“Attar”Pria dihadapan Amira mengulurkan tangannya, Amira pun membalas uluran tangan itu. “Amira”
Keduanya melangkah memasuki area sebuah kafe. Kafe yang humanis dengan hijaunya pepohonan menaungi area halaman itu dan bunga-bunga yang tertata rapi. Diluar halaman luas ini juga dimanfaatkan untuk area duduk pengunjung dengan memanfaatkan kursi bertipe jaman dulu, dan potongan kayu besar berbentuk lingkaran sebagai mejanya. Konsep yang bagus untuk jaman sekarang.
Jujur tadi selesai memeriksa luka pasiennya ini, Amira ingin langsung pulang saja. Namun, pria ini malah memintanya untuk makan bersama. Amira memang senang kalau ketemu sama yang namanya teraktiran tapi kali ini beda ceritanya. Bagaimana jika timbul gosip kan bisa berabe urusannya.
Sesopan mungkin Amira menolaknya tapi tak berhasil. Malah Syifa sibiang kerok malah menjadi pendukung pertama.
“Duduklah” Attar mempersilahkan Amira, Attar sendiri memilih duduk didepannya. Pria ini memilih tempat dipaling sudut berdekatan dengan air mancur dan kolam kecil dengan hiasan ikan yang berenang kesana kemari.
“Kamu sudah lama menjadi perawat” Attar membuka percakapan.
“Sekitar 4 taunan” jawab Amira, dia berharap pria didepannya ini tak bertanya tentang usianya atau sudah menikahkah dia.
“Saya jarang lihat kamu, pertama lihat pas malam itu?”
"Perawat kan juga gantian. Saya juga tidak selalu ada di area VIP" jelas Amira disambut anggukan Attar.
Amira jadi mengingat-ingat kejadian pertama kali dia melihat wajah pria didepannya ini bonyok penuh dengan perban. Amira mengulum senyumnya.
Amira memang lebih suka berada diarea ruang pasien kelas 2 atau 3. Disana dia mendapat pelajaran bagitu banyak tentang arti sebuah kepedulian. Soalnya dia pernah juga menangani pasien rawat inap di ruang VIP, seorang nenek yang selalu duduk merenung sendirian dengan keadaan yang lemah. Waktu Amira bertanya kesesama rekannya
“Nenek itu jarang dijenguk ya?”,
“Iya anaknya saja datang pas week end doang, itu pun Cuma 10 menit”
Kasian kan!.
Tapi ini semua tergantung pribadi keluarga masing - masing sih.
“Selamat sore ....”sapa pelayan cafe ramah namun dibarengi keterkejutan ketika melihat seseorang didepannya.
“Boss” ucapnya lirih kemudian. Kening Amira berkerut. Attar tersenyum, kemudian mempersilahkan Amira untuk memilih menu.
“Saya kedalam sebentar” pamitnya sambil berlalu.
“Tumben si bos bawa cewek” celetuk si pelayan bernama Ipang yang tertera di nametag nya.
“Dia....?”
“Dia bos disini alias pemilik cafe ini”jelas Ipang dengan senyumnya yang merekah.
“Ohhhh....” Amira Cuma ber-ah oh saja, dia tidak boleh kepo karena kalimat yang baru saja didengarnya. Jadi dia lebih memilih melanjutkan saja memilihat beberapa menu.
Sepeninggal pelayan itu Amira hanya duduk sendiri, dan ada beberapa pelayan yang melihat kearahnya bahkan tersenyum. Mungkin karena baru kali ini dia melihat cewek yang dibawa atasannya.
Amira membalas senyuman mereka.
Hampir 15 menit si bos itu tidak keluar-keluar. Ok. Ini memang kafe miliknya. Tapi bukan berarti dia harus diabaikan begini. Amira mulai bosan.
“Tar tolong gue” suara lemah disana tak mungkin diabaikannya. Tapi ...
Attar mempercepat langkahnya dan melewati pintu samping memasuki garasi yang berada disamping cafe itu. Kemudian menyalakan motornya.
Amira menyantap makanan didepannya dengan malas. Enak sih, tapi kini dia jadi pusat perhatian para pelayan diujung sana karena hanya duduk sendiri tanpa si bos.
Tiba-tiba Amira mendengar deru motor dan barulah saat itu kedua mata mereka saling bertatap, sekilas.
Amira duduk dilantai melihat televisi yang menampilkan drama kesukaannya. Entah seperti apa alurnya Amira tak mengikuti urutannya karena sif kerjanya. Mata boleh menatap kearah layar itu tapi pikirannya masih mengingat kejadian sore tadi. Amira membanting kesal bantal persegi itu.
“Menyebalkan”.
Amira beranjak kedapur dan tambah kesal karena galon airnya kosong.
Hufffhh....
Di mini market disebrang rumah kontrakaannya gadis itu membeli beberapa botol besar air mineral dan beberapa cemilan. Kemudian pulang dengan cepat-cepat. Udara malam ini cukup dingin.
Hampir sampai, tapi Amira menghentikan langkahnya karena seseorang yang berdiri disamping motor berwarna hitam.
“Ada apa?” Amira menghampirinya, bertanya dengan nada yang dingin.
“Maafkan saya, tadi ...” jelasnya terhenti karena Amira buru-buru memotong perkatannya.
“Tidak apa-apa.” Amira cukup tahu diri untuk menahan kekesalannya, “Dari mana kamu Tahu alamat rumah saya?” Amira memicingkan matanya.
“Tadi saya meminta Ipang mengikuti kamu”jelas Attar.
“Kamu ingin mematatai saya”nada Amira ketus mendengar penjelasan Attar.
“Bukan begitu, saya hanya ingin memastikan kamu pulang sampai dengan selamat” laki - laki itu masih mencoba menjelaskan.
“Saya bukan anak kecil” tegas Amira sambil melangkah pergi, namun tangan kuat itu menghalanginya, memegang lengannya.
“Maaf ...” Amira menoleh namun terpaku pada lengan dengan luka disana.
Lagi.
Mereka berdua duduk diteras rumah dan Amira mengolesi luka Attar dengan antiseptik.
Benar-benar pria ini, hobinya berantem. Baru diobati luka lagi. Batin Amira.
Attar menatap wajah Amira yang begitu serius mengobati tangannya. Luka lagi, dan gadis ini lagi yang mengobatinya.
Dia tidak ingin mengingat kejadian tadi sore. Cukup ini saja dan itu suda cukup membuat hatinya merasa tenang dan nyaman.
“Sudah”sentuhan terakhir dengan plaster.
Kedua pasang mata itu bertemu. Bukan Amira yang memulai tapi pria didepannya ini.
“Pulanglah”Amira mengakhiri dan memilih berdiri.
“Terimakasih .... saya pamit dulu”
Ada jeda diantara mereka ketika Attar melangkah pergi.
“Hati-hati” kalimat itu membuat Attar tersenyum sumringah sebelum dia benar-benar pergi.
Lelah. Attar menelungkupkan kepalanya dimeja kerjanya. Mengingat wajahnya dan rentetan masalahnya. Tapi plaster ditangannya berhasil mengeyahkan lelah itu.
Setelah urusannya selesai dengan para preman itu, Attar bergegas menuju alamat yang disampaikan Ipang tadi. Jujur dia juga merasa bersalah pada Amira. Dan gadis itu masih mau menerimanya bahkan mengobatinya lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Romantic Bronis
Romance"Salah ya! Kalau gue belum nikah di usia segini!. Salah juga ya kalau gue kemana- mana nggak bawa pasangan!". Amira. harus tahan banting dengan semua drama kehidupannya. Memutuskan untuk tinggal di kontrakan adalah keputusan yang paling tepat, set...
