Aku tidak berpikir bahwa menjadi orang kedua itu menyenangkan: mungkin juga bagi beberapa di antara kalian, hanya beberapa, siapa tahu sisanya merasa nyaman-nyaman saja. Perasaan tiba-tiba tersisih yang begitu menyebalkan ini muncul ketika adikku menghabiskan hari-harinya di toko cokelat kecil bersamanya, pemuda sok tampan yang katanya baik hati itu. Maaf, sengaja kutekankan ini karena sungguh, aku tidak nyaman menjadi prioritas kedua.Tiap kali aku pulang, seluruh atmosfer di rumah menjadi merah muda dan serba Yook Sungjae. Ia bukan seorang idol, artis papan atas, atau selebriti dan sejenisnya, namun Young-i betul-betul menggilai semua tentangnya. Dan aku bertaruh bahwa Young takkan berani melakukan pujian-pujian langsung di depan ‘laki-laki yang katanya baik’ itu.
“Oppa, kau tahu? Dia begitu keren. Ah, dia membantuku tadi di toko. Dia sangat dewasa. Sangat manis. Sangat keren. Ya ampun. Aku harus bagaimana?” Dengan bersemangat digerakkannya cepat kedua lengan dan telapak tangan membentuk bahasa isyarat hingga aku bingung—terlambat mengerti artinya karena ia begitu cepat. Ia melakukannya sambil tersenyum, pipinya merona. Lee Young, begitu imut.
“Dia melakukannya karena kau adalah asisten. Jangan berlebihan, Youngi~ah. Bahkan atasanku akan melakukan hal yang sama.” Aku menanggapi sambil merengut. Sungguh, aku serasa seperti akan dibuang: semacam acar di pinggir piring, atau sambal mungkin (?).
Dan kemudian aku membiarkan Young berkutat dengan dunia ke-YookSungjae-annya beberapa hari terakhir: ini sebenarnya terpaksa. Pekerjaanku di kantor polisi menjadi kian rumit dan mengesalkan karena sebuah kasus. Aku hanya petugas polisi biasa—seharusnya—namun diriku sengaja mengajukan diri untuk terlibat dalam beberapa kasus sebagai uji kecakapan agar setidaknya aku bisa menjadi seorang detektif: dengan posisi itu, gajiku juga akan naik.
Beberapa minggu ini, aku melihat laporan-laporan kasus kehilangan. Gadis-gadis muda dilaporkan hilang, juga beberapa di antaranya adalah anak-anak: yang kebetulan juga berjenis kelamin perempuan. Mereka—para sunbae—berpikir bahwa itu adalah kasus penculikan berantai; hanya satu pelakunya; kasus yang sama; berpola; dan akan mudah terpecahkan begitu selesai menemukan garis gambar polanya. Namun aku tak berpikiran sama. Hal ini terlalu cepat disimpulkan sebagai kasus penculikan berantai. Jika pelaku penculikan itu adalah orang yang sama, seharusnya yang ia targetkan konsisten. Nyatanya, korban hilang memiliki rentang umur berbeda. Itu terkesan plin-plan, padahal berdasarkan klasifikasi umur: antara gadis muda dan anak-anak, jumlah korban hilang, dan tenggat waktu laporan masuk, mereka sungguh tak berhubungan.
“Oey, maknae. Kami menerima setiap pemikiran yang ada. Tapi maafkan aku. Sampai saat ini aku masih betul-betul ragu dengan asumsi yang kau sampaikan. Bahkan tim juga berpikir hal yang sama. Jadi, bagaimana jika besok, selama satu hari penuh kau yang melakukan penyelidikan bersamaku? Mari kita membuktikannya…”
“Aku bahkan tahu semua pola itu tanpa menyelidikinya, Nam Timjang-nim…”
“Besok? Ne, Timjang-nim…” Aku hanya memikirkan Young-i setelahnya. Aku bukan orang yang sombong, hanya saja aku betul-betul tahu bahwa apa yang kukatakan itu sepenuhnya benar. Tapi… semuanya lagi-lagi demi Young-i: aku harus lulus.
Dan kemudian, hari ini aku akan melepaskan pandanganku dari Lee Young.Biasanya, sepulang kerja aku akan mampir ke toko cokelat kecil itu untuk pulang bersama adikku. Aku tak pernah membiarkannya pulang sendiri sejak ia bekerja di situ. Entah kenapa, selalu ada risau yang hadir, membuat hatiku gusar. Mungkin hal itu biasa dialami oleh seorang kakak, mungkin juga karena isu penculikan dan kasus-kasus sejenis yang marak akhir-akhir ini, atau justru… karena aku teringat ‘saat itu’?.
“Youngi~ah…” panggilku padanya pagi itu. Kami berangkat bersama: naik bus. Ia menoleh. Pandangan matanya menatap dengan tanya ‘ada apa’ beberapa saat, lalu aku melanjutkan kalimatku, “ Hari ini, Oppa tidak bisa pulang bersamamu. Oppa harus menyelesaikan pekerjaan di kantor, jadi…”
“Gwaenchana… aku akan pulang sendirian, Oppa. Jangan khawatir, hm?” Ia tersenyum tanpa khawatir sedikitpun, sementara pikiranku terus bercabang: antara harus terus pergi, dan memberatkan adikku karena tak tega, juga takut.
“Oppa tak mau kau pulang sendiri. Laki-laki itu… Yook… siapa namanya kemarin? Biar dia yang mengantarmu. Oppa akan memberitahunya setelah ini,” kataku tegas. Aku bahkan tak mau melakukannya. Kenal dengan laki-laki itu saja tidak—aku cenderung tak menyukainya, entah kenapa. Lalu bagaimana aku akan mengatakannya: bahwa aku akan menitipkan Young padanya—hanya mengantarnya pulang.
Jujur saja, ketika kau bertemu dengan orang baru dan sejauh pertemuan itu tak kau dapatkan kesan baik, maka hatimu juga tak mungkin bisa dengan mudah memercayainya, bukan? Sama. Aku mengalaminya juga. Namun, Young betul-betul seolah sudah lama mengenalnya. Kesan baik yang didapatkannya, karakteristik sifat yang indah, dan hal-hal lain yang sama sekali nihil olehku telah dianalisis sepenuhnya oleh gadis kecil ini. Jadi, kuharap, meski pada akhirnya aku mencoba percaya—pada Yook…—karena Young-i, ia bisa betul-betul menjalankan amanah untuk menjaga adikku dalam perjalanan pulangnya.
“Araseo-yo, Changsub~ssi. Jangan khawatir. Aku akan menemani Lee Young~ssi pulang. Kau bisa memercayakannya padaku…” Ia menanggapi permintaanku dengan ringan, tanpa pikir panjang.
“Kau benar-benar harus menemani perjalanannya, Yook… Sungjae~ssi.” Sialan. Aku masih saja gelisah dan gusar bahkan ketika laki-laki ini menyetujui permintaanku.
“Ne.. ada lagi yang bisa kubantu?” tawarnya. Aku tak membutuhkan apa pun lagi: hanya perlu pergi dari tempat itu cepat-cepat karena berulang kali layar ponselku berkedip, Nam Timjang-nim memanggil.
“Dwaesseo-yo. Terima kasih atas bantuanmu. Aku pergi dulu.”
Aku berbalik. Langkah kakiku menjauh, punggungku membelakangi toko cokelat kecil, lalu sebuah panggilan kembali masuk: Nam Timjang-nim.“Ne, yeoboseyo, Timjang-nim. Jeosonghabnida, maaf baru menjawab panggilan. Wae geuraeseo-yo?” tanyaku singkat usai melontarkan sapaan dan permintaan maaf.
“KAU DI MANA???!!! Cepat ke kantor sekarang juga! Kita baru saja menerima laporan masuk tentang korban yang ditemukan dalam keadaan mengenaskan! Ppalli!!!!” Nam Timjang-nim berbicara cepat, juga agak berteriak. Ya, aku tahu. Aku akan pergi ke kantor polisi sekarang juga: ini masih pukul setengah delapan, masih ada waktu. Mereka memang begitu, cenderung melakukan sesuatu tak sesuai jam jika sudah berurusan dengan laporan yang baru masuk—dan aku akan melakukannya juga: setelah ini.
Kasus penculikan yang masih belum sempat diselidiki secara detail di lapangan itu kini berkembang menjadi kasus pembunuhan. Aku masih belum tahu pasti korban mana yang ditemukan tak bernyawa itu: apakah gadis muda atau justru anak-anak. Juga, gambaran mengenaskannya mayat mereka, apakah tanpa organ tubuh dan telanjang, apakah penuh luka korban kekerasan fisik dan seksual, terbakar sebagian, termutilasi, atau yang lain. Kau mual? Aku tak sempat melakukannya. Yang ada dalam pikiranku sekarang hanyalah bergegas ke kantor polisi secepat yang kubisa.
Note:
Annyeong, readers. Apa kabar? Ada yang kangen author? Atau kangen karya author? #eheqq..
Weekend ini author kembali update Dark Chocolate. Inginnya sih weekend ini update 3 bagian. Doakan saja semoga tercapai ya update beruntunnya hihihihi..
Okay, sampai jumpa besok lagi, guys 😳😳💙

KAMU SEDANG MEMBACA
[2018] DARK CHOCOLATE ☑
Fanfic(Diterbitkan dalam 'INTERLUDE') Pemuda pemilik toko cokelat yang ada di ujung jalan itu gelisah. Hari demi hari tokonya menjadi kian ramai dan secara otomatis ia membutuhkan seorang asisten. Namun, siapa yang mau bekerja di toko cokelat yang kecil...