KIDNAPPING

1.4K 175 71
                                    

Seorang pria berjalan di sebuah lorong rumah sakit. Seringaian tercetak jelas di wajahnya. Begitu terlihat dengan jelas bagaimana liciknya orang tersebut. Langkah tegap yang begitu berwibawa membuat siapapun melihatnya langsung memundurkan langkahnya untuk membuka jalan, entah itu karena rasa takut ataupun segan dengan orang tersebut. Pakaian yang begitu mewah. Jas berbalut mantel, celana panjang dan sepatu kulit berwarna hitam mengkilap yang terlihat begitu mahal, serta tatanan rambut yang begitu rapi, menambah kesan berwibawa yang terus menguar dari dirinya.

Suara ketukan sepatu yang beradu dengan dinginnya lantai lorong tersebut. Lorong yang tak begitu padat dengan petugas ataupun pasien membuatnya semakin cepat menuju tujuannya.

"Sudah begitu lama aku tak menemuimu. Oh. Se. Hun" kembali seringaian ia lukiskan di wajah tampannya. Wajah yang terkadang terlihat seperti malaikat, namun nyatanya yang ada di dalam dirinya adalah iblis mengerikan yang siap mengambil semua jiwa yang ada.

"Hah~ dan tentu saja aku merindukanmu, pemuda malang" kali ini seringaiannya luntur entah ke mana dan digantikan dengan senyuman hingga matanya tertutup sempurna, manis namun menyeramkan di saat yang bersamaan.

Tiba di depan ruang inap Sehun, ia pun tanpa segan membuka pintu itu. Pintu terbuka dan yang ada di dalam pun sedikit terkejut dengan kedatangan seseorang yang telah mengakhiri hidup ayahnya.

"Untuk apa kau kemari?" Begitu dingin. Tatapan mata pun seakan menusuk hingga ke tiap sendi. Kebencian Sehun terhadapnya tak dapat ia lupakan begitu saja walau Kai menjelaskannya hingga manapun, tetap saja di mata Sehun, Junmyeon adalah orang bersalah.

"Tentu aku datang menjenguk kerabatku. Aku tak setega itu untuk tidak menjengukmu, Sehun. Aku khawatir denganmu" tersenyum pada Sehun yang masih tak mengendurkan ekspresinya. Masih tetap sama seperti itu.

"Orang brengsek sepertimu masih mengkhawatirkanku? Tutup mulut sialanmu itu!" Ingin rasanya Sehun menarik kerah kemeja Junmyeon, namun apa daya, ia masih sadar dengan kondisi tubuhnya dan tentu saja ia tak ingin merepotkan Luhan. Ia tak ingin Luhan menangis lagi.

"Ah ya...di mana orang yang selalu menjagamu itu? Luhan, pria kesayanganmu itu" menyeringai ke arah Sehun yang semakin memancarkan amarah yang teramat sangat. Kilatan kebencian terus terpancar dari mata Sehun.

"Ju.yon.si?" Tiba-tiba saja Luhan masuk ke ruang inap dan membuat Sehun membulatkan matanya. Pasalnya ini bukanlah waktu yang tepat untuk Luhan. Sehun yakin betul jika Junmyeon menginginkan sesuatu dari Luhan.

"Wah wah...tak kusangka ternyata kau, Luhan" tersenyum dan dengan cepat menghampiri Luhan. Menjabat tangan Luhan. Sementara Luhan hanya bisa memasang wajah bingungnya. Menatap Sehun sekilas, dan yang ditatap pun memasang wajah takutnya. Takut kehilangan Luhan.

"Bagaimana kabarmu, Luhan?" Tersenyum pada Luhan, namun senyuman yang berbeda seperti tadi yang ia berikan pada Sehun. Benar-benar berbeda dari sebelumnya.

Sehun merasakannya. Aura yang berada di sekitar Junmyeon benar-benar berbeda kala berada di dekat Luhan. Namun Sehun tetap curiga pada Junmyeon yang seperti itu.

"Sungguh aku tak mengerti dengan orang brengsek itu. Seharusnya kau kunci pintu ruangannya" tiba-tiba saja ia mendengar suara Shixun di kepalanya. Tentu saja Shixun juga tak menyukai Junmyeon, bahkan rasa benci Shixun lebih dalam dari rasa benci Sehun.

"Kau saja tak mengerti, lalu bagaimana denganku? Aku pun tak mengerti dengan sikapnya. Aku tak mengerti mengapa bajingan sepertinya masih hidup sampai sekarang" menyahut dalam pikirannya. Agak sulit memang, namun inilah hal yang mereka anggap efektif untuk saling berkomunikasi. Sehun ataupun Shixun tak perlu untuk sekedar tak sadarkan diri hanya untuk dapat menyampaikan isi pikirannya.

UNE BELLE VOIX [HunHan] | ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang