chapter 18

443 59 4
                                    

Irene sedih melihat Pangeran murung. Ia mendekatkan wajahnya.

Tangannya menyentuh wajah Pangeran. "Apakah yang menjadi kerisauan Anda? Beritahulah saya."

Pangeran memeluk Irene .

"Pangeran."

"Panggil saja Suho."

"Su..Suho?"

Suara lembut Irene merasuki pikiran Suho. Tiba-tiba Suho melepaskan Irene.

"Tidurlah," Suho membaringkan Irene, "Kalau sore nanti engkau lebih sehat, aku akan membawamu ke pesta Desa Zerupt."

Mata Irene membelalak. "Benarkah, Suho?"

Suho mengangguk.

"Terima kasih, Suho," Irene tersenyum bahagia lalu memejamkan matanya.

Irene berjanji akan segera tidur. Ia sudah tidak sabar meninggalkan ruangan ini. Irene sudah sangat merindukan suara orang-orang.

.

.

.

"Tuan Puteri, bangun."

Samar-samar Irene mendengar suara seseorang memanggilnya.

"Tuan Puteri, bangun." Suara itu terdengar lagi.

"Bangunlah, Tuan Puteri."

Irene membuka matanya.

Seorang wanita muda tersenyum padanya. "Saya tidak senang menganggu tidur Anda yang nyenyak," katanya, "Tetapi Pangeran telah menanti Anda. Pangeran ingin mengajak Anda ke pesta musim dingin Zerupt.

Irene teringat kembali pada janji Suho. Ia segera turun dari tempat tidur.

Pelayan itu dan beberapa pelayan lain segera memandikannya dengan air hangat. Selagi mereka menyeka tubuhnya, seorang wanita mencari-cari sesuatu di dalam lemari.

Ketika berangkat ke Istana Ruethpool, Irene tidak membawa apa-apa selain gaun yang dikenakannya dan mantel tebal. Irene sama sekali tidak mempunyai rencana ke tempat ini.

Selama berada di sini, Irene mengenakan gaun-gaun Ratu sewaktu beliau masih muda. Untung sekali gaun itu cukup untuk Irene Ukuran tubuh Ratu dan Irene cocok.

"Kulit Anda sangat indah berseri," puji seorang pelayan ketika merapikan gaunnya, "Karena itu gaun warna apapun cocok Anda kenakan."

Irene tersenyum. Ia sudah sering mendengar pujian seperti itu dari pelayannya di rumah. Seperti yang dikatakannya pada mereka, Irene berkata, "Aku berpikir kulit yang kecoklatan seperti kalian lebih cocok dengan gaun warna apapun."

"Kulit kami terlihat sangat pucat sedangkan kulit Anda berseri. Kami iri pada Anda."

Irene memandangi tubuhnya di cermin.

"Kecantikkanmu seperti orang Timur yang penuh misteri," puji Suho ketika ia masih belum mengetahui namanya.

Bila melihat kakak-kakaknya yang semuanya mempunyai kulit Kecoklatan, Irene merasa paling aneh.

Semua mirip ibu mereka, hanya dia yang mirip Earl. Warna rambutnya tidak sama dengan kakak-kakaknya. Rambutnya Coklat legam seperti Earl.

Gelombang di ujung rambutnya adalah warisan Countess. Mata hijaunya yang bening seperti kelereng adalah perpaduan dari warna mata Countess yang hijau tua dan mata Earl yang biru bening.

Semua dalam dirinya adalah warisan kedua orang tuanya kecuali kulitnya. Irene tidak tahu darimana ia mendapatkannya. Sejak kecil ia tampak seperti gadis Timur.

Gadis Hari Ketujuh (Surene)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang