6.

1.3K 110 0
                                    

Dua hari kemudian.
(namakamu) membuka pintu rumahnya dan menempatkan kopernya diruang tamu diikuti joy kucingnya dari belakang, ibu (namakamu) sudah membeli rumah untuk ditinggali.

Gadis itu tidak lagi tinggal di apartement sendirian melainkan sekarang akan tinggal bersama ibunya.

"maaf yah mama baru bisa beli rumah. Walaupun sederhana yang penting nyaman buat di tinggal." ucap farah ibu (namakamu).

"nggakpapa ma, lagian aku lebih suka rumah sederhana kayak gini. Nggak perlu mewah" (namakamu).

"yaudah kalau gitu kamar kamu ada disana" tunjuk farah ke arah kamar anaknya itu.

(namakamu) mengangguk kemudian membawa kopernya melangkah menuju kamar barunya.

Pintu kamar terbuka, (namakamu) melongo tidak percaya dengan keadaan kamarnya.
Ruangan yang luas, tempat tidur berukuran sedang, rak buku kayaknya perputakaan.

"kalau kamar kayak gini gue juga nggak bakal kuliah, tinggal kuliah sendiri aja dikamar." ujar (namakamu) diakhiri tawaan kecil.

"mama sengaja buat kamar kamu kayak gini karna mama pengen kamu betah dirumah, karna dulukan kamu sering keluar rumah ninggalin mama. Semenjak mama sama papa pisah, mama berusaha buat lakuin yang lebih baik lagi buat kamu." farah.

Mendengar kata 'perpisahan' membuat senyuman gadis itu pudar dalam sekejap.
Farah benar-benar merasa kasihan pada (namakamu), membahas tentang ayah gadis itu selalu murung.

(namakamu) kembali tersenyum menyembunyikan kesedihannya terlebih didalam lubuk hatinya.
Biarpun gadis ini menyembunyikan kesedihannya dengan senyuman farah tetap tau anaknya tengah bersedih.

"mama masakin makanan kesukaan kamu yah, kamu mandi aja dulu habis itu langsung ke meja makan." ujar farah lalu pergi setelah mendapat anggukan dari anaknya.

Rumah (namakamu) tidak bertingkat, rumah yang sederhana tapi mempunyai beberapa ruangan yang luas.
Ditambah lagi dengan kondisi kamar barunya, (namakamu) masih tidak percaya ia mempunyai kamar yang dilengkapi dengan rak buku layaknya perputakaan.

Merasa puas melihat kamarnya (namakamu) pergi melangkah menuju meja makan.

"gimana dengan kuliah kamu? Berjalan lancarkan?"

"lumayan.."

"kamu kok belum mandi? Jangan mandi malem sayang nanti bisa sakit." ucap farah.

"nggak kok, aku mau makan dulu baru mandi."

"kebalik itu."

"terserah aku dong. Mau mandi malem, mau mandi sore, bahkan nggak mandi bukan urusan mama. Wle.." ujar (namakamu) diakhiri raut wajah kekanak-kanakan.

"kamu ini bikin mama gemes buat nyubit kamu"

"sakit tau kalau dicubit."

"ih malah ngebantah kamu."

"engga tau..." nada suara (namakamu) ia buat layaknya anak kecil. Membuat farah merasa gemas.

"dasar"

***
Iqbaal menepikan motornya didepan gedung apartement, entah kenapa hatinya ingin bertemu dengan gadis itu.

Iqbaal mengambil handphonenya mencari nama kontak (namakamu) tetapi ia baru ingat ia sama sekali tidak memiliki satupun id ataupun nomor dari gadis itu.

"permisi.." ujar iqbaal memberhentikan langkah seorang pria yang mungkin seumuran dengannya.

"kenapa?"

"tinggal diapartement ini juga?"

"iya, kenapa memang?"

"kenal sama yang namanya (namakamu)?"

"kenal, dia baru pergi kemaren katanya pindah rumah."

"oh yah? Terus alamat rumahnya dimana?"

"kurang tau."ucap laki-laki itu kemudian pergi.

Iqbaal menghela napas kasar entah kenapa ia ingin sekali bertemu dengan gadis itu.

"iqbaal?" (namakamu).

"kenapa?" iqbaal.

"lo ngapain disini?"

"terserah gue, lo ngapain disini?" ujar iqbaal bertanya balik pada (namakamu).

"ada barang yang gue lupa bawa di apartement makanya gue kesini" jawab (namakamu).

"memangnya lo skarang tinggal dimana?"

"gue lupa nama jalannya. Yang jelas gue nggak tinggal lagi di disini tapi udah pindah dirumah baru gue." jelas (namakamu) lalu pergi.

Sepuluh menit kemudian, (namakamu) kembali lagi disekitar apartment masih mendapati iqbaal yang duduk diatas motornya.

Apa iqbaal menunggunya? Tidak (namakamu) membuang jauh-jauh pikirannya itu lalu kembali melangkah membiarkan iqbaal yang masih stay diatas motornya.

Iqbaal menatap langkah (namakamu) yang semakin jauh darinya. Memperhatikan setiap langkah gadis itu.

"sama persis.." gumam iqbaal.

Motornya ia nyalakan kemudian menghampiri (namakamu). Iqbaal menghentikan langkah gadis itu dengan menghalanginya dengan motornya.

(namakamu) sontak kaget dan menatap iqbaal tak suka.
Iqbaal turun dari motornya dan melangkah mendekat pada (namakamu).

"apa lagi sih baal? Kalau ada perlu yaudah tinggal bilang aja nggak usah buat gue kaget gitu." ucap (namakamu) dengan nada kesal.

Pandangan iqbaal terarah pada benda yang dipegang (namakamu), sebuah kotak kecil berwarna hitam entah apa benda yang ada didalamnya.

Apa itu sebuah liontin juga? Dipikiran iqbaal hanya itu.

"lo aneh tau nggak baal." (namakamu).

"lo balik ke apartment cuma ambil satu benda doang?" tanya iqbaal.

"barang ini berharga. Makanya gue takut kalau barang ini hilang, gue nggak bisa dapetin benda ini lagi." balas (namakamu). "sebenarnya tujuan lo itu apa sih? Mau ketemu gue atau ketemu orang lain? Atau mau nanya alamat ke gue? Gue jadi bingung." sambung (namakamu).

Iqbaal diam membisu hanya terfokus pada (namakamu). Menatap gadis itu seakan ingin menghipnotis (namakamu).

Lambaian tangan gadis itu membuat iqbaal tersadar, Ya! Iqbaal melamun.

"lo sakit yah? Kok jadi aneh gini" tutur (namakamu) diakhiri gelengan kepala kemudian pergi.

**
Semakin hari... Semakin aneh
Entah bisikan apa yang buat diri ini mendekat pada gadis itu.

(namakamu) dan (namakamu) nama itu selalu ada dipikiranku. Siapa nama lengkap gadis itu apa akan sama dengan nama gadis yang aku cari?

Jika benar memang dia, aku ingin sekali memeluknya dengan erat melepaskan semua rindu yang membebani lubuk hati ini.

Hati dan pikiran ku...
Bisa saja aku bisa gila hanya karna mencari gadis itu.

Apa aku harus berusaha untuk mencari tau tentang (namakamu)? Tentang semua latar belakangnya supaya aku bisa tau dia yang sebenarnya?

Bersambung.

Do You Remember Me? [COMPLETED] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang