Chapter 15

584 74 8
                                    

"Aku bersyukur sekali engkau datang."

"Ketika mendengar engkau akan datang, aku sudah tahu engkau akan mengalami kesulitan. Oleh karena itu aku datang khusus hanya untukmu."

"Aku senang sekali." Irene menoleh dan dengan tersenyum berkata, "Selamat malam."

Sehun membawa gadis itu pergi.

Pangeran menatap lekat-lekat kepergian sepasang orang itu dengan penuh kecemburuan yang membakar hatinya. Tak sengaja Pangeran melihat sinar aneh di mata Seulgi.

"Sungguh beruntung pria itu. Siapakah dia?"

"Ia adalah cucu Duke," kata Countess, "Sejak dulu mereka memang akrab."

"Mereka adalah pasangan yang serasi. Sekarang aku mengerti mengapa Irene tidak berminat menemui Suho. Sayang sekali, sungguh sayang sekali."

Countess merasa bersalah mendengar nada bicara Ratu.

"Maafkan saya," kata Pangeran tiba-tiba, "Saya permisi dulu."

"Mau ke mana engkau?" tanya Ratu.

"Aku ingin berjalan-jalan sebentar," jawab Pangeran sambil berlalu.

Pangeran ingin meredakan panas kecemburuan di dalam hatinya.

Sekarang jelaslah semuanya. Gadis itu mengatakan ia tidak mempunyai tunangan tetapi ia telah memiliki seorang kekasih.

Sehun adalah pria yang tampan dan gagah. Ia pasti membuat Irene benar-benar mencintainya.

Sudah tertutup harapan bagi Pangeran untuk merebut cinta gadis itu.

Ketika bersamanya Irene selalu tampak kebingungan dan selalu panik bila disentuhnya. Tetapi ia tidak panik ketika bersama Sehun, malah dengan mesranya memeluk Sehun.

Pangeran cemburu besar!

Api kecemburuan membakar hatinya.

Tiba-tiba Pangeran melihat Sehun membawa Irene ke tempat gelap yang terlindung dari pandangan orang lain.

Pangeran ingin tahu apa yang akan dilakukan Sehun pada Irene. Bila sampai pria itu memperlakukannya dengan tidak baik, Pangeran akan menghajarnya.

Pangeran mengikuti kedua orang itu.

Sehun membersihkan sebuah bangku panjang kemudian menyuruh Irene duduk di sana . Mereka berbicara sebentar lalu Sehun kembali ke Hall pesta.

Dari tempat persembunyiannya, Pangeran melihat kepergian Sehun.

Pangeran melihat Sehun menghilang di dalam kerumunan orang lalu ia mendekati Irene.

Irene mendengar langkah-langkah kaki mendekat. "Siapakah itu?" tanyanya.

Pangeran hanya menatap gadis itu. Ia tidak tahu harus berkata apa.

"Selamat malam, Pangeran," Irene pertama kali menyapa, "Silakan duduk, Pangeran."

"Apakah dia tidak akan marah?"

"Siapa? Sehun?" tanya Irene, "Sehun tidak akan marah. Ia hanya membantu menyembunyikan saya."

Irene tersenyum. "Ia adalah teman yang baik. Ia selalu membantu saya setiap kali saya mempunyai kesulitan. Ia mengetahui saya tidak senang dikerumuni orang, karena itu ia menyembunyikan saya di sini."

Pangeran ragu-ragu. Tiba-tiba ia merasa sangat bersalah. Di hadapan gadis itu sendiri ia telah menjelek-jelekkan para putri keluarga Horthrouth yang juga kakak-kakaknya juga dirinya sendiri.

"Silakan duduk, Pangeran," kata Irene , "Apakah Anda tidak lelah terus menerus berdiri? Bila Anda terus berdiri dan orang-orang di dalam itu mengetahui saya berada di sini, Sehun akan marah pada Anda."

Gadis Hari Ketujuh (Surene)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang