(Bagian Tujuh)

2K 119 3
                                        

Sinar matahari masuk melalui celah jendela kamar pengantin baru itu. Hawa dingin menyelimuti keduanya yang masih bergelut di dalam selimut tebal.

"Ai bangun, Kita jangan sampai melewatkan waktu qiyamul lail." Alif menepuk pipi Maria dengan penuh kelembutan.

"Masya Allah mas, maaf Maria ketiduran."

"Tidak masalah Ai, ini semua sepenuhnya salah mas. Mas yakin kamu pasti kelelahan karena semalem kan?"

Pipi chubby Maria bersemu merah karena mengingat kejadian semalam. Padahal dirinya sekarang utuh milik suaminya. Tapi Maria masih merasa malu dan canggung bila harus berdekatan dengan suaminya ini.

"Mas mandi dulu, biar Maria yang siapkan baju dan air hangatnya."

"Tapi mas maunya mandi bareng," Alif mencoba menggodanya.

"Mas Alif ih, udah gede mandi bareng. Mesum Ah"

"Tapi kamu suka kan??"

"Eng-enggak"

"Cie blushing cie, istri siapa sih"

"Istrinya orang"

"Oh gitu, yaudah mas mau cari wanita baruvyang mau jadi istri buat mas."

"Mas aliifffffff!!!!"

Alif segera masuk ke kamar mandi sebelum Maria mencak-mencak tak karuan karena ulahnya. Menggoda Maria menjadi hobi baru baginya. Dan hubungan yang terjalin dengan halal akan terasa indah. Hubungan dengan berlandaskan agama, dan hubungan ini menjadi penyempurna agama.

*****

Maria dan Alif tiba di Rumah pukul delapan malam. Mereka memutuskan untuk pindah hari ini setelah berdebat kecil. Kemacetan ibu kota memang begitu luar biasa. Mereka terjebak macet hampir dua jam sejak keluar dari tol. Ditambah hujan yang cukup deras mengguyur ibu kota.

Setelah tiba di Rumah Alif, Mereka masuk dan di sambut oleh pembantu yang sangat ramah. Rumah besar bergaya eropa ini Alif beli sebagai hadiah pernikahannya dengan Maria.

"Ini beneran rumah kamu mas?" Tanya Maria ragu.

"Emang kamu kira ini Rumah siapa hmm?"

"Ishhh mas gitu ih, Maria tanya kenapa mas balik nyanya"

"Hehehehe, ini rumah aku, kamu dan anak-anak kita kelak sayang"

"Tapi mas, Rumah kita terlalu besar dan menurut Maria ini terlalu berlebihan. Maria pikir kita bakal pulang ke Rumah abi yang di pesantren."

"Mas pengen berduaan sama kamu sayang, kalo di rumah abi kan pastinya banyak santri."

"Alasan yang tidak logis"

Alif tertawa, Maria balas tertawa. Malam itu keduanya merasa bahagia. Masih banyak tangga kehidupan yang perlu mereka lewati bersama. Hidup tidak melulu selalu bahagia. Akan ada masanya Allah memberi cobaan dan ujian bagi hamba-Nya yang dirasa mampu. Tapi Maria bersyukur, karena Allah memilihkan imam yang hampir sempurna walaupun tak sesempurna nabi Muhammad. Cukup akhlaq dan imanlah yang Maria inginkan dari seorang Alif.

Keesokannya, Alif mengajak Maria jogging keliling kompleks. Maria yang awalnya menolak kini harus pasrah mengikuti keinginan suaminya.

"Mas, masa iya Maria jogging pakek gamis sama cadar gini? Ga mau ah!!! Maria di rumah aja."

"Ayolah Ai, di kompleks ini banyak cewek genit, masa iya kamu rela suamimu yang ganteng mirip miller khan ini digodain sama mbak-mbak genit."

"Mas ah, kalo urusan memaksa selalu saja menang. iya Maria ikut!!"

"Ah!! Istri pintar"

"Aisshhh mas ga usah lebay gitu deh. Ini Maria pakek baju apa? Pakek gamis atau rok?"

"Mas udah siapin semuanya sayang, sekalian nanti kita mampir ke warung tukang bubur buat sarapan."

Alif menyiapkan kaos abu-abu lengan panjang dan celana rok khusus wanita syar'i serta khimar hitam dan cadarnya.

Setelah bersiap-siap keduanya memulai jogging pagi dengan di temani sebotol air putih sebagai penghilang dahaga.

Maria sangat cantik mengenakan pakaian yang Alif pilihkan. Alif merasa bersyukur karena Allah menjadikan Maria pendamping hidup sekaligus pelengkap agamanya. Dengan Maria Alif merasa damai walaupun belum sepenuhnya ia menyerakan hatinya untuk Maria. Jauh dalam hatinya Alif masih menyimpan perasaan untuk seseorang. Seseorang yang terlebih dahulu berhasil merebut hati Alif. Seseorang yang terlebih dahulu mematahkan tanpa sempat ia jalin.

"Mas Alif" maria menepuk pundak Alif pelan.

"Eh-iya Ai, kamu capek?"

"Enggak mas! Maria pikir mas Alif yang capek, soalnya dari tadi mas ngelamun terus."

"Maaf mas gagal fokus. Masih mau lanjut??"

"Ayo! Siapa takut."

Mereka pun berjogging sambil tertawa bahagia. Satu lagi yang Alif lupakan, ternyata alif tertinggal jauh dari Maria. Ternyata istrinya itu jago dalam hal berlari. Dan Alif berjanji akan belajar mencintai Maria walaupun cintanya akan membuat Maria terluka.

.

.

.

.

.

.

.

Say hello buat kalian yang udah mau baca MSB. Ceritanya makin ngawur kan. Maaf yah, ini masih dalam tahap pembelajaran. Ada salahnya mohon di maklumi. Dan updatenya bakal lama soalnya banyak tugas. Kalo nih cerita udah end, insya Allah bakal aku revisi. Setelah di revisi harapannya naik cetak,Aamiin. Semoga kalian suka yah(ga maksa)
....

Udah dulu cuap-cuapnya, author kesel ngetiknya nih!!! :v

Kalo ada yang mau tau visual(pemerannya) MSB silakan koment di bawah!!! Eit jangan lupa tekan tanda bintang buat penyemangat :D

Salam RA ♥

Menggapai Surga Bersamamu (ON GOING)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang