Mungkin kita sudah lupa. Bahwa dulu, kita pernah berlarian mengejar ayah atau ibu kita.
"Ayo, Adek, ayo!"
dan kita hanya teriak sembari tertawa karena belum bisa mengucapkan kata-kata. Kita berlari, lalu kita jatuh.
"Yah..., Adek, sakit nggak? Mana yang sakit?"
Lalu kita bangun, dengan perintah atau tidak.
Saya sedang melihatnya sekarang. Hati saya berkata, "Halo, Adek. Jadi anak kecil itu menyenangkan, ya? Kalau sudah dewasa, kamu tidak bisa seperti itu lagi lho, jadi seneng-seneng, deh, kamu jadi anak-anak. Kalau udah gede mah, kamu akan jadi saya yang berpikir begini."
Mungkin kita juga lupa, kalau kita pernah sekecil itu. Terjatuh berkali-berkali, tapi tetap kembali bermain. Bahkan sering menangis, tapi lagi dan lagi kembali bermain. Kita tidak pernah berpikir dunia itu rumit sekali.
Jadi, apa yang membuat keadaan kita terasa berat dewasa ini? Apa karena dulu kita belum tahu apa-apa? Apa karena kita dijatuhkan oleh ekspektasi kita sendiri?
Atau... karena kita ditenggelamkan oleh sekumpulan harapan orang lain?
E.
KAMU SEDANG MEMBACA
Teriakan Aksara Rasa
PoesiaSebatas rasa dan kata yang memberontak, lalu bebas. Sc : Pinterest. #23Puisi 7-07-2018 #1Sastra 27-07-2018 #1Words 19-08-2018 #1Bebas 24-11-2018 #2Diksi 24-11-2018 #4Words 24-11-2018 #1Kontemplasi 17-07-2019
