“Lo mau ngajak gue kemana sih!”
“Makanlah... sama cuci mata” jelas Syifa, gadis itu tersenyum sumringah sambil menggandeng tangan Amira.
Syifa mengajak Amira ke cafe yang membuatnya melongo.
Cafe ini. Berarti .....
“Ayo ...”
Amira mematung ditempatnya, terpaksa Syifa menarik tangannya.
Mereka disambut pelayan kafe.
Dan apesnya ternyata pelayan yang sama waktu Amira pertama kali ke cafe ini. Menyadari gadis didepannya, gadis yang dibawa bosnya. Akhh... tepatnya ditinggal begitu saja. Ipang melongo namun buru-buru Amira menempelkan ibu jari didepan mulut. Ipang mengerti maksud gadis didepannya itu. Untung lah Syifa tak melihat itu, temannya lagi sibuk clingak clinguk seperti mencari sesuatu.
“Lo nyari apa sih?”
“Nyari si ganteng”
Si ganteng? Jangan -jangan dia tahu kalau pemilik tempat ini si pasien. Atau jangan – jangan syifa juga pernah diajak kesini. Membayangkan itu membuat Amira mual.
Playboy!.
Ipang menyerahkan buku menu dan keduanya memesan beberapa menu andalan kafe ini.
Ramen disiang hari. Menu makan siang Amira. Padahal tiap harinya dia selalu di temani si indomie sekarang malah makan mi lagi.
Ramen disini benar -benar enak. Amira menyantapnya dengan penuh khidmat berbeda dengan Syifa yang masih dengan kegiatan semulanya. Makan... liat sana -sini.
Tiba-tiba gadis berambut sebahu disampingnya melambaikan tangan. Amira menelusuri arah pandangan Syifa.
Oh .... Tuhan. Dia muncul juga.
Kaos putih dan celana olahraga selutut, dan ear phone yang menggantung bebas dibahu lebarnya.
Deg ...deg. entah kenapa jantungnya berdetak cepat dan hampir meledak.
Pria itu tersenyum kearahnya. Berjalan ke arah mejanya. Melambaikan tanganya membalas sapaan Syifa.
“Hai ...”
Dia mengambil tempat tepat didepan Amira.
Dan dia sedang berbica dengan Syifa tapi tatapan mata sesekali tertuju padanya.
“Pada libur semua ya minggu ini”
“Iya ...makanya ke sini. Nih si Amira juga gue ajak. Dari pada Cuma diam dikontrakan” Syifa menyenggol lengannya.
Dasar Syifa semprul nggak perlu siaran gitu kali.
“Lo abis olahraga ya?” Attar tersenyum mengiyakan.
"Iya. Gue cuma lari sekitar sini doang"
Gue-Lo? Ok. Mereka terlihabat cukup akrab. Gue udah berasa nyamuk disini. Hush ...hush pergi.
“Amira ...” Kalimat Attar itu menguar tak berlanjut ketika Amira menyentuhkan kakinya pada kaki Attar.
Attar mengernyit bingung.
Stop. Jangan dilanjutin. Itulah makna tatapan mata Amira.
Ok. Attar paham.
Ponsel di meja bergetar, panggilan masuk. Syifa si pemilik ponsel melongok ke layar yang menampilkan sebuah nama, “Aduh Mama gue telpon lagi”
“Iya ma ....hah! Di kontrakkan. Iya ... iya Syifa pulang” gadis itu mematikan benda persegi panjang itu. Mukanya benar-benar muram mengenaskan.
“Gue pulang dulu ya Ra...mama dikonrtakan”
“Ayo....” Amira beranjak berdiri, tapi urung juga.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Romantic Bronis
Romance"Salah ya! Kalau gue belum nikah di usia segini!. Salah juga ya kalau gue kemana- mana nggak bawa pasangan!". Amira. harus tahan banting dengan semua drama kehidupannya. Memutuskan untuk tinggal di kontrakan adalah keputusan yang paling tepat, set...
