Berjalan dengan banyak pemikiran yang ada di kepalanya. Kadang kala ia akan menggeleng untuk tidak berpikir yang tidak-tidak terhadap dua sahabat itu. Tapi tiap kali ia mencoba berpikir jika Sehun maupun Kai sebenarnya pribadi yang tak sekeras sekarang, pikirannya juga secara perlahan tak mendukung pemikirannya sebelumnya. Entah kenapa ia berpikir jika Sehun adalah orang yang baik pada dasarnya, namun seiring sesuatu hal yang Sehun alami, membuat diri Sehun begitu keras dan setiap harinya tembok pertahanan ia buat begitu kokohnya. Sama seperti Kai, namun ia pikir jika Kai tak serapuh Sehun. Luhan tahu jika Sehun begitu rapuh namun menyembunyikannya dengan berlaku sebagai penguasa yang begitu kejam.
Kini Luhan yang tak tahu harus berbuat apa dan bingung dengan keadaannya saat ini yang begitu dibenci oleh Sehun dan sekarang ditambah dengan Kai. Luhan tahu jika Kai juga membencinya karena sebelumnya bukan hanya Sehun saja yang memperlakukannya dengan keji, namun Kai juga. Ditambah tadi ia dibentak oleh Kai hingga ia memilih langsung meninggalkan tempat itu. Mata Luhan dapat melihat amaran di mata Kai.
Apakah ia salah sudah menolong Sehun?
Apakah kesalahannya begitu besar hingga Kai semarah itu padanya?
Di mana letak kesalahannya?
Sungguh, ia tak mengerti dengan keadaannya saat ini. Semua yang ia lakukan begitu salah di mata Sehun utamanya. Terus bertanya pada dirinya sendiri walau ia tahu jika ia akan sulit untuk mendapatkan jawabannya.
Bagaimana aku bisa meluruskan semua ini?
Aku terlalu takut untuk menatap matanya, untuk saat ini. Bagaimana bisa aku bercakap-cakap dengannya?
Mengapa dindingnya begitu tinggi untuk bisa ku lewati?
Begitu sulit namun terlalu rapuh.
Hingga kini, pemikirannya hanya berpusat pada Sehun yang entah sejak kapan sudah memenuhi kekhawatirannya. Dan kini, ia pun berpikir untuk sekedar menanyakannya pada Kyungsoo walau sore telah tiba, namun Luhan masih berharap jika Kyungsoo masih berada di kelas dan menunggu dirinya. Luhan benar berharap pada Kyungsoo agar bisa menolongnya.
Baru ia hendak memasuki kelas, langkahnya sudah dicegah oleh seseorang.
"Luhan..." bingung tentu saja karena selama ia pindah ke sekolah ini, tak ada yang akan mendekatinya dengan begitu lembutnya. Ditambah memanggil namanya dengan suara yang tak ada unsur mengejek atau mencibirnya.
"Ah...kau pasti belum tahu siapa aku..." Luhan hanya bisa mengangguk pelan dan sedikit memiringkan kepalanya membuat lawan bicaranya tersenyum. Begitu lembut pikir Luhan.
"Aku Baekhyun, teman...atau sahabat Kyungsoo mungkin?" Kembali tersenyum dan menatap Luhan yang masih mengerjapkan matanya. Memproses apa yang dikatakan orang yang ada di hadapannya ini.
"Kalian lihat? Satu orang sampah bertemu dengan sampah yang lainnya" Luhan dan Baekhyun tentu mendengarnya. Walau hanya melintas saja, namun berbekas di hati Luhan. Namun yang ia anehkan, kenapa jika orang lain mem-bully dirinya ia begitu merasa sakit, sedangkan jika Sehun yang melakukannya ia merasa begitu prihatin. Prihatin pada dirinya sendiri dan pada diri Sehun.
"Jangan kau dengarkan suara yang tak jelas itu" mendekat ke arah Luhan dan meletakkan tangannya di bahu Luhan.
Luhan hanya tersenyum dan menggerakkan telapak tangannya menuju bibirnya, berusaha mengatakan terima kasih dan selanjutnya ia pun meletakkan kepalan tangannya di depan dadanya, memutarnya searah jarum jam berusaha mengatakan maaf.
Baekhyun hanya menggeleng dan ikut menggerakkan telapak tangannya tegak dan bergerak ke arah depan. Ia gerakkan kemudian telapak tangannya lagi untuk mengisyaratkan kata tidak. Selanjutnya ia tekut jari telunjuk dan jari tengahnya dan selanjutnya ia gerakkan lagi membentuk huruf 'M' dan 'K' dan terakhir ia pun menggepalkan tangannya di depan dada dan memutarnya searah jarum jam.

KAMU SEDANG MEMBACA
UNE BELLE VOIX [HunHan] | ✔
Fanfic#1 on Disability #20 on SeLu #601 on School Life Sebuah suara yang tidak dapat kau dengar, suara yang kadang membuatmu terusik begitu juga yang dirasakan oleh Sehun. Satu kelas dengan orang tuna rungu entah mengapa membuatnya begitu kesal dan ingin...