#9 Today is Five O'clock Shadow Birthday!

12.2K 1.2K 23
                                        

Lovember POV

TING!

Suara dari ponselku membuat aku mengalihkan pandangan dari komputer. Terlihat notification yang berasal dari reminder ponselku.

Today is Five O'clock Shadow birthday!

Seketika aku menepuk dahiku, lupa jika hari ini adalah hari ulangtahun Aa Farhan. Aku melirik jam yang berada diatas meja kerjaku, menunjukkan pukul setengah sebelas siang. Masih cukup waktu lah ya, untukku membeli kado ulangtahun Aa Farhan. Lagipula hari Jumat gini, jam istirahat kantor lebih lama satu jam dari hari biasanya karena pegawai laki-laki akan melaksanakan solat Jumat.

Dan sudah pasti, pegawai perempuan alias kaumku akan mendapatkan jatah untuk sekedar ngopi-ngopi cantik sambil bergosip. Maka hari ini, aku memutuskan untuk memanfaatkan waktu tersebut untuk membeli kado.

Aku menggerakkan kursi roda kearah kubikel Tiara. Sahabatku itu tampak sedang serius membaca deretan kalimat per kalimat dari layar komputernya. Aku mencolek lengannya pelan, namun Tiara masih tetap serius.

"Tir, Aa Farhan hari ini ulangtahun. Terus gue lupa beli kado kemarin, jam makan siang temenin gue ke Sency atau Plaza Senayan yuk. Cari kado buat suami gue." Ajakku.

Tiara mengarahkan krusor pada tanda save, lalu beralih menatapku. "Mau beli kado apa emang buat suami lo?" Tanyanya. "Kasih aja jatah nanti malam, gue yakin juga jadi kado tersuper dari elo. Hahahahaha." Sambungnya sambil tertawa.

Aku berdecak kesal lalu melempar wajahnya dengan id card miliknya yang tergeletak diatas meja. "Ngeres banget sih otak lo. Emang deh lo beneran harus dinikahin kayaknya, Tir." Dumelku.

Entahlah otak sahabatku ini isinya apa selain deadline pekerjaan atau naskah-naskah yang ia tangani. Mungkin setengahnya lagi berisi soal Biru dan ya you know what lah ya, tanpa harus aku perjelas lagi.

Tiara meredakan tawanya lalu mengangkat kedua jari tangannya membentuk peace. Aku memutar bola mata kesal ketika melihatnya.

"Ampun Nyonya Farhan," ujarnya. "Okey-okey, gue temenin ke Sency kek atau PS sekalian. Dengan senang hati akan ku temani wahai engkau Nyonya Farhan." Sambungnya dengan hiperbola.

"Makanya itu otak sama mulut jangan isinya yang ngeres-ngeres."

Tiara melipat kedua tangannya didada. "Siapa yang ngeres? Itu kenyataanya, Nyonya Farhan. Lo mau laki lo ja-"

"Jajan? Laki-laki umuran Farhan nggak cukup cuma kissing aja." Potongku cepat. "Itu 'kan yang mau lo bilang ke gue? Nggak mempan!" Sambungku.

"Ck, nggak akan mempan kalau tahu Farhan jajan gimana? Jangan nangis-nangis karena nyesel lo cerita sama gue!" Cibirnya.

Aku menggeram kesal. "Ya jangan didoain kayak gitu terus dong! Lagian Aa Farhan bilang sendiri kalau dia nggak akan jajan diluar, dan lebih pilih yang ada di rumah. Udah jelas dong kalau gue yang dia maksud." Balasku dengan kesal.

"Udah hampir sebulan, Ve. Masa lo masih mau jalan ditempat? Kenapa? Hati lo belum yakin sama Farhan? Isinya masih Dewa si brengsek itu?" Semprot Tiara padaku.

Hatiku masih berisi Dewa? Hah, yang benar aja. Selama pernikahanku dengan Aa Farhan berjalan hingga sekarang, bayang-bayang Dewa bahkan perlahan mulai sirna. Cinta yang tempo hari aku katakan? Mungkin udah hilang karena tertutup oleh warna baru yang Aa Farhan goreskan.

Sekarang begini, untuk apa aku berlama-lama terpuruk oleh si brengsek itu jika ada laki-laki yang jauh lebih baik dan sempurna dibandingkan laki-laki yang telah menyakitimu? Bahkan membuat keluargamu sendiri hampir menanggung malu karena pernikahan yang telah disiapkan, dengan begitu aja dibatalkan sepihak? Menurutku itu semua sia-sia, hanya menghabisi waktumu.

Ex-Lovember Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang