Ratih : Gue hitung sampai sepuluh. Kalau lo nggak keluar, gue tinggal.
WA dari Ratih memaksa Delon menyudahi upaya mempertampan diri di depan cermin yang sudah berlangsung tak kurang dari tiga puluh menit. Ia menyambar jaket jins yang tersampir di kursi meja belajar, lalu buru-buru memakainya sambil berlari keluar. Terengah-engah, Delon meraih handle pintu kemudi sedan putih yang terparkir di depan pintu gerbang rumahnya.
"Lo mau ngapain?" hadang Ratih.
"Gue yang nyetir."
"Ah, kelamaan. Udah, duduk di belakang aja!"
"Tapi, kan ...."
"Delon, beneran mau ditinggal, ya?" Suara Alea selalu ampuh membuat Delon tidak berkutik. Ia bergegas masuk ke mobil.
Mobil itu langsung melesat dengan tarikan gas awal yang agak kasar. Delon yang belum sempurna pada posisi duduknya langsung terhuyung.
"Woe, pelan-pelan, dong!" protesnya.
"Gagal, deh, dapat tempat duduk paling depan," rutuk Alea.
"Gara-gara Si Cebol, tuh."
"Iya, maaf. Perasaan janjiannya jam tiga, deh. Ini, kan, masih kurang 30 menit."
"Kenapa lo nggak bareng Gilang aja, sih?" Ratih terus mengomel. Ia memang selalu naik darah bila berhadapan dengan Delon.
"Gilang bareng tim dari penerbit. Masa gue nyempil di sana, sih?"
"Katanya sepupu?" Lagi-lagi Ratih memperdengarkan nada kebangsaannya, me-ra-gu-kan.
"Eh, Miss Drama, saudara kembar aja nggak harus selalu sama-sama, apalagi cuma sepupu?"
Kali ini Alea tak berselera menengahi. Biarkan saja sampai salah satunya mengibarkan bendera putih. Meski hal itu tidak akan terjadi.
Ia memilih mengenyakkan punggung di sandaran jok lalu memasang earphone dan memutar lagu "Say You Won't Let Go" milik James Arthur. Setelah memasuki bait pertama, ia meluncur ke Wattpad, lagi-lagi membaca puisi Gilang yang sebagian bahkan sudah ia hafal di luar kepala. Fakta bahwa beberapa menit lagi ia bisa melihat penulisnya secara langsung, membuat senyum Alea merumpun, abai pada suara perdebatan Delon dan Ratih yang masih terdengar sesayup.
Mal yang dituju ketiga remaja itu memang selalu ramai, terlebih hari ini. Ratusan orang yang didominasi ABG cewek sudah memadati pelataran sebuah toko buku yang menjadi lokasi Meet and Greet Gilang kali ini.
"Yah, jauh banget," keluh Alea sambil memandangi berlapis-lapis saf manusia di depannya. Tumpuan pandang mereka adalah panggung kecil yang dilapisi karpet merah di depan sana, dengan background foto selfie Gilang bersama buku perdananya. Kekesalan Alea karena gagal dapat tempat duduk paling depan sejenak terlupakan saat menatap foto Gilang di sana. Masih dengan senyuman khasnya, senyum miring ke kiri yang justru terlihat sangat pas di wajahnya.
Kesadaran Alea kembali ketika Ratih meremas lengannya agak kencang. "Sumpah, benar-benar mirip Song Joong Ki," gemas Ratih.
Alea lekas membebaskan lengannya. "Sakit, tahu!"
"Terus, orangnya mana?"
"Kok, jadi lo yang nggak sabaran? Baca puisinya aja nggak pernah," sewot Alea, lalu duduk melantai seperti yang lain.
Ratih turut duduk sambil tetap mengawasi panggung. Ia benar-benar tidak ingin melewatkan momen kemunculan Gilang.
"Gara-gara kelamaan nungguin Si Cebol, nih, jadinya nggak bisa lihat Gilang dari dekat." Akhirnya serangan yang sedari tadi dirisaukan Delon meluncur juga dari mulut Ratih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rahasia Idola [TERBIT]
Teen Fiction📖 Sudah diterbitkan oleh BPI dengan judul "My Real Boy". Tersedia di Gramedia, bisa juga beli online di Tokopedia atau aplikasi berbelanja lainnya 📖 Bagi Alea, tak ada yang lebih membahagiakan ketika membaca puisi-puisi Gilang. Cewek itu pun kaget...
![Rahasia Idola [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/108615640-64-k841729.jpg)