Rafael [09]
Boleh aku bertanya padamu, dimana arti diriku?
Mobil dengan cat putih mengkilap memasuki kawasan sekolah. Mobil dengan cap terbuka berhasil menarik perhatian. Mobil itu bergerak ke sudut sekolah, sudut yang biasa Jackson tempati untuk memarkirkn mobil pajeronya.
Jackson yang baru datang mengerutkan dahinya dalam, siapa yang berani menempati tempat yang sudah dia cap sebagai kepemilkan, tempat yang begitu rindang dan dapat melundungi cat pajero hitam miliknya.
Pintu itu terbuka, menampilkan gadis cantik dengan rambut lurus dengan gelombang di bawahnya, rambut hitam legam yang jika terkena sinar mentari berwarna biru indah.
Jackson lansung turun dari mobilnya dan berjalan mendekati gadis yang baru kali ini ia lihat. Tangannya masuk kedalam saku celananya, seragamnya yang keluar ia biarkan saja. Karena tadi ia berangkat sangat mendekati pukul 7, kurang lebih tigapuluh menit sebelum jarum panjang melangkah ke angka 12.
"Heh! Minggirin mobil lo."
Suara gertakan Jackson berhasil membuat gadis cantik itu tersentak. Kening gadis itu berkerut, lalu sejenak melihat Jackson lalu berpindah pada mobil pajero hitam dan mobilnya. Senyum miringnya tercetak, membuat Jackson menatap tak percaya.
"Gue manusia, gue masih punya hak buat markirin mobil gue disini."
Ucapnya lalu berjalan memasuki sekolah dan menghilang di belokan. Jackson yang melihat itu berdecak sebal. Ia lalu memasuki mobilnya lagi dan memarkirkan di tempat teduh yang lain. Ia tak peduli lagi dengan lemparan amarah dari teman seperjuangannya atau angkatan di atasnya.
"Jack mobil lo pindahin!"
Jackson menghentikan laju berjalannya saat ia melewati mobil ferari yang berhenti di sebelahnya. Jackson hampir mengeram marah jika pemilik suaranya bukan sahabatnya.
"Tumben lo bawa mobil Nad?"
Nadyla tersenyum, menimpali. "Kakak nyuruh, biasalah paksaan dia mau nyoba mobil barunya."
Jackson menatap mobilnya sedikit lesu, Nadyla yang melihat itu hanya terkikik geli.
"Besok aja, kali ini hak lo disana. Gue bakal ngalah."
Jackson yang mendengar hal itu tersenyum, sejenak ia melangkahkan kakinya bergeser ke kanan. Memberikan jalan yang lebih leluasa untuk Nadyla memarkirkan mobilnya. Jackson menunggu hingga Nadyla keluar dengan menenteng tas dan buku di tangan kanannya.
Jackson melihat kearah langit yang begitu cerah, namun di saat waktu telah menunjukkan pukul dua, maka mendung akan datang untuk mempersiapkan hujan. Benar-benar cuaca yang ekstrim untuk kesehatan dirinya dan cat mobil-mobil yang berjajar di halaman ini. Hingga Jackson menerima ide dari semua itu dan Nadyla sudah berdiri di sampingnya dengan sedikit merapikan seragamnya.
"Nad, gue pikir kita harus ngajuin proposal."
"Buat?"
"Kanopi, kalau panas mulu cat motor sama mobil bakal rusak"
Nadyla yang mendengar itu menganguk kecil, ia rasa itu akan menjadi ide yang segera ia buat konsepnya bersama anggotanya yang lain.
"Oke-oke, entar sore kita rapat masalah itu. Dan buat mantepin seberapa siap anak-anak buat acara tengah semester."
Jackson menganguk, lalu dengan perlahan merapikan seragamnya yang tadinya amat sangat menunjukkan sisi brandalnya. Dari jauh ia bisa melihat Bu Erni memandang tajam pada dirinya.
Nadyla mengeleng kecil, pacar sahabatnya ini memang mempunyai kelakuan yang banyak mengundang pukulan terkadang. Hingga sampai pada hadapan Bu Erni, Jackson melempar senyum terpaksanya dan menyalimi beliau, disusul dengan Nadyla yang ikut menyalimi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rafael ✔
Ficção AdolescenteLelaki sebenarnya terlalu egois berkata bahwa ia tidak terluka. Lelaki terlalu egois mengatakan ia akan selalu kuat. Lelaki juga punya begitu banyak rasa seperti yang perempuan rasakan. "Kita juga manusia, bukan hanya perempuan yang memiliki peras...
