Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

7 - Belum Bisa Lebih

657 108 25
                                        

Gilang mengenali sedan hijau yang terparkir di pinggir jalan depan rumah keluarga Delon, mobil Aira. Cewek itu pasti datang mencarinya. Gilang belum sekali pun menceritakan soal kepindahannya ke rumah ini, tapi bukan hal baru jika Aira gampang melacak keberadaannya.

Berawal dari kekaguman saat menyaksikan aksi Gilang di lapangan basket saat PORSENI di tahun kedua, Aira mulai mencari tahu apa-apa soal cowok bermata sipit itu. Selaku model yang diberkahi wajah cantik, Aira tahu betul bagaimana tampil menarik di setiap kesempatan. Berbekal semua itu, dengan mudah ia bisa mendekati teman-teman Gilang untuk mengorek informasi.

Aira tak butuh waktu lama untuk mengantongi banyak hal yang dirasa cukup untuk mengenal Gilang lebih jauh. Kecuali soal kegemarannya menulis puisi, ia baru tahu setelah Gilang menelurkan buku perdananya beberapa bulan yang lalu. Hal itu seolah menegaskan, bahwa ia belum benar-benar berhasil memasuki kehidupan Gilang.

Gilang tak pernah menepis pertemanan yang ditawarkan Aira. Siapa yang tidak senang berteman dengan cewek sepopuler Aira? Hanya saja Gilang mulai jaga jarak ketika Aira tampak menginginkan lebih. Terlebih saat ia benar-benar memintanya di awal semester ganjil tahun ketiga.

Tidak ada yang salah dengan Aira. Cowok mana pun pasti akan tertarik ketika ia memasang senyum simpul dengan sepasang mata bulat yang benar-benar hidup. Termasuk Gilang sebenarnya. Hanya saja untuk menjalin hubungan yang pernah diminta Aira, entah kenapa, Gilang belum merasa klik.

Gilang melangkah masuk setelah memarkir mobil di garasi. Dari ruang tamu ia bisa mendengar suara-suara akrab yang sesekali diselingi tawa sedang mengobrol entah apa di ruang tengah--suara Aira dan Tante Maya. Yang benar saja mereka langsung seakrab itu?

Setibanya di ambang pintu ruang tengah, Gilang melihat Aira dan Tante Maya duduk di sofa panjang dan benar-benar terlihat akrab. Sedang Delon berbaring hanya beralaskan karpet bulu di depan tivi. Tante Maya dengan antusias menunjukkan album koleksi resep kue keringnya. Aira yang memang juga hobi bikin kue, menyimak tak kalah antusias.

Naluri ingin memiliki anak perempuan lagi-lagi tampak jelas dari gerak-gerik Maya saat berinteraksi dengan Aira. Di usia pernikahannya yang sudah 21 tahun, Tuhan belum juga memercayakannya merawat bayi perempuan. Kakak Delon laki-laki, meninggal di usia 14 tahun karena leukimia. Adik Delon lagi-lagi laki-laki, bocah kelas enam SD yang sangat sulit ditemukan di rumah di jam segini.

Keseruan dua perempuan beda generasi itu terjeda saat menyadari kehadiran Gilang.

"Eh, Gilang. Kamu sudah pulang rupanya. Saking serunya ngobrol sama Aira, Tante sampai nggak dengar suara mobil kamu." Maya menutup album resepnya lalu menyelipkannya di bawah meja.

Sadar Gilang sudah pulang, Delon langsung bangkit menghampirinya.

"Lo sama Alea mampir ke mana dulu? Kok, baru nyampe rumah?"

Gilang mengernyit menerima todongan dari Delon. Ia bahkan belum bergeser dari ambang pintu.

"Gue lihat Alea masuk ke mobil lo," terang Delon seolah paham ekspresi Gilang.

"Lo mata-matain gue?"

"Yaelah, cuma nggak sengaja lihat."

Sekarang Gilang paham, Delon tidak benar-benar nonton tivi tadi, tapi sedang menunggunya. Lagian tumben jam segini ia turun ke ruang tivi, biasanya juga di kamar lantai atas, sibuk dengan laptopnya.

"Gue nggak mau lo cuma mainin Alea." Delon memelankan suaranya, tapi memastikan Gilang masih bisa mendengarnya dengan jelas.

"Maksud lo?"

"Tuh, permaisuri lo dari tadi nungguin."

Sekilas Gilang menatap Aira, permaisuri yang dimaksudkan Delon. Cewek itu masih mengenakan seragam sekolah. Pasti dari sekolah langsung ke sini.

Rahasia Idola [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang