15| Siapa

150 17 0
                                        

Setelah hari itu, Arka memang benar menelpon ku ketika malam hari. Arka juga suka mengajakku untuk bermain game.

Entah kapan aku lupa tepatnya, Arka putus dengan kekasihnya. Dia bilang dia merasa tak cocok dan tak nyaman.

08 Februari 2018

Beberapa hari ke belakang aku merasa ada yang berbeda dari Arka. Aku tak tau itu apa, hanya saja entah lah Arka berbeda.

Tadi pagi Arka tak mengirimi ku pesan. Hingga sore ini.

06.15 PM

Keisha Q Radea : seharian ini sibuk?

Arka A P : banget

Arka A P : ini gua mau pergi sampe malam maaf kalau sibuk.

Sebenarnya memang tak ada keharusan untuk Arka mengirimi ku pesan setiap hari. Hanya saja, aku merasa ada yang hilang.

Bukan hanya itu saja, hari itu Arka tak menelpon. Iya, aku tau dia sibuk. Karena dia juga mengantar ayahnya untuk berobat. Ah tapi aku jadi ingat akan sesuatu.

Aku tak ingat tepatnya kapan, malam itu Arka pergi. Dia pergi mengantar ayahnya untuk berobat. Arka bilang bahwa dia mungkin akan pulang larut malam.

Arka menyuruhku untuk tidur. Tapi, saat itu aku tak ingin tidur. Yang ku ingin hanya mendengar suaranya. Namun, keadaan yang tak mendukung.

Keisha Q Radea : yaudah, kamu kalau pulang nanti langsung istirahat ya.

Arka A P : iya

Tapi nyatanya tidak. Ketika aku sedang tertidur, ponsel yang berada di sampingku berdering. Aku melihat jam. Pukul 00.56 AM.

Arka A P
Incoming call...

"Hallo, Kei. Maaf ya bangunin kamu malam-malam."

"Ah iya gak apa-apa Ar. Kenapa?"

"Aku kangen."

Ketika mengingat hal itu. Entah kenapa hati ku sesak. Sekarang aku ini siapa? Seenaknya ingin diperlakukan seperti itu olehnya.

Lalu terkadang aku merasa aneh dan tak suka ketika Arka menyebut dirinya menggunakan 'gua'. Yang padahal pertama kali aku kenal dia kita menggunakan bahasa seperti itu. Tapi, sekali lagi. Aku ini siapa?

11 Februari 2018

03.00 PM

Hari ini masih sama tak ada pesan apapun yang aku dapat dari Arka. Arka memang pernah bilang, kalau dirinya sibuk, pasti jarang sekali untuk membuka ponsel. Kalau pun bisa, itu hanya untuk mengecek saja.

Ketika aku sedang membaca novel, ponselku berdering.

Arka A P
Incoming call...

"Hallo."

"Hallo."

"Apa kabar?"

"Baik."

Yang padahal aku ingin sekali berteriak kepadanya bahwa aku tak akan pernah baik-baik saja jika ditinggal olehnya.

"Hm, boleh telpon gak nih? Aku baru aja mau pulang."

"Boleh."

Arka tanpa kamu tanya seperti itu, harusnya kamu tahu jawabannya. Bahkan dari beberapa hari yang lalu, telpon kamu lah yang aku tunggu! Mendengar suara kamu.

Arka bercerita tentang acara pernikahan saudaranya. Tentang salah satu tantenya yang menyebalkan.

Arka perlu kamu tahu. Mendengar cerita kamu seperti ini adalah bagian yang aku rindukan. Karena sudah sangat jarang sekali kamu bercerita sesemangat ini.

Di tengah cerita kamu tiba-tiba berhenti.

"Mau isi bensin dulu ya, sebentar Kei."

"Iya."

Sambungan terputus.

Ku putuskan untuk menunggu. Menunggu kamu menelpon kembali.

Lima menit...

Sepuluh menit...

Tiga puluh menit...

Bahkan hingga satu jam, tak ada telpon dari kamu. Sebegitu lama kah mengisi bensin? Seberapa panjang anteran yang ada? Atau kah memang kamu tak ingin lagi mengobrol dan berbagi cerita bersama ku?

Your VoiceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang