TWELVE

24 0 0
                                        

Sesampainya mereka di D'Jackies, Anya langsung masuk ke kafe itu sambil memesan Hot Cappucino kesukaannya kemudian duduk di tempat biasa diikuti oleh Kenzo.

"Kamu kenal Kakak aku darimana?" tanya Anya.

Kenzo menoleh pada gadis di sebelahnya sambil tersenyum. Bukan karena Anya sebenarnya. Kenzo de javu. Kejadian seperti ini pernah dialaminya dengan Senna. Beberapa tahun yang lalu, Senna mengajaknya kesini sepulang mereka dari pesta pertunangan teman Kenzo. Pesta terakhir yang mereka hadiri bersama.

"Ello sama Emily itu kakak tingkat aku pas masih kuliah. Awalnya, aku cuma tau Ello tapi karena Ello selalu bareng Emily, akhirnya kita bertiga sering bareng." jelas Kenzo.

"Tapi, kok pernikahan Kak Em aku sama sekali nggak lihat kamu?"

"Kamu yang nggak lihat aku atau mungkin kamu yang sukanya menyendiri di balkon, hm?" goda Kenzo dengan sindiran yang lebih kepada bertanya kamu kenapa berbeda dengan Anya yang Kenzo kenal tadi?

Tapi, rasanya tidak mungkin Kenzo bertanya seperti itu. Anya bukanlah tipe orang yang suka bercerita tentang kehidupan pribadinya. Kenzo tahu itu. Mungkin gadis itu masih belum mau berbagi cerita dengan Kenzo. Tidak masalah karena Kenzo sendiri sama sekali belum bercerita tentang Senna pada Anya. Untuk apa juga.

Sekilas, Kenzo melihat Anya tersenyum tipis sambil kemudian melihat gadis itu beranjak dari kursinya sambil menarik lengan Kenzo tiba-tiba. "Tadi, kita nggak sempat ikut acara dansanya. Dansa, yuk?" ajak Anya.

Wah, apa Kenzo bilang? Anya yang tadi di acara berbeda dengan Anya biasanya. Anya sudah kembali seperti biasa kelihatannya. Mau tak mau Kenzo tersenyum sambil mengangguk. As usual, sharing earphones to each other with her magic playlist. Tidak seperti dulu mereka berdansa dengan pakaian aneh. Kali ini mereka memang berpakaian layak untuk turun berdansa di podium.

"Nat King Cole, hm?" tanya Kenzo setelah memasang earphone sebelahnya.

Anya mengangguk sambil mulai melingkarkan kedua tangannya di leher Kenzo. Gadis itu mulai terbawa suasana musiknya. "When I Fall In Love," gumamnya masih terdengar oleh Kenzo.

"Such a really good song, ya,"

"Hm."

"Habis ini kita udahan ya?"

"Kok gitu? Masih pengen dansa," ujar Anya tak suka.

Kenzo terkekeh sambil mencubit gemas pipi Anya. "Aku lebih baik berdansa dengan kamu yang pake oversized hoodie with your training pants, Nya. Kalo kelamaan dansanya, kamu bisa masuk angin." bujuk Kenzo.

Kenzo memang benar-benar mengatakannya dengan tulus. Gaun Anya cukup terbuka pada bagian atas dan punggung yang Kenzo tak suka ialah semua mata tertuju pada tubuh Anya. Kenzo tak suka. Dia risih.

"It's okay, Ken. Aku nggak selemah itu cuman karena pake gaun langsung masuk angin,"

"Lagian kamu emang harus banget pake gaun kayak gini?"

Anya menangkap nada tak suka dari perkataan Kenzo tadi. "Dipilihin Mama. Aku nurut aja,"

"Lain kali kamu yang pilih. Pilih yang agak tertutup, Nya. Nggak enak diliatnya,"

Bukannya tersinggung, Anya tersenyum sambil mengangguk. Kapan lagi diperhatikan seperti ini? "Got it, Om Kenzo," balas Anya jahil.

Kenzo langsung memutar kedua bola matanya. Dia tidak suka dipanggil Om oleh Anya. Dia belum tua-tua banget! Dia masih 24 tahun!

"Mulai deh kamu,"

Anya terkikik geli, "Kamu kan emang udah tua,"

"Aku belum tua. Kamu aja yang kemudaan," balas Kenzo tak kalah sengit.

"Siapa suruh mau bergaul sama anak muda, hm?"

"Aku juga masih muda, Nya."

"Bagi aku itu kamu tua," gadis ini takkan berhenti menggoda Kenzo. Kalau sudah seperti ini Kenzo tak bisa membalas apa-apa. Anya pasti menang.

"Iya, aku tua. Puas, hm?" kata Kenzo mencapit hidung Anya gemas membuat Anya tertawa.

"Kamu kalah lagi." ejeknya sambil tertawa.

Sesederhana itu cara untuk membuat Anya tertawa. Tawa Anya adalah suatu kesenangan tersendiri bagi Kenzo.

Setelah selesai berdansa, mereka berdua hanya duduk sambil menikmati secangkir kopi. Anya kembali menjadi pendiam, Anya yang berbeda. Seperti ada yang terus mengganggu pikiran gadis itu. Tapi apa?
Bertanya pun pasti hanya dibalas dengan senyuman oleh gadis itu.

"Ello said to me that his sister are so childish. Kok ke aku nggak sih, Nya?" tanya Kenzo mencoba untuk membuka percakapan.

"Aku nggak childish kok. Kak Ello aja tuh yang berlebihan," bantah gadis itu dengan bibir mengerucut lucu.

Kenzo tersenyum sambil mengambil jasnya yang tergantung di kursi dan mengenakannya ke bahu Anya. "Kayak tadi aja kamu udah kayak anak kecil cemberut gitu," kata Kenzo.

"Emangnya kamu nggak pernah cemberut apa?"

"Pernah lah," Pernah sekali. Sama Senna. Sering.

Kenzo tersenyum kecil saat dia menyadari bahwa dirinya tadi memikirkan Senna.

"Aku pengen liat," kata Anya antusias. Mata gadis itu berbinar-binar dan berbeda sekali dengan dirinya tadi. Apakah gadis ajaib ini punya dua kepribadian?
Mood-nya bisa berubah dengan amat cepat.

"Gimana caranya?" tanya Kenzo pada Anya.

"Ya terserah kamu."

"Nggak ah,"

"Ih, Kenzo! Ayo dong sekali aja," Well, tanpa Anya sadari dia sedaritadi telah bertingkah childish di hadapan Kenzo. Kenzo merasa sangat iri saat menyadari bahwa Ello sahabatnya dapat dengan mudah melihat tingkah konyol Anya. Andaikan dia bisa sering melihatnya pasti akan sangat asik.

Kenzo malah mengacak-acak rambut Anya. Dia gemas sekali dengan tingkah gadis ini. Sepertinya memang benar kalau Anya memiliki beberapa kepribadian.

"Ayo pulang. Nanti kamu dicariin," kata Kenzo mengalihkan pembicaraan. Dia memang jarang cemberut. Lebih tepatnya, dia jarang untuk bisa mengekspresikan dirinya.

"Jangan dulu. Mereka pasti masih ada acara."

"Ini udah malem, Kanya," kata Kenzo.

"Kamu mau pulang?"

"Bukan aku. Tapi, aku harus memulangkan anak gadisnya Om Leo tepat waktu." jawab Kenzo lagi dan lagi menyadari bahwa Anya cemberut. Too cute.

"Papa nggak tahu dan nggak akan mau tahu kok,"

"Tahu. Tadi aku udah izin sama Om Leo sebelum bawa kamu kesini,"

Sebentar..

Anya tidak salah dengar, kan?

Izin? Papanya? Mustahil.

"Apaan sih bercanda kamu nggak lucu, tahu?" ujar Anya mulai kesal.

"Aku nggak bercanda, tanya aja sendiri,"

Ini Kenzo memang kadang bercandanya suka keterlaluan. Izin Papanya? Untuk keluar malam saja kadang tidak diijinkan. Apalagi pergi selarut ini. Sibuk dengan pikirannya, Anya tak menyadari kalau ada panggilan masuk di ponsel Anya.

Papa.

"Papa kamu udah telepon. Aku rasa dia nyariin kamu jam segini belum pulang aja," kata Kenzo menyodorkan ponsel Anya ke gadis itu.

Masih dengan rasa bingung kenapa tumben Ayahnya menelepon, Anya mengangkat panggilan itu.

"Halo, Pa?"

"..."

"I.. i.. ya. Kenzo? Kenzo ada, Pa."

"..."

"Iya, Pa."

Selesai dengan ponselnya, Anya menatap Kenzo dengan tatapan herannya.

"So, let's go home." kata Kenzo menarik lengan Anya sambil tersenyum.

Apa maksud Ayahnya? Apa Ayahnya sedang menunggu sang putri untuk pulang? Pertanyaan itu yang berkecamuk di batin Anya.

Somebody's MeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang