07. Mencari tau

292 26 8
                                        

Perayaan pesta topeng lebih kurang tiga bulan sudah berlalu. Semenjak itu juga Devian tidak lagi bertemu dengan Flower. Bahkan angin yang membawa selintas aroma manisnya tidak tercium lagi.

Devian kecewa. Ketika kali pertama berbicara mendengar suara lembutnya, bertatapan langsung dengan mata indahnya, melihat bibirnya tersenyum manis bagaikan madu, menyentuh rambut serta kulit lembutnya melebihi bubuk bedak. Dan, itu hanya menyisakan kenangan terindah bagi Devian semata. Gadis itu menghilang lagi, lenyap tanpa jejak.

Devian dan kedua sahabatnya sedang menikmati secangkir kopi di sebuah caffe. Devian menatap kosong kopi di depannya tanpa menyentuh sedikit pun. Albert dan Darwin saling lempar pandang melihat tingkah Devian.

"Woii," kejut Darwyn dengan hentakan meja. Devian meliriknya sekilas. Lalu, kembali menatap kopinya.

"Melamun saja kerjaanmu. Itu kopinya diminum keburu dingin."

"Aku tidak melamun... Aku cuma memikirkan sesuatu," jawab Devian sekenanya.

"Tidak ada bedanya," sahut Darwin menyesap kopinya, "apa yang kau pikirkan?" tambahnya.

"Aku memikirkan seorang perempuan."

Darwyn tersedak kopi yang baru saja di minumnya. Ia sampai terbatuk-batuk mendengar ucapan Devian. Sedangkan Albert ternganga, matanya sedikit melebar. Ia mematung dengan cangkir kopi di tangan yang hendak diminumnya, ia meletakkan kembali kopinya. Saling bertatapan dengan darwin.

Lama, setelah itu mereka tertawa terbahak-bahak. Orang-orang di kaffe melihat mereka dengan berbagai macam tatapan. Devian tidak begitu peduli atas kelakuan temannya, Ia menyesap kopi yang dibiarkannya tadi.

"Lihat... Siapa yang sedang jatuh cinta?" Darwin mengejek dengan tawa tertahankan.

"Tentu saja Devian kita," Albert menyambung, memegangi perutnya.

"Hentikan tawa kalian. Coba lihat, orang-orang di kaffe tidak nyaman dengan kelakuan kalian," sela Devian.

Albert dan Darwin berdeham, menetralkan seraknya tenggorokan dan pernapasan yang sedikit sesak dikarenakan tertawa terlalu kencang.

"Di sini apanya yang lucu? Aku mengatakan bahwa Aku memikirkan seorang perempuan. Dan, kalian ketawa tidak jelas seperti ini. Membuat Aku semakin frustasi saja," tandas Devian.

"Jadi belakangan ini kau melamun hanya karena memikirkan seorang perempuan," tanya Darwyn mengelap mata basahnya sehabis tertawa.

"Kau sedang kasmaran?" Albert bergurau penuh gelagat menggoda. Devian membuang napas kasar, mencoba tidak meladeni.

"Sadarlah Devian. Kami baru pertama ini mendapatimu menyukai seorang perempuan. Memikirkannya berhari-hari mungkin sampai berbulan-bulan, bagaimana bisa kami tidak menertawakanmu," titah Darwin menyengar-nyengir.

"Gadis yang kusukai sedikit berbeda. Dia penuh dengan teka-teki."

"Berbeda seperti apa maksudmu?"

Devian memutar-mutar cangkir kopi menggunakan jari telunjuknya. "Dia gadis cantik penuh dengan rahasia-rahasia yang sulit ditebak. Kehadirannya sebentar ada sebentar tidak ada. Tidak, lebih tepatnya dia sering menghilang daripada menampakkan diri."

"Kadang-kadang aroma gadis itu menghampiri penciumanku, memenuhi pikiranku. Sampai-sampai Aku tidak bisa berhenti memikirkannya."

Devian terdiam sejenak, berhenti memutar-mutar cangkir kopi. Sebelum menyambung, ia melihat temannya bergantian. "Aroma gadis itu bagaikan bunga, harumnya seperti bunga Orskyrose."

Darwin dan Albert tertegun mendengarnya. Mereka menegakkan badan, menatap Devian dengan keterkejutan bercampur kebingungan.

Bagaimana mungkin harumnya seperti bunga Orskyrose. Bunga yang hanya mereka lihat di buku sejarah antik, sama sekali tidak pernah dilihat secara langsung apalagi sampai menciumnya.

FLOWERCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang