Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

4 - Gara-Gara Cowok

796 153 117
                                        

"Halo, Rat." Alea baru saja turun dari angkot ketika Ratih meneleponnya.

"Lo lagi di mana, kok, banyak suara kendaraan?"

"Gue baru tiba di mal tempat biasa kita jalan. Gue mesti nyari beberapa properti buat keperluan konsep foto-foto baru."

"Kebetulan banget. Gue nitip beliin bukunya Gilang, ya!"

"Lo serius mau pedekate sama Gilang?"

"Alea sayang, Gilang itu satu-satunya Song Joong Ki versi Indonesia, masa iya gue anggurin?"

Alea hanya memutar bola mata.

"Pokoknya, kalau lo nggak beliin, gue nyuri punya lo."

"Iyya!" tegas Alea, lalu memutus sambungan telepon.

***

"Jadi selama ini, lo belum punya buku gue?" Suara barusan dari arah samping, tepat ketika tangan kanan Alea meraih salah satu buku puisi bersampul merah dari rak yang dipasangi header "Best Seller".

"Gilang?" Mulai sekarang sepertinya Alea harus belajar memasang tampang biasa saja setiap kali Gilang ada di dekatnya. Terlebih untuk kemunculan tak terduga seperti sekarang. "Ini titipan teman," imbuhnya dengan kekikukan luar biasa kental.

Gilang hanya ber-o panjang tanpa suara.

"Lo ngapain di sini?" Sial. Pertanyaan bodoh macam apa itu? jelas-jelas ini tempat umum. Alea beralih pura-pura sibuk memilih buku.

"Jalan-jalan aja, sih."

Sejenak tak ada yang bersuara. Gilang mengikuti gerak Alea yang bergeser perlahan-lahan sambil mengamati deretan buku di rak di depannya.

"Lo tahu, nggak, sampai sekarang terkadang gue masih belum percaya kalau buku yang sampulnya bertuliskan nama gue sudah beredar di toko buku seluruh Indonesia. Memandangnya langsung terpajang di sana, ada kebahagiaan yang tak bisa dirangkai dengan kata-kata. Ini tentang mimpi yang terwujud secara ajaib." Gilang berucap sambil menoleh ke arah rak buku-bukunya terpajang, yang sudah mereka tinggalkan beberapa langkah.

Alea sadar, ucapan barusan rasanya terlalu dalam untuk diucapkan ke orang yang baru dikenal. Sepertinya Gilang sedang berusaha mengakrabkan diri.

"Pada dasarnya semua mimpi berhak untuk terwujud. Dan lo sudah bertanggung jawab atas mimpi itu."

"Baru sebagian kecil, masih banyak mimpi-mimpi selanjutnya." Tatapan Gilang beralih dari jejeran buku ke manik mata Alea.

"Tetap lakukan yang terbaik, seperti yang lo lakuin selama ini."

"Lo sendiri, punya mimpi apa?" Mereka kembali melangkah, kali ini berdampingan.

"Simpel, sih. Sekolah tinggi-tinggi, lulus dengan nilai memuaskan, dapat kerja sesuai passion yang menghasilkan uang banyak, ketemu pangeran tampan, terus nikah, punya anak, dan hidup bahagia selamanya." Alea berucap sepanjang itu tanpa sekali pun menoleh ke cowok di sampingnya.

"Kayaknya lo cocok nulis dongeng, deh!"

Alea tergelak. Meski sesaat, tapi itulah pertama kalinya Gilang mendengar tawa Alea. Sungguh renyah dan sukses membuat dadanya berdesir.

"Habis ini mau ke mana lagi?" tanya Gilang saat mereka tiba di meja kasir.

"Mau langsung pulang, sih."

"Kita nggak makan dulu atau apa ... gitu? Mumpung telanjur ketemu di sini, loh."

"Lain kali aja, Lang! Utang review gue numpuk, nih. Ini juga dipaksain keluar karena ada properti yang harus dibeli demi memperindah tampilan feed." Alea tersenyum lebar di ujung kalimatnya.

Rahasia Idola [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang