Jika kau mencari sesuatu yang manis, lembut, dan berkarakter bahagia, aku memiliki semuanya. Kau boleh memastikannya sendiri dengan datang padaku. Ah, namaku Yook Sungjae. Hanya Yook Sungjae. Kalau ada imbuhan lain di belakang namaku, maka itu pasti akan berbunyi: Yook Sungjae pria tampan, sopan, dan baik hati. Maaf, tapi aku bukan penganut narsisme, hanya saja secara otomatis itu tersemat di sana.Sekurangnya dua tahun aku menjadi owner sebuah toko cokelat kecil di ujung jalan. Aku pemiliknya, juga satu-satunya pengelola. Semua hal yang ada dalam toko kecil ini adalah hasil karya dari keterampilanku mengolah cokelat-cokelat itu. Kadang, bentuk mereka berubah-ubah layaknya perasaanku acapkali melihat, merasakan, dan mencium aroma manis pekat yang menguar dari mangkuk cokelat panas.
Tidak ada hal lain, hanya bahagiaku ada saat berkutat dengan mereka, berkolaborasi membentuk keindahan-keindahan yang nikmat. Ini bukan tanpa alasan: bahwa aku mendirikan sebuah toko cokelat kecil. Jika ada hal yang disebut pelarian, maka itulah kiranya yang kulakukan.
Beberapa hal yang tak mengenakkan terjadi padaku waktu itu: tentang nenek, keluarga satu-satunya, yang tiba-tiba pergi meninggalkanku-tak pernah ada duka lara paling menggigit selain kau menjadi manusia sebatang kara yang terombang ambing angin, dan satu hal lain, yang sama sekali tak ingin kusebut karena kekecewaan itu bahkan lebih daripada terkhianati kekasih.
Nenek tak meninggalkan warisan apa pun. Ah, ada, hanya ilmu: ilmu mengolah dan meracik cokelat-cokelat, juga beberapa ratus ribu won hutangnya. Semua itu untukku, untuk Yook Sungjae. Bukankah itu sesuatu yang indah? Nenek memberiku sebuah beban sekaligus solusi. Ya, meski akhirnya beban dan solusi tak pernah berada dalam satu garis timbangan yang imbang. Aku hanya mencoba: membuat otakku berfungsi lebih baik daripada hanya sekedar khawatir tentang hari esok.
Siang itu, aku membalik tanda pintu bertuliskan 'CLOSE' menjadi 'OPEN' dengan satu gerakan singkat. Belum ada yang menunggu di depan pintu kaca, jadi kuputuskan untuk masuk kembali dan menata meja kasir sambil bersenandung lirih: menyanyikan lagu-lagu acak yang kutahu, kemudian menguasai tiap ruang kosong yang hampa.
Sepertinya toko cokelat yang bahkan hampir tak terlihat meski berada di ujung jalan ini makin hari makin ramai. Terang saja, itu semua sudah kuamati selama satu minggu penuh. Penjualan cokelatku naik drastis, bahkan tak jarang pelanggan yang datang hari ini, datang lagi besok, atau datang lagi lusanya. Tidak hanya itu, setiap sore, pasti ada pesanan berlebih untuk dibawa pulang, atau mereka-para pelanggan-justru memesan cokelat yang tidak ada sehingga diriku harus menyesuaikan diri: kau tahu? Ini semua karena untung yang didapat bisa jauh lebih besar.
Dan kemudian diriku betul-betul lelah. Kadang aku berpikir untuk bertahan seorang diri, namun keadaan sama sekali tidak mendukung. Dengan terpaksa, aku harus mengambil seoraang asisten untuk menjaga kasir, sementara diriku terus menyibukkan diri di dapur cokelat. Bisa kau bayangkan betapa sulitnya jika harus mengolah cokelat sambil lari-larian ke kasir di sela menunggu, belum lagi daftar pesanan panjang harus ditulis manual, juga yang pada akhirnya dalam satu porsi cokelat sama sekali tak ada 'jiwa' dan ketulusan. Intinya, takkan pernah bisa kau bayangkan: karena bahkan seringkali pelanggan yang datang tak mendapat tempat duduk.
"Oppa, kami mau ini tiga!" Dua orang gadis berpakaian seragam tiba-tiba sudah berada di depan etalase kecil milikku: aku bahkan tidak menyadari kapan mereka membuka pintu toko.
"Eoh? Annyeonghaseyo! Aku akan mencatat pesanan kalian, silakan duduk dulu." Aku menjawab sambil melempar senyum dan mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Entah mengapa aku melakukan itu, rasanya ingin saja. Ada kalanya kau ingin melakukan sesuatu tanpa tahu alasannya, bukan?
Selain kedua gadis berseragam yang baru saja duduk usai memesan truffle, beberapa orang berjalan menuju ke toko cokelatku: seorang ibu dan dua putra kembarnya, ada juga gadis yang duduk tak jauh dari seberang-ia hanya duduk dan mengamati semua hal. Mengakhiri basa-basi singkat yang tampak tak penting ini, aku akhirnya betul-betul menyajikan truffle bulat yang sudah didinginkan di lemari es semalaman.
"Ini pesanan kalian. Silakan dinikmati..." ujarku pada keduanya-pelanggan pertamaku hari ini.
"Gomawo~yo, Oppa," sahut gadis-gadis kecil itu bersamaan sambil tersenyum manis.
"Cheonma." Aku menjawab singkat, namun belum beranjak dari sana, satu dari keduanya memanggilku dan bertanya, "Oppa, eodilo...?"
"Eung? Eihhh wae geurae?" Mendadak tawaku membuncah. Mereka adalah gadis-gadis kecil, namun mereka bahkan sudah bisa tersenyum menggoda laki-laki dewasa sepertiku. Sebentar, menggoda? Tidak, tidak... hasss.. mereka hanya bertanya. Maafkan aku, hahaha.
"Kenapa kau pikir kami berdua memesan tiga truffle?"
"Kenapa? Wae, wae, wae?"
"Kami ingin memberi satu padamu, tapi kami pikir kau bisa membuat lebih banyak setiap waktu. Jadi kami hanya akan menghabiskannya sendiri karena begitu ingin tahu cita rasanya. Ah, Oppa. Apakah dengan menghabiskan tiga porsi, kami bisa mempelajari rasa olahan cokelat ini?"
Aku tercengang.
Pertanyaan itu adalah topik pembicaraan yang tak ingin kubahas, tapi tak ingin juga kuhindari: ini membuatku dilema. Maka aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaan panjang itu sambil menggeleng-gelengkan kepala dan hendak berlalu.
"Atau kami justru harus mempelajari buku-buku yang ada di rak tinggi itu?" tanya yang lain menimpali-ia merasa agak terabaikan meski melihat diriku tersenyum.
Rak tinggi itu, ya? Di permukaan rak yang terlihat menempel erat dengan dinding itu berjajar ratusan buku resep cokelat: aku lupa dari tahun berapa hingga berapa itu dikoleksi. Rak buku besar yang di sisinya terdapat ukiran bunga kenanga setangkai dan separuh badan rubah ini menjadi satu-satunya daya tarik sekaligus hiasan gratis di dalam toko kecilku: karena benda itu hampir menutupi seluruh dinding yang ada di belakang kasir-di samping pintu dapur.
Meski mereka-buku-buku itu-duduk berjajar dengan rapi seolah menunggu giliran dibaca, nyatanya aku sama sekali tak pernah membuka satu per satu halamannya. Tanganku hanya menyentuh cover-cover buku resep itu sesaat sebelum kududukkan mereka di salah satu saf rak buku tinggi, kemudian setelahnya, aku hanya rutin membersihkan debu-debu yang mampir ke sana. Aku tak mau membicarakan tentang rak buku yang tinggi, bahkan mungkin seharusnya tidak. Kusinggung topik ini karena pertanyaan gadis kecil yang begitu penasaran ingin bisa membuat truffle lezat.
"Tidak. Kau tidak akan bisa membuat truffle seperti ini dari membaca buku-buku yang ada di rak tinggi itu. Kau harus pergi kursus memasak," kataku.
"Boleh aku belajar darimu, Oppa?"
"Aku tidak membuka kursus." Kemudian aku cepat-cepat berbalik. Bukan, aku bukannya tak mau mengajari mereka. Hanya saja, jika aku membuka kursus memasak, mereka akan keluar masuk dapur cokelatku melewati rak tinggi. Dan kau perlu mengetahui satu hal: bahwa rasa penasaran anak-anak tak bisa diremehkan-mereka mahkluk paling ingin tahu di semesta ini-dan jika hal itu muncul, maka 'bisa jadi' aku akan habis.
2019 -
Note:
Annyeonghaseyo! Author kembali update di bagian dua dgn POV Yook Sungjae 🙌
Gimana, guys? Apakah kalian sudah berhasil menebak sesuatu? Berhasil mencium aroma-aroma miring? #plakk (baru juga part 2) ngahahaha #yakali
Okay, nantikan part berikutnya, guys!!! 😊😊 C U

KAMU SEDANG MEMBACA
[2018] DARK CHOCOLATE ☑
Fanfiction(Diterbitkan dalam 'INTERLUDE') Pemuda pemilik toko cokelat yang ada di ujung jalan itu gelisah. Hari demi hari tokonya menjadi kian ramai dan secara otomatis ia membutuhkan seorang asisten. Namun, siapa yang mau bekerja di toko cokelat yang kecil...