3 - Anak Baru

987 177 84
                                        

Alea meluruskan punggung setelah mengkhatamkan novel yang harus di-review-nya minggu ini. Ia meraih ponsel di sisi bantal. Tanpa peduli dengan tumpukan notifikasi dari berbagai sosial media, ia langsung buka Wattpad, mana tahu ada puisi terbaru Gilang yang ia lewatkan.

Ternyata belum ada pembaruan sejak sore tadi. Kendati demikian, ia tetap berlama-lama di sana, mencecap kembali puisi-puisi kemarin yang selalu terasa baru untuknya. Selesai membaca dua-tiga puisi, tatapannya beralih ke tubuhnya sendiri yang dilapisi kaus bertandatangan Gilang. Senyumnya seketika mengembang, ada bahagia yang menyusup.

Ia membuka galeri foto dan menemukan satu-satunya foto bersama Gilang yang diambil tadi sore. Ah, harusnya bisa ada dua-tiga foto, dan posenya tidak sekaku ini, rutuknya dalam hati. Sedetik kemudian ia kembali tersenyum. Yang satu ini juga sudah sangat spesial. Tiba-tiba rasa ingin berterima kasih meluap di benaknya. Ia memang sempat berterima kasih secara langsung tadi, tapi di tengah kebisingan suara-suara iri penggemar yang lain, sepertinya Gilang kurang menyimak.

Alea bermaksud mengirimi Gilang DM, ia sudah mengetiknya malah, ketika kembali berpikir untuk benar-benar mengirimnya atau tidak. Dalam sekali tarikan napas panjang, akhirnya jempolnya mengetuk ikon send dan cepat-cepat menyelipkan ponselnya di bawah bantal. Jantungnya mendadak bekerja lebih cepat dari biasanya, dan ia gelisah bukan main.

Alea meraih kembali ponselnya setelah bergetar, dan langsung menemukan pesan balasan dari Gilang.

Gilang : Sama-sama.

Balasan itu disertai smile emoticon. Tangan dan kaki Alea seketika menghentak asal tak keruan saking senangnya. Ia tak menyangka Gilang akan merespons pesannya secepat itu, mengingat pasti banyak sekali fans yang mengiriminya DM.

Alea menghentikan celebration-nya setelah menyadari satu hal, ia wajib pamer sama kedua sahabatnya.

Alea : Gila, Gilang bales DM gw.

Teks itu langsung meluncur ke WA Delon dan Ratih.

Delon : So?

Alea : Ah, lo nggak asyik!

Tidak ada lagi balasan dari Delon. Kalau sama Ratih pasti jadi panjang urusannya. Tapi, tumben memasuki menit kelima, Miss Drama itu belum juga merespons.

***

Alea sedang mengikat tali sepatunya ketika panggilan Ratih menggetarkan ponselnya. Ia mengeluarkan benda persegi gepeng itu lalu menjepitnya di telinga dengan pundak.

"Halo, Rat."

"Gue nggak bisa masuk, nih, lagi kurang enak badan. Lo minta jemput sama Delon aja, ya!"

"Oh, oke. Cepat sembuh, ya."

"Oh ya, chat lo semalam baru gue baca tadi. Jadi apa kata Gilang? Kalian ngomongin apa aja?"

Alea memutar bola mata. Padahal lagi sakit, tapi masih saja kepo. "Nggak usah ngomongin itu dulu. Udah jam berapa ini, takut telat." Alea memutus sambungan telepon. Ia beralih menelepon Delon.

"Lo di mana?" tanyanya langsung begitu Delon menyahut di seberang sana.

"Masih di jalan."

"Belum lewat rumah gue, kan?"

"Belum. Kenapa?"

"Ratih nggak bisa masuk hari ini. Gue nebeng sama lo, ya!"

"Siap!"

Entah kapan cowok itu tidak bilang "siap" setiap kali Alea minta tolong. Meski tak pernah diungkapkan terang-terangan, Alea sangat bersyukur memiliki sahabat seperti Delon dan Ratih, yang bisa ia jadikan tempat pelampiasan apa pun. Sikap saling mengerti serta tidak mudah tersinggung yang membuat persahabatan mereka awet sejauh ini, sejak tahun pertama masa putih abu-abu.

Rahasia Idola [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang