Seperti teleportasi, beberapa saat lalu sesuatu menabrak tubuhku dari samping dan kami sama-sama terlempar ke sisi jalan, di antara atmosfer yang berkabut itu, lalu kudengar suara mesin yang menjauh. Apa itu? Apa yang baru saja terjadi? Terakhir yang kudengar hanyalah suara Yook Sungjae yang meneriakkan sesuatu. Yook Sungjae?Buru-buru kusadarkan diriku sendiri. Mataku kemudian mendapatkan seseorang tertelungkup tak jauh dari sini: itu benar-benar Yook Sungjae. Berulang-ulang kugoyangkan tubuhnya agar ia tersadar: setidaknya mengerjapkan mata sedikit meski tak jelas. Aku tahu ia tak benar-benar kehilangan kesadarannya, tapi tetap saja, ada sebersit khawatir dan gusar.
“Aku… masih hidup,” katanya.
Mendengar bocah bodoh ini mengatakan itu, rasanya emosiku nyaris meledak (lagi). Kau tahu alasannya? Pertama, ia menyuruhku membunuhnya dengan syarat aku harus mengingat dirinya. Kedua, entah bagaimana aku tak bisa benar-benar membunuhnya meski ujung pistol milikku sudah berada di dahinya dan siap meletupkan peluru. Ketiga, kenapa harus ia yang menyelamatkanku dari pengendara motor bodoh yang sempat kumaki dan kutandai plat nomornya dalam ingatanku. Keempat, ia membuatku dalam posisi ‘merasa bersalah’ setelah sekian peristiwa itu.Pernah kau merasa sangat bersalah setelah meluapkan emosimu? Itulah yang kurasakan. Bagiku, tak pernah ada manusia yang dapat menahan emosinya. Mereka yang selalu dibilang sabar hanyalah sekumpulan orang-orang yang mampu meluapkan emosinya dengan benar. Sisanya, hanya manusia sepertiku yang sembarangan bertindak, lalu menyesal di waktu berikutnya. Ini sungguh tak nyaman: kadang aku membenci diriku sendiri. Ah, ini legal, tentu saja. Kau boleh membenci dirimu sendiri, asal kau tahu cara untuk memperbaiki apa yang salah atau setidaknya mau belajar untuk memperbaikinya.
Layar ponselku menyala.
Ponsel yang terlempar sekitar satu meter dari tempatku dan Yook Sungjae duduk itu layarnya menyala. Sebuah panggilan masuk. Berderap, langkah kakiku segera memburunya: berharap itu bukan kepala penyidik karena aku memertaruhkan segala yang ada di kantor saat ini. Itu… nomor telepon umum (?).Aku betul-betul menggeser layar dalam mode panggilan. Usai menyapa seseorang di seberang sana, tanganku gemetar, napasku naik turun tak karuan. Youngi. Itu Youngi! Meski samar, aku masih bisa mendengar ketukan-ketukan morse yang disampaikan olehnya. Ia bilang ia sedang ketakutan dan kini berada di Gyeonggi. Kakiku melemah mendengar hal itu. Apa yang ia lakukan di Gyeonggi? Bagaimana keadaannya? Ia ketakutan. Apa ada seseorang yang mengejarnya sekarang? Apa yang terjadi?
Ingatanku lalu melayang pada insiden samar yang selalu mengganggu dan mengacaukan mimpi-mimpiku hingga mereka semua berakhir sebagai mimpi buruk. Pikirku, aku ingin segera beranjak dari sini dan menghampiri Young, tapi kakiku begitu enggan melangkah usai panggilan telepon itu terputus: Young memutus pembicaraan sampai di sana.
“Changsub… Hyung? Itu siapa? Youngi~ssi? Lee Young?” Laki-laki itu dengan susah payah menghampiriku dan bertanya tergesa-gesa.
“Eoh… yang baru saja itu… Youngi,” jawabku.
“Lalu? Apa yang kau lakukan? Di mana dia sekarang? Ia mengatakan apa? Apa dia baik-baik saja, hm? Ayo kita ke sana, Hyung! Ppalli!” Di matanya, aku melihat segurat kekhawatiran, juga rasa bersalah yang mendalam. Tapi… aku enggan pergi bersamanya: kupikir ia terluka di suatu tempat yang tak kami tahu. Bukankah sebaiknya ia pulang saja? Tiba-tiba aku menjadi seseorang yang empatik. Aku mengkhawatirkan dua orang sekaligus.
“Pulanglah, Yook Sungjae. Aku akan menjemput Youngi, nanti kau kukabari lagi.” Aku menetapkan tekad, juga langkahku untuk betul-betul berangkat sendiri menjemput adikku.
Usai menepuk bahu kanan Yook Sungjae sebanyak dua kali, aku berlari secepat mungkin, menghilang di tengah-tengah halimun, menuju jalanan yang lebih besar, menemukan keramaian, atau hal-hal yang bisa mengantarku pada Young—secepatnya. Gyeonggi tak sejauh itu: kupikir. Tapi jalan-jalan yang kulalui seolah terasa begitu panjang dan tak kunjung berakhir. Mungkinkah ini salah satu efek dari kegelisahan yang mendebar? Atau ini hanya bagian panjang yang benar-benar harus kulalui untuk bertemu dengan Youngi dalam keadaan apa pun?
Sekuter toko ayam yang menemani perjalanan panjang ini kemudian betul-betul kehabisan bahan bakar setelah satu jam dua puluh menit bergelut dengan jalanan dan cuaca yang mendingin. Tolong jangan pernah menanyakan bagaimana aku mendapat sekuter ini dan bagaimana mesinnya menyala bahkan tanpa kunci.
Tepat di perbatasan pegunungan dan pemukiman, aku melihat box telepon. Ya, nomor yang meneleponku sebelumnya berasal dari box yang ini. Dari sini, sepasang mataku mendapatkan sosok yang betul-betul ingin kutemui dalam beberapa jam: tengah mendekap seorang bocah laki-laki dan berantakan. Itu.. Youngi, adikku. Dan tanpa berpikir panjang kuhampiri ia. Box telepon itu kubuka dari luar lalu kedua lenganku merengkuh tubuhnya dalam pelukan: ia gemetar ketakutan dan yang bisa kulakukan hanya mengatakan bahwa sekarang semua akan baik-baik saja.
Aku tak mengerti harus marah pada siapa ketika melihat keadaan Young yang seperti ini. Di kantor polisi ia menceritakan semuanya. Diceritakannya hal itu: yang tampak seperti masa lalu yang tak ingin kuingat-ingat. Young yang sekarang masihlah orang yang sama dengan yang dulu. Hanya saja, sungguh itu membuatku tak nyaman dan gelisah.
“Youngi~ah…kau…tidak usah bekerja lagi ya. Oppa tidak bisa berhenti mengkhawatirkanmu,” kataku padanya. Namun, Young masih tetap diam. Apa yang dipikirkannya sekarang, aku tak tahu betul.
Kemudian sekali lagi lengan ini merengkuh bahu adik semata wayangku dan sekuat tenaga kukerahkan semua hal yang kupunya untuk menenangkannya: aku tahu, perkataan yang baru saja itu tak tepat saat ini. Young hanya butuh waktu untuk menenangkan dirinya. Juga, penculik sialan itu, jika pada akhirnya aku berpapasan dengannya, ia harus merasakan luapan amarahku sebagai balasan atas ketidaksopanan yang menjijikkan itu.
Tanpa berlama-lama, Young dan aku memutuskan untuk kembali ke rumah saat itu juga. Soal bocah laki-laki yang sebelumnya, polisi Gyeonggi bilang, mereka akan mengurusnya karena Young juga sudah bersaksi. Mungkin, jika besok Young dibutuhkan untuk keterangan lain, mereka akan menghubungi kami: jadi bukankah seharusnya pertanyaan sekaligus permintaanku pada Youngi tidak sepenuhnya salah?
Entah bagaimana, apa pun yang terjadi setelah kami keluar dari kantor polisi cabang Gyeonggi, semua terasa begitu cepat. Beberapa petugas kepolisian mengantar kami: sekuter itu juga sudah kembali ke tempatnya dengan bahan bakar full ditambah surat singkat permintaan maafku dan sekeranjang buah-buahan yang kuambil di rumah.
Ini pukul 5.30, terlalu pagi jika aku pergi ke kantor polisi sekarang: terlalu pagi juga jika harus mendengar omelan para detektif—aku bahkan berkontribusi penuh saat mempertanggungjawabkan analisisku tentang kasus penculikan yang tak kunjung selesai ini. Jadi yang kulakukan sekembaliku dari toko ayam adalah mampir: ke toko cokelat ujung jalan, milik Yook Sungjae: kekhawatiranku tentang yang semalam masih tersisa. Ya, hanya saja bedanya, pagi ini rasa khawatir itu berkurang karena Youngi sudah berada di rumah.
Toko cokelat ini tidak terkunci, namun papan di pintu kacanya belum dibalik—masih bertuliskan ‘close’. Perlahan, aku membuka pintu kacanya lalu masuk.“Yook Sungjae? Kau di dalam?” Tidak ada jawaban atas panggilan itu. Mungkin ia tengah menyibukkan diri di dapur cokelatnya. Maka aku memberanikan diri melangkah lebih masuk ke dalam sana. Selangkah, dua langkah, ragu. Aku was-was jika tiba-tiba ia muncul dari suatu tempat dan mengagetkanku. Namun sepertinya… ia benar-benar sudah membuatku terkejut saat ini.
“YA!!! YOOK SUNGJAE!!! WAE GEURAE? IREONA!!!”
~
Note:
Annyeong readers 🎶 apa kabar? Bagaimana hari kalian selama seminggu ini? Dark Chocolate kembali update untuk menemani weekend kalian. Bagaimana? Kira-kira apa yang terjadi dengan Sungjae dan toko cokelatnya??? 😱😱
Don't miss it! This work will update tomorrow. Stay tune!

KAMU SEDANG MEMBACA
[2018] DARK CHOCOLATE ☑
Fanfic(Diterbitkan dalam 'INTERLUDE') Pemuda pemilik toko cokelat yang ada di ujung jalan itu gelisah. Hari demi hari tokonya menjadi kian ramai dan secara otomatis ia membutuhkan seorang asisten. Namun, siapa yang mau bekerja di toko cokelat yang kecil...