"Suho!" Ratu membuyarkan lamunan Pangeran.
Seketika Pangeran terkejut.
"Hari ini jangan pulang larut."
Pangeran menatap ibunya dengan bingung. "Mengapa?"
"Malam ini ada pesta ulang tahun Duke Xellz yang ke delapan puluh. Ia mengharapkan kita hadir," jawab Raja.
"Aku tidak ingin engkau tidak hadir," Ratu menekankan, "Kudengar Duke mengundang pula keluarga Bae Horthrouth. Dulu engkau tidak dapat bertemu dengan putri bungsu mereka. Kali ini aku ingin engkau bertemu dengannya."
"Benarkah itu?" Raja tidak percaya, "Aku sangat berharap bertemu dengan gadis itu. Aku tidak dapat melupakan janjiku pada Luna."
"Kesempatan ini sangat baik. Jangan kau sia-siakan. Kita jarang diundang ke pesta yang sama dengan ketujuh gadis cantik itu. Engkau akan melihat betapa cantiknya mereka ketika para Pelangi itu berjajar bersama."
Pangeran muak mendengar pembicaraan ini. "Aku tidak mau hadir!"
"Engkau harus!" Ratu balik membentak. "Engkau harus memikirkan tahta kerajaan ini. Ingat engkau sudah..."
"Aku selesai!" Pangeran meletakkan sendoknya dengan jengkel.
Tanpa perlu diberitahu berulang-ulang, ia sudah tahu tahun ini ia telah berusia dua puluh lima dan sudah waktunya ia menikah. Ia juga tahu ia harus menikah untuk meneruskan tahta kerajaan.
Pangeran melangkah dengan kesal ke pintu.
"JANGAN PULANG TERLAMBAT!" seruan Ratu terdengar ketika Pangeran melangkah di koridor luar.
Pangeran menggerutu.
.
.
Kebahagiaannya hari ini rusak sudah karena ulah Ratu.
Semula ia sangat gembira karena akhirnya gadis itu mau diajak pergi olehnya dan hanya berdua. Keberhasilan ini tidak didapatnya dengan mudah.
Untuk dapat mengajak gadis itu Suster yang paling dihormati gadis itu di Popolo, sampai ikut membujuk.
Pangeran sudah mencoba membujuk gadis itu untuk mau berjalan-jalan hanya dengannya tetapi ia tidak mau.
"Tidak, Pangeran. Saya tidak bisa. Masih banyak yang harus saya lakukan di sini," katanya menolak ajakan Pangeran.
"Saya melihat Anda telah banyak bekerja di sini. Setiap saat saya melihat selalu ada yang Anda kerjakan. Anda beristirahat sehari tentu tidak masalah."
"Sejujurnya saya tidak senang mengatakan ini, Pangeran," kata gadis itu, "Andai saya tidak membantu para suster akan kerepotan mengurus anak-anak ini. Untuk itulah saya berada di sini. Sekali lagi maaf, saya tidak bisa pergi dengan Anda."
"Apakah tunangan Anda marah bila ada pria yang mengajak Anda pergi?" Hati Pangeran pedih membayangkan gadis itu bersama pria lain. Bila ia menjadi tunangan gadis cantik ini, ia pasti akan sangat cemburu bila gadis ini pergi bersama pria lain.
Gadis itu menatap Pangeran. "Saya belum bertunangan dengan pria manapun," katanya. "Tidak ada yang melarang saya pergi bersama siapapun yang saya sukai."
"Lalu mengapa Anda tidak mau pergi bersama saya?"
Gadis itu tidak menjawab. Ia menatap Pangeran dengan lembut seperti suaranya, "Sekali lagi, Pangeran. Saya sangat berterima kasih atas ajakan Anda tetapi saya benar-benar tidak bisa pergi."
Pangeran sudah hampir putus asa mengajak gadis itu ketika Suster tiba-tiba muncul dan berkata, "Pangeran benar, Nona. Anda telah melakukan banyak hal untuk kami. Kami tidak bisa terus menerus membuat Anda membantu kami. Anda juga perlu beristirahat. Terimalah ajakan Pangeran."

KAMU SEDANG MEMBACA
Gadis Hari Ketujuh (Surene)
FanfictionFF ini adalah hasil Remake dari novel dengan judul yang sama karya Sherls Astrella. Terdapat beberapa perubahan nama atau yang lainnya sesuai dengan kebutuhan cerita. . . . private pada chapter tertentu.