KAMU LAGI

4.7K 257 5
                                        

Entah lah. Amira terus teringat wajah pasien alias pria itu. Bahkan disaat dijalan gini masih saja ingat.

Langkah amira terhenti memperhatikan seseorang yang terduduk disamping mobil.

Nggak usah diperhatikan Ra ... ayo jalan lurus.

“Tolo ...nnnggg” suara lemah itu memanggil seperti tahu kalau ada sesorang yang lewat.

Amira mematung ditempat. Kedua sisi dari dirinya mulai membuatnya bingung.

Akhhh... kenapa harus gue sih.

Amira mencoba mendekat, tercengang sesaat ketika mengetahui siapa pria didepannya itu.
Dia lagi. Luka lagi.

“Tolong”pintanya lemah sesat menatap kearah Amira dan tangannya menarik ujung lengan jaket Amira.

Kemudian Amira mengambil hpnya dari dalam tasnya, mencoba membuka aplikasi uber.

Selama perjalanan mengantar pria ini, sesuai dengan alamat yang diucapkan pria yang sekarang terduduk lemah disampingnya.

Uber  berhenti didepan bangunan yang menjulang tinggi. Apartemen yang cukup mewah untuk ukuran pria yang hobinya berantem terus.

Amira menopang tubuh pria ini sesuai lantai berapa dia harus mengantarnya dan sesuai nomer  apartemennya.

“eohhh ... berapa kodenya?”Amira menatap tombol kunci pintu itu sambil menahan berat tubuh pria ini.

“3690”ucapnya lemah.

Waktu itu juga bunyi klik pertada pintu terbuka.
Amira membawa tubuh itu kesah satu ruangan kamar tidur. Ruangan yang dominan dengan warna putih dan bersih.

“Ada kota P3K?” pria itu menunjuk meja  disamping ranjang, Amira mengikuti arah telunjuk pria itu. Amira menghela nafas ketika mendapati isinya hanya plaster luka. Dengan santai dia melangkah menuju dapur dan mengambil air dingin dari dispenser air kemudian mencari handuk atau apapun untuk mengkompres luka.

Pria itu mengernyit ketika Amira membersihkan luka dengan alat seadanya kemudian mengompres beberapa luka di wajah dan lengan.

Selesai.
Dia harus segera pulang. Sebelum keluar dari kamar itu Amira mencari selembar kertas dan pena dia harus meninggalkkan pesan ini kalau tidak luka pria ini bisa membengkak.

Saya sudah melakukan pertolongan pertama. Selanjutnya anda bisa kompres dengan air hangat selama 20 menit 3 kali dalam sehari.

Dia. Pertama kali bertemu, wajahnya penuh luka. Ketemu lagi, luka lagi. Hobi berantem kali ya. Batin Amira, kemudian menyelimuti pria itu.

Attar, terbangun dengan nyeri yang lumayan ngilu diwajahnya. Dia mencoba mengingat kejadian semalam. Yah, gadis itu menolak lagi. Dan kejadian semalam membuat darahnya bergolak marah. Tapi kemudian ada wajah yang bergitu sangat diingatnya. Dia lagi. Senyum itu terukir diwajah Attar yang kebiruan.
Perlahan dia terbangun dan kedua matanya melihat kertas putih dimeja samping tempat tidurnya.
“Pesan dari seorang perawat” ucapnya setelah sederet instruksi dikertas itu berhasil dia baca.

Amira melangkah dengan wajah lesunya. Semalam sepulang dari apatemen pria itu dia benar-benar tidak bisa tidur. Apa lagi pria itu pakai acara mengigau sebelum Amira benar-benar meninggalkannya. Sepertinya habis patah hati. Wajah bonyok gitu? Apa jangan-jangan bawa lari pacar atau istri orang? Terkanya.

“Pagi mbak Amira” Sapa Jaka satpam rumah sakit. Si Jaka tersenyum lebar banget sambil menyodorkan  kantong kresek bertuliskan nama sebuah kafe, lengkap dengan isinya satu kotak putih dan sebuah minuman.
Amira mengernyit bingung. Seumur-umur bekerja dirumah sakit ini belum pernah si Jaka nyodorin makanan ala beginian. Paling banter singkong goreng bumbu bawang putih kesukaan Amira. Itu masuk daftar makanan kesukaannya karena memang enak rasanya.
“Ini buat mbak Amira. Tadi ada mas ganteng nitip ini. katanya buat perawat yang bernama Amira. Berhubung dirumah sakit ini cuma mbak yang punya nama itu, berarti ini buat mbak” jelasnya panjang kali lebar.

“Yakin kamu, ini buat saya” Amira masih bingung. Semoga saja tak ada pasien yang dendam padanya hingga berniat mencelakainya.

“Ya udah sini saya bawa. Tapi kalau salah orang, kamu yang tanggung jawab ” goda Amira sambil nakut – nakuti si Jaka.

FYI, Amira memanggil nama Jaka tanpa embel – embel apapun karena itu permintaan si Jaka sendiri. Katanya karena Amiralah orang ibu kota pertama yang menyapanya dengan sangat ramah, dan aalasan kedua, kata Jaka karena dia masih muda. Heh dasar si Jaka.

“Mbk Amira ini orangnya ramah banget. Dari tadi saya ketemu orang kok ya jutek jutek gitu, apa karena saya orang kampung ya mbk” ini kalimat yang keluar pas pertama Jaka bertemu Amira

“Terimakasih bantuannya, perawat yang baik hati.” Amira menemukan kertas berisi kalimat ini di dalam kotak itu. Kotak berisi roti bakar dengan wangi mentega yang membuat perutnya keroncongan lagi. Padahal tadi sudaah sarapan. Amira memutuskan untuk menyantap rejekinya. Mubazir kan kalau nggak dimakan. Di dalam botol kaca kecil itu ada susu segar juga. Perfect.

2 hari kemudian ...

“Ra bisa tolong nggak ... gue kebelet ketoilet nih. Ada pasien di ruang IGD. Tolong ya” Syifa tiba - tiba pergi tanpa mendengar jawaban Amira. Padahal ini waktunya dia pulang dan berganti sif dengan perawat lain.

Amira memasuki ruangan yang diminta Syifa.
Dunia ini tak sekecil peribahasa itu kan?
Dia lagi.

A Romantic BronisTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang