DC - BAGIAN 3 [LEE YOUNG]

247 44 42
                                    


Aku sama sekali tidak menyangka bisa berada satu ruangan dengannya: dengan laki-laki muda tampan yang akhir-akhir ini selalu menarik perhatianku. Ternyata namanya Yook Sungjae. Beberapa hari lalu, ia menempelkan sebuah pengumuman di pintu kaca toko cokelatnya, tampak serius dan harap-harap.

Tulisan itu tentang dirinya yang tengah mencari seorang asisten. Sebetulnya, diriku merasa agak enggan dan tak percaya diri untuk mengatakan bahwa aku begitu berminat. Namun Changsub Oppa betul-betul melarangku kala itu.

“Youngi~ah, kenapa sih kau selalu berkeras jika ada sesuatu yang berhubungan dengannya? Ini tidak seperti biasa, sungguh..” omelnya. Iya, aku tahu. Aku tahu betul bahwa semua yang kulakukan di luar kebiasaan dan aku mengakuinya. Aku ingin membalas dengan mengatakan bahwa ‘orang bisu sepertiku pun berhak melakukan hal-hal di luar kebiasaan’ tapi tak kulakukan: takut menyakiti hati Oppa.

“Oppa, jebal… menjaga kasir tidak terlalu sulit. Lagipula aku akan menghasilkan uang sendiri meski tidak sebanyak Oppa, hm?”

“Aku hanya… ah, dunia di luar sana begitu kejam, Youngi~ah…”

“Ara-yo… aku tahu. Kita pernah berada dalam kekacauan itu. Aku ingat betul. Tapi kita bisa keluar dari keadaan itu, bukan? Ne? Aku mohon, Oppa.” Aku menatap ke dalam matanya. Changsub Oppa tidak melakukan apa-apa, tak bicara apa-apa, hanya kemudian merengkuh tubuhku masuk dalam pelukannya: aku tak mengerti kenapa.

Araseo, araseo. Jika itu inginmu, Oppa bisa apa? Aku tak mau kau sedih hanya gara-gara tak kuizinkan bekerja di tempat itu. Tapi satu hal: aku akan mengantarmu, pulang dan pergi. Kau mengerti?” Suara oppa terdengar lembut namun tegas. Masih kurasakan aroma ketidakrelaan dalam batinnya, tapi aku yakin keputusan oppa takkan pernah salah.

Kueratkan pelukanku terhadapnya hingga kucium aroma sabun yang tipis-tipis masih menguar dari tengkuknya: ia baru selesai mandi dan berganti pakaian. Aku mengangguk pelan, hanya mengangguk, sampai kemudian telapak tangannya menepuk-nepuk punggungku.

Dan di sinilah akhirnya aku berada. Di dalam toko cokelat, di balik meja kasir, menjadi asisten lelaki tampan dan baik hati itu: Yook Sungjae. Sejak pertama kali ia menempelkan tulisan itu di pintu kaca toko cokelat, aku berpikir keras tentang mengapa tak seorangpun datang dan melamar pekerjaan ini. Dan aku berakhir menduga jika semua itu adalah tentang upah atau gaji. Sungjae Oppa bilang—dia dua tahun lebih tua dariku—upah yang akan diterima tidak terlalu besar. Toko itu bahkan adalah toko kecil.

“Oey, Owner. Kau harus bersyukur jika adikku masih mau melamar kerja di sini padahal gajinya tak seberapa,” serobot Changsub Oppa. Ah, hari itu ia mengantarku untuk melamar kerja di toko kecil ini. Jujur, aku agak ‘malu’. Changsub Oppa adalah orang yang blak-blakan, tapi aku tak menyangka ia sesensitif itu pada Sungjae Oppa.

Nee, araseo-yo, Changsub~ssi…” Ia menjawab diiring senyum. Sungjae Oppa sama sekali tak menganggap perkataan oppa-ku sebagai pembicaraan yang kurang ajar.

Sepanjang perjalanan pulang, oppa sibuk menerka-nerka alasan mengapa aku langsung diterima bekerja di tempat itu. Ia bicara sejak kami pergi sampai kami hendak masuk ke halaman rumah. Sungguh, ia menggemaskan sekaligus mengesalkan. Kemudian aku mengerti mengapa oppa selalu terlihat menyendiri di kantornya. Ini semua bukan karena dirinya yang keras kepala, hanya saja mereka—rekan-rekannya—tak bisa memahami karakter oppa dengan baik. Jika ia bukan oppa-ku, mungkin aku sudah jatuh cinta padanya. Mungkin.

Ini hari pertamaku bekerja sebagai kasir di toko cokelat. Pagi menjelang siang tadi, Sungjae Oppa sudah menyapaku, menyambut kedatangan karyawan barunya, lalu buru-buru pergi ke dapur mengecek semua olahan cokelatnya yang kemarin sore dimasukkan ke dalam freezer. Tanpa khawatir aku membuat kesalahan di hari pertama bekerja, ia sungguh sepenuhnya memercayakan pekerjaan di kasir padaku: seperti pada kebanyakan orang.

Hwaiting, Lee Young~ssi!” katanya sambil mengangkat tangan kanan yang terkepal.

Aku mengangguk saja dan membalas senyum khasnya dengan membungkukkan badan sedikit. Bukankah mimpi ini terlalu nyata? Atau apakah sebagai seseorang yang punya banyak kekurangan, aku terkesan begitu berani dan tak tahu diri?

Eoh? Kau pelayan kasir baru?” Seorang gadis berseragam berdiri di depan kasir. Ia baru saja datang dengan temannya yang lain. Aku hanya mengangguk menanggapi sambil tersenyum.

Oppa yang itu di mana? Ah aku ingin dia yang menyambut kita seperti biasanya…” Aku tersenyum lagi sambil buru-buru menulis, ‘ia sibuk di dapur, apa yang ingin kalian pesan?’.

Keduanya menerima kertas yang baru saja kutulisi, kemudian melirik singkat untuk kesekiankali. Aku paham betul, bagi pelanggan, mungkin keberadaanku tak membuat mereka senyaman kalau Sungjae Oppa yang melayani. Tapi ini adalah hari pertamaku, bukan? Mungkin mereka hanya belum terbiasa dan aku perlu membiasakan diri.

“Kenapa kau memberi kertas berisi tulisan pada kami? Kau tidak bisa bicara ya?”

Hatiku mencelos. Aku berusaha bersikap biasa. Berusaha… senatural mungkin. Kemudian sekali lagi aku mengambil kertas catatan dan menulis di sana: maafkan aku karena membuat kalian tidak nyaman, ya, aku adalah tunawicara.

Heol, kenapa oppa mempekerjakan orang seperti dia? Bukankah lebih baik dia mempekerjakan aku?”

Mereka berbisik satu sama lain, tapi sungguh, bahkan aku bisa mendengarnya dengan jelas. Dan sepertinya inilah yang dikhawatirkan Changsub Oppa: anggapan orang-orang yang masih belum bisa menerima keadaanku. Aku boleh saja percaya diri dengan keadaan ini, namun belum tentu Sungjae Oppa—sebagai orang yang mempekerjakanku—bisa menerima juga meski nyatanya kesempatan sudah ia berikan padaku. Mungkin saja aku justru menghalangi usahanya.

Ya, kalian berdua. Jika ingin menanyakan sesuatu, tanyakan padaku saja, hm? Jangan berbisik seperti itu. Bagi kalian, mungkin ini hal biasa, tapi belum tentu orang lain menganggapnya demikian…” Aku mendengar suara Yook Sungjae. Sungjae Oppa sudah berdiri di depan pintu dapurnya sambil mengamati kami.

Eoh? Oppa?!” Dua gadis berseragam itu mendekati laki-laki itu.

“Ia baru bekerja hari ini. Namanya Lee Young dan tiga tahun lebih tua dari kalian. Bisakah kalian memanggilnya ‘eonni’ jika memang tak tahu namanya?” tanyanya.

Mianhae-yo, Oppa. Sepertinya kami memang agak keterlaluan…”

“Ah, minta maaflah padanya. Dan satu lagi, belajarlah menerima keadaan orang lain, hm? Setiap orang berhak menerima perlakuan baik. Kalian baik padaku karena aku bukan tunawicara, kemudian, akankah kalian melakukan hal sama jika aku  tunawicara?”

Anieyo, Oppa. Iya, kami mengerti…eonni, kami minta maaf.” Dengan mudahnya seorang Yook Sungjae menasehati dua gadis itu. Bukan apa-apa, nyatanya aku justru merasa bersalah. Dengan perangainya yang halus, beraninya seorang ‘aku’ menyatakan bahwa diriku mengaguminya. Bukankah ini sungguh tidak masuk akal?

“Lee Young~ssi? Gwaenchana?”

Eoh? Nee, naneun gwaenchana-yo… mianhae-yo, Sungjae-ssi.”

“Eung? Kenapa minta maaf? Kau tidak melakukan kesalahan apa pun. Semangatlah kembali, mereka sudah mengerti bagaimana harus menghargai keberadaan orang lain,” katanya sembari mengembalikan kertas catatan padaku. Ya, aku tahu. Hanya saja.. aku tiba-tiba merasa tak enak hati.

“Kau mau sepotong cokelat agar mood-mu bisa kembali?” Ia melanjutkan kalimatnya sebelum aku menuliskan apa pun. Sepotong cokelat? Sambil tersenyum hangat, ia menyodorkan sepotong cokelat hitam dalam satu mangkuk porselen kecil. Cokelat hitam, ya? Aku hanya tersenyum usai menerima mangkuk kecil itu. Perasaanku membaik bahkan sebelum melelehkan potongan kecil cokelat itu di dalam mulutku.

Sambil mengingat kembali kejadian baru saja, aku lalu menikmati cokelat hitam yang hanya sepotong itu sembari mengamati rak buku berisi jajaran resep cokelat: berlama-lama.














Note:
Holaaaa!!! Part 3 baru saja di-publish. Gimana kesannya? Agak garing? Atau kalian merasa... Wkwkwkwk ah ya sudahlah ya 👻👻
Sampai jumpa lagi Minggu depan, guys. Paiiiii 👋 semoga suka awal kisahnya #ehhh

[2018] DARK CHOCOLATE ☑Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang