Desingan angin serta deru mesin mobil yang mengentak, sontak membuat wanita berambut silver tampak menggandeng tangan batita berusia dua tahun di halam peternakan. Kening wanita pendek itu mengerut.
"Mau ke mana mereka subuh-subuh begini?" tanya wanita yang langsung mengedik bahu. "Terserah saja. Mungkin cari udara sejuk."
Suara menguap di bawahnya bikin wanita menunduk. "Ody antuk," katanya sambil mengucek mata.
"Ody tidak mengasyikkan," cibir wanita itu. "Pagi-pagi begini enaknya jalan-jalan agar otot kuat."
"Totot?" Cloudy memiringkan kepala sembari mendongak.
Wanita itu mengangguk. "Iya, otot." Kemudian memerlihatkan gunung di lengannya yang tiba-tiba berurat. "Seperti ini. Luar biasa, kan?" bangganya.
Uluran tangan kecil menyentuh daging berurat di lengan wanita itu. "Uuuh, eyas. Aunt elen," kagumnya.
"Tentu," katanya sembari mengibaskan rambut silver-nya.
Sebelum keduanya kembali bercakap, Adora menyela mereka. "Ayo, masuk. Bibi menyiapkan sup jagung untuk Cloudy dan dirimu, Jelice."
Jelice Alfonso. Wanita superior. Bisa apa saja dalam melatih dirinya. Bela diri yang digelutinya serta perlengkapan dalam mempertahankan sesuatu. Inilah Jelice Alfonso. Atau disapa akrab, Jelice Alfonso Takamura.
"Kita masuk," ajak Jelice menggandeng Cloudy. Namun, tatkala mengalihkan ke jalan raya yang berdebu. "Sebenarnya mereka sedang apa? Apa mereka tidak termakan usilanku?" tebaknya berpikir dalam-dalam.
"Alice!"
"Berisik, Adora. Kamu semakin banyak bicara," rutuk Jelice kesal.
***
Mobil sedan merah telah sampai di rumah sakit daerah ini. Satu-satunya rumah sakit terdekat walau jarak tempuh mencapai tujuh kilometer. Kecepatan mobil Reon hampir memasuki angka yang fantastis. Untung bisa teratasi berkat pengejaran polisi jaga lalu lintas.
Reon meminta Gio untuk menangani polisi tersebut, sedangkan dia menuntaskan administrasi setelah mendapat pertolongan.
Sandy tengah bekerja sedang berada di lingkaran para suster, terkejut ketika mendapati Reon tampak berusaha tidak panik. Rona muka terlihat khawatir berlebihan, membuat Sandy mengalihkan ke brangkar.
"Cloudy? Callila?"
Bergegas, Sandy menghampiri ketiga orang itu. Diamati kondisi fisik keduanya yang kini terbaring. Dengan sentuhan di dada dari jari telunjuk, menandakan Cloudy dan Cally membutuhkan penanganan cepat.
"Suster Zaira," panggil Sandy mengagetkan Reon. "Tolong bawa keponakan saya ke IGD."
"Kenapa hanya Cally?" Reon tak menduga Sandy berani melewati Cloudy. "Anakku bagaimana?"
"Tenang, Nak," hibur Sandy. "Cloudy akan baik-baik saja." Sandy menatap suster yang tersisa. "Bawa cucu saya ke ruang rawat. Biar saya menangani kesehatannya."
Para suster segera mematuhi perintah dokter Sandy yang sangat berpengaruh di rumah sakit ini. Tanpa meminta persetujuan Reon, para suster mendorong brangkar Cally menuju IGD.
Setelah pegawai-pegawainya pergi, Sandy menengok. "Reon, ada yang ingin saya katakan."
Reon yang mewanti-wanti penjelasan dokter Sandy sambil menanti Gio, lekas mengikuti jejak Sandy menuju ruangannya. Tak apa jika Gio mencarinya, karena Reon sudah berpesan pada suster.
***
Di ruang tamu, Marinka menggigit kuku jari. Dia terlihat gusar kala menangkap dua tubuh yang nyaris kehilangan nyawa. Kejadian itu menimpa otaknya yang tak bisa jernih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Good Time ✔️
General FictionCloudy Alfonso. Bayi berusia dua tahun berjenis kelamin laki-laki, penyuka bebek. Sama dengan Gio, Cloudy sangat menyayangi Reon apa pun kondisinya meski bayi aktif itu sering mengisengi wanita-wanita ayahnya. Iseng pertanda penolakan. Di balik it...
