Suasana itu, dingin dan tak bersahabat. Semua memalingkan wajah. Menatapnya jijik. Seolah dia seperti hama ditaman bunga yang siap menghancutkan keindahannya.
“Hai ... main yuk” dari sekian anak – anak disekolah Attar hanya gadis berambut panjang ini yang mau menyapa dan mendekatinya.
Yah, saat pertama kali Attar masuk ke kelasnya Kanaya lah yang mendekatinya.
Attar yang tertunduk dikursi melihat gadis didepannya tersenyum ramah berbeda dengan semua anak disekolah ini yang menatapnya jijik karena dia dari panti asuhan, bagi mereka dia hanyalah manusia yang tak jelas asal usulnya.
“Ayo keluar jangan dikelas terus. Kita main ditaman” ajaknya ramah.
"Pergilah ..." tolaknya.
Tapi gadis itu tak pantang menyerah "Ayolah ... kumohon"
Attar ragu waktu itu tapi semuanya sirna ketika tanpa basa basi menarik tangan Attar dan membawanya keteman sekolah.
Semua anak-anak ditaman menatap heran pada kedua anak yang sedang berjalan beriringan itu.
“Jangan pedulikan mereka”
Attar mengikuti saran Kanaya sejak itu. Dia tidak akan menghiraukan lagi teman - teman sekolahnya yang selalu mengoloknya. FYI, Attar tidak pernah membalas kalau itu hanya sekedar olokan. Bunda selalu mengajarinya untuk tidak membalas. Mereka akan capek sendiri nantinya.
Attar dan Kanaya, berdua selalu bersama-sama disekolah maupun diluar sekolah. Bahkan gadis itu mengenalkannya kepada keluarganya dan mengajaknya kerumahnya yang terlihat seperti istana itu.
“Kamu pasti Attar” sapa perempuan berwajah cantik dan ramah itu menyapanya.
Attar mengangguk sopan. Ternyata Kanaya banyak bercerita pada mamanya tentang Attar si anak panti. Mama Kanaya sangat baik tidak pernah mengaggap Attar seperti kebanyakan orang berkelas menatapnya. Jika Kanaya mengajaknya kerumah wanita itu selalu memperlakukannya dengan baik.
“Attar ... sini ... ini buat kamu” Mama Kanaya mengeluarkan sesuatu dari tas besar yang baru saja dibawanya.
Satu set setelan baju membuat senyuman diwajah attar merekah. “Terimakasih tante” Attar berucap syukur dalam hatinya karena bagi anak panti sepertinya baju baru adalah barang langka. Hanya paradonatur panti yang akan memberi baju baru itu seingat Attar hanya satu kali dalam setahun.
Tapi bagi dia dan anak-anak yang lain kasih sayang dari Bunda fatimah lah yang paling penting.
Setiap pulang sekolah Attar menyempatkan waktu untuk belajar dengan Kanaya, tentu dengan seijin bunda.
“Kamu pintar Attar, padahal soal ini susah.” Keluh Kanaya sambil manyun.
“Hehehe ...ini mudah kok”ucap Attar pura-pura menyombongkan diri.
“Ih dasar sombong” Kanaya berhasil menimpuk Attar dengan bantal kecil yang ada diruang keluarganya. Obrolan kecil itu sekarang selalu ada diruangan itu. Dulu Kanaya biasanya hanya akan belajar dengan guru lesnya.
Kanaya bersyukur mempunyai teman akhhh dia bukan sekedar teman dia sahabat terbaik. Selalu bersamanya disaat dia kesepian karena Papa yang selalu sibuk dan mama yang selalu keluar bersama teman-temannya. Attar yang cerdas, dia selalu membantunya belajar menghadapi soal soal pelajaran yang sulit.
Bahkan Attar memberinya keluarga baru. Rumah panti yang menyenangkan, bunda Fatimah yang sayang padanya dan anak-anak yang menyenangkan. Kanaya bersyukur akan hal itu.
Dan semenjak saat itu Kanaya selalu menceritakan hal – hal menyenangkan dirumah panti hingga mamanya memutuskan untuk menjadi donatur tetap disana. Dan mamanya juga semakin dekat dengan dirinya.
Waktu terus berjalan dan mereka juga tumbuh dengan baik. Kanaya tidak mau pisah sekolah dengan Attar. Dimana Attar sekolah disitulah dia juga akan menempuhnya.
“Ma ... pokonya aku mau satu sekolah dengan Attar. Kalau aku pisah sekolah dengannya aku bisa bodoh lagi. Nggak pinter pinter. Mama mau aku jadi anak bodoh” rengeknya saat mereka tidak satu SMP.
Mama Kanaya menghela nafas. “Alasan kamu. Bilang aja mau nempel sama Attar terus. Kamu kan gagal tes masuk SMP itu, masak iya mama harus lewat orang dalam.. kan curang namanya”.
“Kanaya nggak mau tahu” .
Akhirnya dan entaah bagaimana caranya Kanaya bisa satu SMP lagi dengan Attar.
“Bagaimana bisa Kay ... kamu pakai cara curang ya!” selidik Attar. Kanaya hanya tersenyum lebar menandakan bagaimana pun caranya dia tidak peduli yang penting satu sekolah.
"Akhhh ...sudahlah. Ayo ke kantin"
Ingat kamu harus belajar. Besok tes.
Ok. Pak guru.
Mereka saling berbalas Sms. Perhatian sekecil apapun dari Attar selalu mebuat Kanaya merasa menjadi orang paling bahagia.
Bahkan saat ujian masuk SMA. Attar sudah mengingatkan Kanaya agar dia belajar.
Jangan lakukan seperti waktu masuk Smp lagi kay. Kamu kalau kamu usaha.
Perhatian yang selalu diberikan Attar padanya selalu membuatnya bahagia dan seperti ada rasa yang berbeda. Tapi Kanaya tidak mau menunjukkan rasa itu.
Attar memang anak yang lurus. Patuh pada bunda fatimah bahkan pada Mama Kanaya.
“Kalau Kanaya bolos kamu harus lapor tante" pesan sang mama, alhasil tak ada bolos membolos pas dia sekolah.
Hingga waktu dan keadaan itu harus membuatnya berpisah dengan Attar. Papa kanaya dipindah tugaskan keluar negeri dan dia juga harus ikut serta.
“Jaga kesehatan dia sana. Dan jangan lupa kasih aku kabar” pesan Attar waktu perpisahan mereka dibandara.
“Mmm ...tentu.”jawab Kanaya lesu. Bisakah dia tinggal disini saja berasama Attar. Dia tidak ingin pergi. Tapi tetap saja scenarionya tetap harus pergi. Kemudian gadis itu memeluk Attar erat.
Aku tidak ingin pergi, bisakah kamu memintanya pada mama dan papa agar aku tetap disini bersamamu.
“Aku sayang kamu Attar.”
Kalimat terakhir yang tulus ia ucapkan sebelum semua bencana dalam hidupnya datang satu -persatu.
Selama diluar negeri Kanaya beberapa kali membalas pesan Attar, mengabari keadaannya yang sebenarnya tidak baik-baik saja. Dia tidak ingin menyusahkan Attar dengan keadaannya.
Hingga titik kehancuran itu dia memutuskan tidak lagi membalas semua pesan Attar.
Attar dan Kanaya dalam perjalanan menuju tempat yang sering dia datangi untuk membawa Kanaya keluar, tempat keji itu. Hari ini Kanaya bersedia untuk keluar dari tempat itu. Berapapun dia akan berikan pada para bajingaan tengik itu asal sahabatnya bisa pergi dari sana selamanya.
Attar mengambil ponselnya dan menekan nama Amira disaana.
“Ra ... “
“Mmmm ...”
“Aku akan sedikit lama diluar. Jika ....”
“Aku akan menunggu disini, lagi pula hari ini aku libur”
“Terimakasih .... Beri aku satu kecupan”
Amira tersenyum disana. Dari tadi pikirannya melayang entah kemana. Dia tahu Attar akan lama dengan Kanaya. Dan dia paham. Dia hanya butuh agar hati dan pikirannya bekerjasama. “Muachhh ... hati-hati disaana”.
Dan panggilan itu berakhir. Setidaknya dengan mendengar suara Amira dia bisa tenang.
Kanaya memalingkan wajahnya menelusuri jalan dipinggir sana. Attarnya sudah menjadi milik orang lain. Tapi Attar tetaplah Attar, pria yang baik hati.
“Maafkan aku sudah menyusahkanmu. Kalau ada kesempatan bolehkan aku mengenalnya” Kanaya tulus ingin mengenal gadis yang dicintai Attar itu.
“Tentu”.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Romantic Bronis
Romansa"Salah ya! Kalau gue belum nikah di usia segini!. Salah juga ya kalau gue kemana- mana nggak bawa pasangan!". Amira. harus tahan banting dengan semua drama kehidupannya. Memutuskan untuk tinggal di kontrakan adalah keputusan yang paling tepat, set...
