(Bagian Tiga)

2.2K 107 2
                                        

Tiupan angin berhembus kencang menerbangkan khimar Maria. Sudah dua bulan ia mondok dan meninggalkan keluarga tercinta. Ia begitu merindukan abi dan uminya.

"Assalamualaikum ning, " salah satu teman sekamar maria mengucapkan salam.

" Waalaikumussalam aunty. "

" Maria sekarang waktunya moraja'ah, ingat sebentar lagi ustadz Ali masuk kelas. Gih buruan kamu ganti baju dulu. "

"Masya allah aunty, na'am aku lupa. Syukron kastiron auntyku, ana segera siap-siap."

Zahra hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu. Hampir setiap hari Zahra mengingatkan jadwal muroja'ah kepada Maria. Zahra faham betul apa yang sedang dipikirkan oleh Maria. Maria sangat merindukan kedua orang tuanya.

Maria segera memakai setelan dress berwarna peach. Dan tak lupa Maria mengenakan cadar.
Sudah menjadi syarat di pondoknya untuk memakai cadar bagi santri perempuan.

Setelah siap, Maria dan Zahra bergegas menuju Masjid tempat yang biasanya digunakan untuk muroja'ah. Keduanya merasa tidak enak hati karena sudah terlambat masuk kelas.

Ustadz Ali hanya bisa memakluminya. Keduanya merupakan santri sekaligus sepasang sahabat yang sangat cerdas.

Ar rahman
'Allamal qur'an
Khalaqal insan
'Allamahul bayaan
Asy syamsu wal qamaru bihusbaan
Wan najmu wasy syajaru yasjudaan
Was samaa'arafa'aha wa wada'al mizaan
Allaa tatgau fil mizan
Wa aqimul wazna bil qisti wa laa tukhsirul mizaan
Wal arda wada'ahaa lil aanam
Fiihaa faakihatuw wan nakhlu zaatul akmam
Wal habbu zul 'asfi war raihaan
Fabiayyi'alaa irabbikumaa tukazziban .

Suara Maria begitu indah mengalun ditelinga. Semua santri merinding mendengarkan suara Maria. Begitupun dengan ustadz Ali yang sangat menikmati indahnya suara Maria.

"Shodaqallahhul'adzim." Maria menutup muraja'ahnya.

Semua bertepuk tangan setelah Maria selesai muroja'ah. Maria heran dengan teman-temannya. Ia merasa tidak memenangkan sesuatu. Kenapa musti bertepuk tangan, batinnya.

Kelas muroja'ah pun berakhir setelah ustadz Ali membacakan doa. Semua santri berhambur keluar memasuki asrama masing-masing.

Maria dan Zahra berjalan beriringan sambil memegang mushafnya. Zahra bercerita tentang kenapa semua temannya bertepuk tangan setelah Maria bermuroja'ah.

"Subnallah Maria suaramu indah sekali," puji Zahra.

"Fisik itu titipan dan suara adalah anugrah. Ada juga dikatakan sebagai ujian." Jelas Maria.

"Kenapa bisa jadi ujian?"

"Karena kita bisa menjadi sombong dengan anugrah yang Allah berikan kepada kita."

"Masya Allah kamu bener banget, tak jarang sekali sekarang banyak wanita yang ingin dipuji kecantikannya. Dan itu menimbulkan kesombongan dalam dirinya masing-masing."

"Nah itu sudah tau. Kita sebagai muslimah wajib hukumnya menundukkan pandangan. Jangan suka dipuji, karena semua ini hanya titipan."

"Kamu semakin dewasa Maria."

Mereka berdua tertawa bersama. Persahabatan mereka di landasi dengan kekuatan iman. Saling mengingatkan dan saling membantu. Itulah prinsip persahabatan.

To be continue




Menggapai Surga Bersamamu (ON GOING)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang