarnya?
Sejujurnya Irene tidak bermaksud menelantarkan mereka sewaktu kecil. Kabar meninggalnya Kim Junmyeon membuatnya stress karena saat itu ia melahirkan dua bocah kembar. Ia berniat menitipkan Kim Jimin dan Kim Taehyung pada Namjoon selagi ia mencari penyebab kecelakaan pesawat yang dialami suaminya itu. Namun, ia justru menikah dengan pengusaha kaya bernama Park Bogum. Jujur saja, hubungan mereka awalnya tidak berdasarkan cinta. Bogum perlu pasangan untuk menghindari pertunangannya dengan mantan kekasihnya dan Irene menyetujuinya dengan syarat Bogum mau membantu mencari penyebab kematian suaminya. Bogum menyanggupi itu dan meminta Irene tinggal bersama di China.
Sayangnya penyebab kecelakaan pesawat yang merenggut Kim Junmyeon masih belum ditemukan selama bertahun-tahun dan jasadnya masih belum ditemukan. Itulah alasan Irene tidak berani pulang ke Korea hanya sekedar bertegur sapa dengan keluarga Kim dan anaknya.
Irene juga tidak bermaksud hanya menganggap Jimin saja yang menjadi anaknya. Melihat kondisi Jimin seperti itu, membuatnya merasa bersalah. Ia mengurus segalanya agar masa depan Jimin terjamin meskipun kondisinya sangat buruk. Sedangkan Taehyung, ia masih belum siap bertemu namja yang hampir menyerupai suaminya itu. Namun, ia sudah merencanakan pergantian marga untuk Taehyung. Sekarang semua terlambat. Rahasia mengenai penyakit Jimin sudah terbongkar. Ia bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Taehyung ketika mengetahui semua kedok mereka.
"Unnie, semua akan baik-baik saja," ucap Seokjin sembari mengusap punggung Irene agar tidak panik.
Namjoon mendesah kecewa. Rasa bersalah menyelimutinya dengan sangat kuat. Kekerasaan dan cacian yang pernah ia lontarakan pada Taehyung menghantuinya. Namun, Namjoon tidak bersalah saat itu. Siapa orang tua yang tidak panik ketika mengetahui calon anaknya yang akan lahir meninggal begitu saja. Bahkan seseorang bisa gila karena kehilangan anaknya.
Jujur saja, dalam cerita ini tidak ada yang bersalah. Sudah sewajarnya manusia hidup dengan ego tinggi masing-masing. Sudah sewajarnya manusia hidup dengan berlebihan dalam bertindak. Semua itu benar-benar perbuatan yang sering dilakukan manusia dan itu sangatlah wajar.
Dunia ini sangat kejam, kau tidak akan pernah bisa merasa sangat sempurna didunia ini. Namun, demua bisa diatasi dengan rasa bersyukur untuk hidup dan menjalani apa adanya. Sayangnya, manusia tidak pernah menyadari kelebihan mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Broederschap [COMPLETED]
Fanfiction"Kita bahkan tidak terlihat seperti saudara" "Lalu!? Kau---" "Aku akan mengakhirinya. Jangan menyerah tentang apapun. Kau memiliki segalanya" ●●● Dalam diriku, aku tidak ingin kehilangan semua milikku. Aku memang egois, terutama mengenaimu. Kita sam...
![Broederschap [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/125837481-64-k955894.jpg)