chapter 8

18 3 0
                                    

Aku pulang dengan tubuh yang lemas dan badanku serasa capek banget, aku bergegas mau masuk ke kamar tetapi mama dan papa memanggilku.

Aku hanya menjawab hemm, mereka mulai bingung ada apa denganku dan kenapa aku seperti ini? Mereka menanyakan itu kepada gibran yang mengahantarkanku.

Kepala ku rasanya sangat pening dan aku tidak sanggup lagi berjalan menuju kamar. Gibran aku tinggal tidur ga papa ya! Aku capek banget nih

Mau menaiki anak tangga pandangan ku mulai terasa gelap semua dan tidak terasa tubuhku makin melemas dan jatuh di tangga. Mama, papa, gibran langsung lari menuju ke aku

Aku langsung di bawa ke kamar oleh gibran

"Om, tante biar aku aja ya yang bawa pia ke kamar" gibran lalu menggendongku

"Hati hati gib" kata mama papa pia

Malam sudah berganti aku baru tersadar dan kepala ku masih terasa pusing sekali, apa yang ada di hadapan ku terasa berbayang. Tapi hanya satu yang ku herankan yaitu gibran! Dia tidur disebelah ku dan memegang tanganku. Dia tampaknya tertidur sangat pulas

Rizky ga sebaik gibran, hanya dia yang peduli padaku disaat aku begini, hanya dia yang berada disampingku. Gib maaf kalau kemarin aku mengecewakanmu kaulah sosok yang selalu ada untuk aku. Jika tuhan berkehendak aku ingin memilikimu lebih dari sebatas sahabat . Aku tersenyum senang lalu kembali memegang tangan gibran dengan erat

***

Suara ketukan pintu terdengar sangat kuat, tampaknya itu adalah mama ku. Gibran spontan terbangun dan melepaskan pegangannya.

"Pia, mama bawa bubur nih sama susu, dimakan ya nak" mama pia lalu meletakkan makanan itu ke atas meja

"Nak, kamu kenapa sampai begini sih? Cerita sama mama!" Mama nya mengelus rambut pia

"Aku putus sama rizky ma, dia selingkuhin aku sama kakak kelas untung aja aku sama gibran pergokin dia di taman" jelasku

"Pia, kamu harus sabar berarti dia bukan jodoh kamu bukan lelaki yang baik buat kamu, masih banyak lelaki di luar sana yang lebih baik buat kamu, sekarang kamu istirahat gih disulangin gibran ya" mama lalu mencium kening ku dan seketika hilang di balik pintu

"Kamu makan yang banyak ya biar cepat sembuh, biar bisa bareng aku terus, kalau kamu sakit aku entar sendirian dong" gibran menyodorkan sesendok bubur ke mulut ku

Ngap, aku memakan buburnya

"Cepat sembuh ya best friend" gibran mencium kening ku

"Makan lagi gih, setelah itu mandi! Udah mendingankan? Nanti aku hibur kamu deh biar ga suntuk" lagi lagi gibran memegang kening ku

"Sekarang mandi sana, aku juga mau pulang sebentar nih, jaga dirimu baik baik ya, aku sayang kamu" gibran lalu bergegas mau pergi

"Gib" langkahnya terhenti

"Aku juga sayang kamu" pia tersenyum senang

Gibran hanya memainkan matanya dan tersenyum girang

***


Betul ya kita ga perlu menyesalkan kepergian orang yang kita sayang, sebab dibalik semua itu masih ada yang lebih sayang dan peduli sama kita. Lain kali intropeksi diri apa kita pantas dimilikinya dan begitu juga dia, apa dia pantas buat kita miliki?

Aku selesai mandi bermaksud kembali ke kamar buat ternangin diri, eh gibran datang dengan segerombolan sahabatku mereka lari serasa khawatir dengan keadaanku lalu satu per satu memeluk ku

"Kamu kenapa pi"
"Apa kamu yang sakit"
"Kamu baik baik aja kan?"

Mereka banyak bertanya tentang aku dan memeriksa badanku, memutarkan mutarkan badan ku. Bukannya makin baik aku malah tambah pusing akan kehadiran mereka-,-

"Apaansih, bukannya malah membaik aku malah makin pusing tau ga?" Kesal ku

"Yeehhhh, namanya juga khawatir" serentak mereka

"Gibran tadi udah jelasin semuanya ke kita, sabar ya friend masih banyak yang sayang sama kamu, contohnya kita kita nih. Dan masih banyak lelaki yang pantas buat kamu kaya gibran nih" utami menunjuk ke arah gibran

Gibran tersenyum senyum malu, begitu juga dengan pia

"Betul tuh, gibran kan ga kalah gantengnya dengan rizky" sahut gita

"Betul tuh, lain kali milih cowok itu jangan dari fisik, lihat dari hatinya setulus apa menyayangimu" syifa menyambung

"Thank your opinion syif" aku memeluk syifa tidak kalah aku juga memeluk gita, dan utami

"Eh btw aku gerah nih, numpang kolam renang sebentar ya pi" sambung gita

"Ah, iya tumben kamu pinter git, yuklah" lanjut utami

"Oke aku ikut aja," kata syifa

"Aku juga deh," sahut gibran

Aku duduk di kursi dekat kolam, dan tertidur diatas pahanya gibran. Sementara sih 3 sahabatku asyik bermain air

"Gib, rindu rizky" kataku melihat ke langit

"Kamu masih sayang sama dia?" Tanya gibran sambil mengelus ngelus rambutku

"Dikit sih,"

"Kamu mau hal yang sama akan terjadi untuk yang kedua kalinya?" Dia masih mengelus rambutku

"Gib, aku masih sayang sama dia bukan berarti aku harus balikan"

"Kami bisa saling sayang, tanpa harus jadian" jawabku menyakini gibran

***









DOUBTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang