Sadar

2.5K 138 0
                                        

Attar menahan mati-matian rasa yang meluap dalam dirinya.

Amira melihat ponselnya berkali-kali dan berkali kali juga pandangannya menyisir  area pintu masuk rumah sakit dan tak ada kemunculan Attar disana. Amira hampir menyerah menunggu kalau tidak ponselnya berdering memperlihatkan nama Attar disana, buru-buru diangkatnya.

“Raaaa ...” suara Attar terdengar diujung sana, berat dan serak membuat Amira khawatir.

“Ya ...kamu dimana? Tidak terjadi sesuatukan?”

Terjadi sesuatu Ra, tapi ini sangat menyiksaku. aku menginginkan mu.

“Aku di apartemen” Jawab Attar dan panggilan terputup.

Apa dia berasama gadis itu? Perasaan Amira benar-benar berkecamuk. Sisi lain dalam dirinya menginginkannya untuk kesana dan satunya lagi dengan jahatnya menghalanginya. Kamu tak kan tahu kejutan  seperti apa didepanmu. Dan keputusannya dia tetap pergi.

Otak dan tubuhnya benar dalam kondisi baik, nafasnya yang terengah dan dia berusaha untuk menyadarkan dirinya sendiri. Attar meraih kenop pintu kamar mandi melangkah masuk dan terduduk dibawah guyuran air yang dingin. Ini alternatif yang paling aman saat ini.

Ingatannya berkelana ke beberapa jam yang lalu, Setelah insiden jebakan Kanaya terhadap dirinya. Kucing mana yang tak tergiur dengan ikan yang ada dihadapannya. Tapi dia masih bisa mengontrol akal sehatnya.

Melihat Kanaya dihadapannya Attar membalikkan badannya. “Berhenti disana dan jangan mendekat ... ” ucap Attar terengah-engah.

“Aku hanya ingin bersama mu dan ... aku ingin memiliki mu”  Kanaya melangakah dan tangannya menyentuh lengan Attar, dan berhasil mengirimkan gelenyar panas diseluruh tubuhnya.

“Kanaya ... sampai kapan pun kamu tetap sahabatku bahkan setelah kejadian ini. Pergilah. Aku mohon “ Attar masih berusaha waras walau dia tahu selangkah saja Kanaya maju sekali lagi dia tak kan sanggup menahan semuanya. Detik kemudian kalimat itu ternyata berhasil membuat langkah kaki Kanaya mundur. Kalimat Attar cukup memukul keras dirinya.

Ya... seharusnya dia tak melakukan ini pada Attar karena selama ini Attar selalu menerima apapun keadaannya. Sadar kanaya ... dia sahabatmu, bukan pria hidung belang seperti pria yang selalu siap menerkammu. Kanaya memunguti bajunya dan memakainya dan air mata itu lolos dari pelupuk matanya.

Attar terduduk dalam kamar itu dengan nafas terengah. Panas tubuhnya benar-benar menyiksa meski dirinya sudah terguyur basah.

Amira mematung didepan pintu apartemen Attar. Dia bisa saja masuk dengan memasukkan nomer kode pintu didepannya. Itupun kalau belum dirubah. Dia bisa masuk dan menyaksikan apa yang ada dihadapannya. Atau dia pergi saja dan lupakan Attarmu.

Amira memasukkan empat angka yang pernah diucapkan Attar waktu itu. Dan Klik, pintu terbuka. Dalam ruangan itu gelap, Amira tak menemukan Attar diruang tengah itu. Dan langkahnya membawanya pada pintu kamar yang terbuka.

“Attar kamu dimana?”

Bukan jawaban yang iya dapatnya tapi rengkuhan lembut dipinggangnya.

“Kamu membuatku kaget” Amira hendak berbalik tapi Attar makin memeluknya erat dan nafas yang terengah itu mendarat disekitar leher hingga telinga Amira.

Dingin dan basah.

“Apa yang terjadi?”

“Ssstttt” Attar mengecup lembut leher Amira.

Amira kebingungan dengan prilaku pria dibelakangnya.

Attar semakin intens dengan mendarat kan kecupan kecupan panas yang membuat Amira juga terasa terbakar.

“Attarrr”Lenguhnya dalam rengkuhan Attar.

Attar benar-benar tidak dapat menahan semuanya ketika melihat Amira didepannya. Bahkan saat ini akal sehatnya hilang entah kemana. Attar membalik tubuh Amira, ditatapnya sebentar wajah cantik dihadapannya kedua mata Amira bercampur antara kebingungan dan gairah. Begitu sebaliknya Amira akhirnya bisa melihat Attarnya yang kini benar-benar berbeda. Dia sangat bergairah dengan tatapan matanya dan juga nafasnya.

“Maaf kan aku...” Attar mencium lembut bibir manis didepannya.

Amira masih terdiam dengan perlakuan Attar. Dia tidak tahu harus bagaimana, ini terlalu membuai. Dan ketika Amira membalas ciuman Attar saat itulah ciuman lembut itu berubah panas. Keduanya saling memagut dan menautkaan lidah masing-masing.
Attar membawa Amira untuk berbaring diatas ranjangnya, bibirnya menjelajah disekujur leher Amira dan desahan itu lolos dari mulut Amira bahkan jari jari Amira tak kuasa untuk tidak meremas rambut Attar.
Entah bagaimana Amira mendapatkan kesadarannya ketika kecupan Attar mendarat didadanya, dan satu tendangan lolos mengenai perut Attar dan membuat pria itu terduduk di lantai.































A Romantic BronisTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang