9. STIGMA [2]

440 58 5
                                        

September, 14th 20XX
Mengulang kesalahan yang sama.

Suasana berciri khas putih serta aroma parfum yang nyaman itu membuat Seokjin perlahan membuka matanya. Ia menyadari perutnya tidak lagi sebesar dulu. Dimana anaknya?

Seokjin mengedarkan pandangannya. Namun, ruangan bernuansa putih nampak kosong tanpa ada siapapun. Tanpa harus menunggu kepastian, Seokjin menekan tombol merah didekat nakas. Seorang dokter dan dua suster segera masuk kedalam ruangan itu.

"Anda sud---"

"Kemana anakku?"

Sang dokter meneguk ludahnya kasar. Ia juga tidak tau bagaimana caranya menjelaskan tentang itu pada pasiennya.

"Maaf--- tapi bayi anda tidak bisa diselamatkan lagi. Benturan pada perut anda memang tidak parah dan beruntung bukan anda yang terkena ranting pohon tajam disekitar lokasi. Mungkin jika itu terjadi kalian tidak akan ada yang selamat"

"Kau mengatakan bahwa aku kehilangan bayiku?"

Dokter dan kedua suster itu nampak mengangguk dan memandangnya prihatin.

"Harusnya kalian selamatkan bayiku! Aku tidak peduli meski harus mati sekalipun"

"Maaf, tapi hanya kondisi adalah yang masih bisa kami selamatkan saat itu"

"Dimana Taehyung? Dimana pahlawan kecilku itu? Dia pasti juga terluka"

Seokjin mulai gila rasanya. Ia sama sekali tidak bisa menemukan sosok Taehyung disekitarnya. Cairan bening terkutuk itu mulai mengalir lembut diwajah cantik Seokjin.

"Pertemukan kami! Dia baik-baik saja, bukan?"

Sang dokter menghela nafas panjang, "Kemarin kami sudah berusaha mengobatinya. Namun, dia menolak. Ia ingin diobati setelah melihat kondisimu baik-baik saja. Namun, setelah operasi kami sama sekali tidak menemukan Taehyung itu di wilayah rumah sakit"

"Aku harus menemukannya, Aku harus bertemu dengannya. Dia anakku!"

Seokjin berusaha untuk berdiri keluar untuk mencari anaknya. Mencari pahlawan kecilnya. Mencari kerapuhan hatinya. Ia boleh kehilangan anak kandungnya. Tapi biarkan ia memiliki namja tak berdosa itu.

Sang dokter dan para suster itu sudah melarang Seokjin. Namun, Seokjin bersikeras ingin mencari anaknya.

"Jangan kekanak-kanakan, Seokjin!"

Suara Namjoon berhasil membuat Dokter dan suster itu pamit meninggalkan pasutri itu menyelesaikan masalahnya.

"Aku hanya ingin menemui Taehyung"

"ANAK ITU BAHKAN TIDAK BISA MENJAGAMU DAN BAYIKU!"

Seokjin terdiam. Bisa-bisanya orang yang ia cintai itu mengucapkan hal yang paling tidak ingin ia dengar. Hatinya teriris.

"Apa maksudmu?"

"Kau terluka sayang. Kita kehilangan bayi kita yang sudah kita dambakan. Dia tidak bisa menjagamu"

"Apa katamu? Dia tidak bisa menjagaku? Kau gila!"

Namjoon terdiam mendengar ucapan kasar dari bibir istri kesayangannya.

"Jika dia tidak bisa menjagaku, maka bagaimana denganmu? Apa kau menjagaku?"

Cairan bening itu kembali menetes. Namjoon berniat menghapusnya dan langsung ditepis kasar oleh Seokjin.

"Dia pasti terluka! Pertemukan aku dengan Taehyung! Aku harus mengobatinya"

Seokjin berusaha menerobos Namjoon. Namun, ditahan. Seokjin menoleh dan menatap manik yang selama itu menemani harinya.

Broederschap [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang