Amira tadi di perjalanan hanya diam membatu, membuat pria disebelahnya memasang wajah tak nyaman.
Begitu pun dengan keadaan saat ini, Amira diam berfokus dengan penangan pertama terhadap pasien ... gadis ... yang tiba-tiba datang kehadapannya dan memeluk Attar. Ketika itu seperti ada sesuatu yang retak tapi dia berusaha untuk berpikir waras.
Tak sedikit pun Amira menoleh kearah Attar. Bahkan untuk menanyakan siapa gadis ini dia tidak bisa atau bahkan dia tak sanggup.
“Selesai” Amira menghela nafas kemudian merapikan semua peralatan pertolongan pertamanya.
“Ra...” Attar mencoba berkomunikasi dengan gadis disampingnya.
Amira menoleh tapi bukan seperti biasa tatapannya penuh dengan tanda tanya dan ada kelelahan disana.
“Isilah data pasien diatas meja itu. Sebaiknya kamu tetap disini”.
Attar bangkit dari duduknya menghampiri Amira kemudian menggenggam tangan Amira.
“Percalah padaku. Nanti aku akan menceritakan semuanya. Aku mohon”.
Amira tak tahu harus percaya atau tidak. Haruskah dia marah atau bahkan cemburu pada gadis ini. Yang masih dia ingat dia bukan remaja lagi yang harus menangis dan marah-marah tak jelas.
“Aku pulang dulu” Amira pergi melelaskan genggaman itu. Tapi belum dia melangkah sepasang lengan kokoh itu mengkuhnya dari belakang.
“Jangan pergi Ra, aku butuh kamu. Kepalaku benar-benar pusing sekarang.” Amira terpaku ditempatnya. Ruangan ini sepi hanya ada mereka bertiga. Seandainya dia ingin mengamuk-pun dia bisa tapi dia cukup tahu etika dan dia masih cukup sadar.
Bersikaplah dewasa.
Dia mencoba berdamai dengan perasaannya. Dipejamkan kedua matanya mencari hatinya untuk bisa mendengarkan Attar dan menerima semuanya. Amira berbalik menangkup wajah Attar didepannya, ditatapnya sepasang mata indah itu.
“Ceritakan. Biar aku tidak seperti orang bodoh”. Attar tersenyum sambil mengeratkan pelukannya. Dia berucap syukur berkali-kali karena gadis didepannya mau mendengarkannnya.
“Hei lepas ... nanti kita bisa jadi bahan gosip para perawat disini” bukan menuruti ucapan Amira Attar malang mengetatkan pelukannya. Tanpa sadar seseorang yang sedang terbaring sedang melihat pemandangan yang membuat hatinya kian pilu.
“Dia Attar ku”.
Attar merebahkan kepalanya dipangkuan Amira. Mereka memilih taman diatas atap rumah sakit tempat pertama mereka saling bertemu.
“Aku mencintaimu”
“Aku tahu....tapi bukan ini yang ingin aku dengar. Aku ingin kita saling terbuka agar tidak ada salah paham”
“Aku berharap kamu tidak salah paham dengan semua ini” Attar menggenggaam erat tangan Amira.
Attar kemudian melanjutkan kalimatnya, “Kanaya dia temanku disekolah dulu. Dia satu-satunya anak yang mau berteman denganku. Dia anak yang baik, ceria dan tidak pernah gengsi berteman anak panti sepertiku, disaat semua anak disekolah menjauhiku. Dia mau menerima status sosialku. Aku masuk sekolah yang populer dengan anak anak orang kaya.”
Ada Jeda sebentar ketika Amira mengucapkan kalimat “Kategori anak cerdas” tanpa jeda yang lama Attar mendaratkan ciuman dipipi Amira. Kemudian tawa keduanya terdengar.
“Aku menganggapnya keberuntungan. Kami bersahabat sejak itu. Banyak anak-anak yang selalu mencemoohku tapi selalu Kanaya yang membelaku. Kami bermain, belajar bersama bahkan kedua orang tuanya juga sangat baik padaku”Sesekali Attar melihat wajah Amira mengira-ngira ekspresi wanitanya itu.
“Ayo lanjutkan”pinta Amira.
“Kamu tidak cemburu?”
“Masih sedikit” Amira jujur akan perasaannya.
“Hei ...aku mencintaimu sekarang dan selamanya Ra”Attar terduduk dan menangkup kedua sisi wajah Amira.
“Percayalah”lanjutnya menyakinkan Amira.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Romantic Bronis
Romance"Salah ya! Kalau gue belum nikah di usia segini!. Salah juga ya kalau gue kemana- mana nggak bawa pasangan!". Amira. harus tahan banting dengan semua drama kehidupannya. Memutuskan untuk tinggal di kontrakan adalah keputusan yang paling tepat, set...
