Normal : (is) Abnormal

646 25 1
                                        

Kenormalan.

Perilaku dominan di masyarakat?

Tidak menyimpang dari kesesuaian?

Tapi, bagaimana kita bisa tahu seseorang normal atau tidak?

Batasan apa seseorang dikatakan sebagai manusia normal?

Contohnya saja manusia-manusia jenius di luar sana yang ada dan pernah ada, kita comot satu, Albert Einstein.

Untuk menciptakan segala sesuatu yang Einstein sudah ciptakan, pasti Einstein berpikir, berimajinasi, mengamati hal-hal yang bahkan jauh di atas kenyataan hingga mencapai kemustahilan.

Dan itu bukan dominannya masyarakat.

Tapi, mengapa Einstein tidak dikatakan sebagai manusia abnormal?

Padahal otak dan pikiran Einstein berbeda dari manusia biasa.

Contoh lain, saya pernah melihat seseorang yang kelihatannya normal-normal saja, dia beraktivitas seperti biasa. Dan siapapun pasti mengatakan dirinya normal bagi yang tidak tahu,

tapi, orang itu mengatakan sendiri bahwa dirinya tuna rungu.

Lalu saya juga berpikir, orang-orang penyandang disabilitas, mungkin merasa dirinya normal jika mereka berada di antara para difabel, dan merasa berbeda jika sekelilingnya bukan orang-orang difabel.

Jadi, menurut saya tidak dilihat secara teori, kenormalan hanyalah suatu perspektif. Anggapan kepada diri sendiri ataupun orang lain. Suatu rasa.

"Gue rasa di normal. Biasa aja."

"Kata gue, sih, dia aneh."

Dan kebanyakan orang, melihat kenormalan hanya dari "kacamata"nya saja, pun hanya hal yang dapat tercetus otomatis ketika impuls menjalar ke saraf mata. Ketika mata menangkap objek, terciptalah perspektif kenormalan atau keabnormalan.

Yang berarti, kenormalan adalah relativitas.

Setiap manusia memiliki "kenormalan"nya sendiri-sendiri.

Selama itu baik, mengapa harus takut menjadi tidak normal di tengah para manusia yang merasa normal? Bisa saja mereka yang mengatakan "tidak normal" adalah orang yang tidak normal sesungguhnya.

Apa salahnya menjadi berbeda, langka, dibilang tidak normal?
Tanpa itu semua, tidak akan dikenal namanya kesamaan, spesial, dan kenormalan, bukan?

E.

Teriakan Aksara RasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang