Pertama. Terimakasih kepada para readers yang sudah bersedia membaca cerita ini. Mohon vote dan komennya ya😊. Warning Dia bab ini dan bab selanjutnya ada unsur 18+ nya. Saya tidak bertanghung jawab dengan imajinasi para readers😉✌. Terimakasih.
Disela-sela tugasnya Amira mencoba menghubungi nomer attar tapi tak aktif.
sudah beberapa kali dia mencoba tapi hasilnya sama.
Semalam Attar membawa Kanaya ke apartemennya, dan dia berusaha berkomunikasi dengan Kanaya tapi nihil. Kanaya meninggalkannya dan memilih memasuki kamar dan menguncinya.
Attar menghembuskan nafas. Lelah. Ini bukan yang pertama bukan dia mencoba agar Kanaya mau menerima permintaannya. Bagi Attar uangnya tak berarti apapun asal sahabatnya bisa terlepas dari orang-orang bejat itu.
Aku hanya ingin kamu kembali seperti dulu.
“Bos ...tadi ada orang yang ingin reservasi kafe buat acara minggu depan, karena bos masih belum bangun, jadi orangnya bakal kembali lagi nanti sore” jelas Ipang panjang lebar, Attar menyeruput kopinya sambil mengutak- atik hpnya. Semalam dia memang sengaja mematikan hpnya. Dan pagi ini panggilan tak terjawab dan beberapa pesan dari Amira muncul. Attar merasa bersalah tapi dia tidak ingin Amira memikirkan hal-hal lain atau bahkan terlibat dalam persoalannya.
“Saya setuju saja. Dan saya serahkan semuanya sama kamu Pang, saya masih ada urusan” Ipang dibuat melongo dengan keputusan Bosnya.
Tumben pasrah gitu tanpa diskusi.
batin Ipang kebingungan.
Diperjalan menuju apartennya Attar mencoba menelpon Amira tapi tak ada jawabaan. Dilihatnya jam di hpnya. Pasti amira masih tugas. Pikirnya.
Amira dan beberapa perawat lainnya memang tengah sibuk membantu para dokter yang tengah menangani korban kecelakaan beruntun diruas tol tadi pagi, Amira bahkan tidak sempat untuk sekedar melihat wujud hpnya. Ini tugasnya bukan hanya jiwanya tapi pikirannya juga harus tetap fokus dalam menangani pasien. Walau pikirannya juga terbagi ke Attar. Dan seenak jidatnya pria itu tak menjawab telponnya atau sekedar membalas pesannya.
“Aku akan bantu kamu keluar dari sana kay...”
“Tidak mudah untuk membawaku dari sana”
“ Berapa jumlah agar aku bisa membawamu keluar dari sana?”
Attar bersungguh-sungguh untuk menolong sahabatnya itu. Kanaya tersenyum bahagia mendengar semua kalimat Attar. Dia datang, mendekat kemudian memeluk Attar.
Kamu milikku Tar, dan aku harus memastikan siapa gadis yang bersamamu.
"Terimakasih, tapi aku tak ingin membebanimu ... Siapa gadis yang bersamamu kemarin?” tanya Kanaya sambil melepaskan pelukannya.
“Dia ... dia Amira ....”
“Pacarmu...?”
“Iya “
“Kay jangan mengalihkan pembicaraan, kita harus selesaikan masalah ini” Kanaya tersenyum miris.
“Sudahlah jangan bahas itu lagi, aku mau mandi”tegasnya sambil berlalu pergi, “Atau kau ingin ikut bergabung denganku”lanjutnya sambil tersenyum menggoda.
Attar tak menanggapi kalimat terakhir itu, dia memilih pergi dan melajukan mobilnya kearah rumah sakit.
Memasuki area rumah sakit, Attar mencoba menghubungi Amira lagi, tak ada jawaban. Dia menoleh kebeberapa arah hingga memutuskan untuk menelpon Syifa. Dan berhasil ...
“Fa ... Amira dimana? Kenapa nggak angkat telponku?
“Lu dimana sekarang?” nada suara Syifa terdengan kesal.
“Gue didepan” Syifa bergegas menuju Attar.
“Lu keterlaluan banget sih. Amira dari bangun tidur sampek ditengah-tengah tugasnya dia berusaha ngubungi lu”
Semprot Syifa.
“Pasti gara-gara gadis itu kan! Gue harap lu nggak bakal nyakitin Amira” tegas Syifa.
“Gue Cuma nggak mau ngelibatkan dia”jelas Attar.
“Sebaiknya nanti lu bicarakan dengannya biar dia nggak kepikiran terus. Sekarang Amira lagi di ruang operasi lebih baik lu pulang dulu”. Attar sadar memang ini bukan waktu yang tepat menemui Amira, tapi dia juga nggak bisa berada didekat Kanaya lama-lama.
Attar memutuskan kembali ke kafe, dia ingin beristirahat sebentar, sebelum nanti dia mengantarkan makanan untuk Kanaya dan menjemput Amira.
Sampai dikafe dia melihat Ipang sedang berbincang dengan seseorang yang akan mengadakan acara di kafenya. Tapi Attar tetap melangkah ke kamarnya.
Attar merebahkan tubuhnya, lelah dan dia merindukan Amiranya.
Attar terlelap sebentar dan terbangun ketika panggilan masuk dilayarnya menampakkan nama Amira disana.
“Tar kamu dimana?” attar tak bisa menyembunyikan senyum bahagianya ketika mendengar suara Amira.
“Aku dikafe, nanti aku jemput kamu ya”
“Kenapa kamu nggak bisa dihubungi sama sekali? Apa terjadi sesuatu? Ga ... gadis itu?” Amira tak tahan untuk tidak bertanya bahkan tentang gadis itu.
“Nanti aku jelasin ke kamu. Hei bukanya kamu sedang sibuk hari ini?”
“Mmm ... tapi semuanya sudah tertangani” jelas Amira.
“Aku ....aku merindukanmu” Amira tak bisa menahan perasaannya.
“Aku juga merindukanmu ... hari ini begitu melelahkan. Tapi semuanya hilang karena kamu”
“Mau ngegombal tuan” ledek Amira.
“Aku mencintaimu ... aku sangat mencintaimu Amira” mungkin jika terdengar orang lain dia akan dikira orang gila. Tersenyum sendiri, berguling diatas tempat tidur. Tapi itulah perasaannya. Dan mungkin bagi orang lain, cintanya untuk Amira hanya letupan semata karena dia lebih muda dari Amira. Tapi baginya cintanya dan Amira bukanlah mainan.
“Bos ... “Ipang hendak memberitahu tentang reservasi kafe minggu depan tapi kalimatnya terhenti ketika Attar mempercayakan semua padanya.
“Saya serahkan semuanya ke kamu Pang... saya percaya kamu” Attar melangkah ke dapur dan meminta salah satu anak buahnya untuk membuatkan makanan.
“Bos mau pergi ya ...?”
“Iya, saya ada urusan.” Jelas Attar sambil menyiapkan tempat untuk makanan yang akan dia bawa.
“Ciye bos mau kencan ya” Goda jojo, Attar hanya menanggapi dengan senyum sumringahnya.
Attar memarkir mobilnya dan melangkah menuju apartemennya. Ketika memasuki ruangan itu dia melihat Kayana tertidur disofa dengan layar televisi yang menyala. Attar mematikan acara itu dan membangunkan Kanaya.
“Kay bangun ... hei bangun”
Kanaya terbangun dan tersenyum senang karena Attar yang pertama dia lihatnya bukan para bajingan itu. Tiba-tiba dia bangun dan memeluk Attar.“Senang melihatmu” Attar melepaskan pelukan itu.
“Ayo makan” Kanaya mengangguk antusias. Sudah lama dia tidak makan berdua dengan Attar.
Meraka berdua menikmati kebersamaan yang sudah lama yang tak pernah mereka lakukan.
“Aku harus segera pergi, habiskan makananmu”ucapnya kemudian menghabiskan jus digelasnya.
“Jangan pergi dulu ... tinggalah sebentar”
“Tapi aku harus pergi”
“Sebentar saja. Aku mohon.”
Akhirnya Attar mengalah dan memilih tinggal sebentar dan entah kenapa kepalanya tiba-tiba pening. Dia memilih diam ketika Kanaya mencuci piring di dapur. Semakin lama nafasnya semakin sesak dan berat, tubuhnya juga terasa panas. Attar meneguk air meneral didepannya tapi tak berpengaruh apa-apa. Seperti ada yang aneh pada tubuhnya.
“Attar tolonggg”jerit Kanaya dari arah kamar. Attar sekuat tenaga berjalan menuju arah suara Kanaya.
Didalam kamar dia tak melihat Kanaya tapi seketika pintu dibelakangnya tertutup, disanalah Kanaya tanpa sehelai benang menutupi tubuhnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Romantic Bronis
Romance"Salah ya! Kalau gue belum nikah di usia segini!. Salah juga ya kalau gue kemana- mana nggak bawa pasangan!". Amira. harus tahan banting dengan semua drama kehidupannya. Memutuskan untuk tinggal di kontrakan adalah keputusan yang paling tepat, set...
