Menyimpan hal yang tak harus kita simpan bukanlah suatu hal yang mudah. Terus dihantui dengan berbagai hal yang datang begitu saja menakuti hari-hari kita. Tak pernah tenang dengan semuanya. Namun berbeda dengan Kai, ia begitu ahli dalam menyembunyikan sesuatu bahkan Sehun pun dibuat geram karenanya. Begitu muak dengan kebohongan Kai semenjak Sehun jatuh sakit.
"Bukankah kau berjanji untuk mengatakan semuanya padaku?" Sehun berusaha sesabar mungkin untuk menghadapi sikap Kai yang entah sejak kapan sudah berbeda dari biasanya. Kai yang dulu tak akan seperti ini, bahkan ia akan mengatakan semuanya dengan jujur tanpa berpikir panjang lagi.
"Apa lagi yang harus aku katakan? Si gagu itu belum keluar dan belum sadarkan diri, jadi aku tak akan mengatakannya padamu" menyeringai seolah meremehkan Sehun yang sudah mengepalkan tangannya erat hingga memutih.
"Kau...."
"Aku pergi" seolah pembicaraan mereka tak berarti dan Kai pun langsung pergi begitu saja melewati Sehun yang sudah tak kuasa menahan amarahnya. Yang ia inginkan hanya kebenaran dan tak ada kebohongan yang kemudian menjadi rahasia.
"Brengsek kau, Kai!" Berlari ke arah Kai dan langsung memukul rahang pemuda tan itu dengan pukulan yang sangat keras hingga membuat Kai tersungkur dan sedikit memerah di area rahangnya.
Ia posisikan tubuhnya di atas tubuh Kai dan terus memukul wajah Kai hingga lebam dan darah pun keluar dari pipi dan bibirnya. Kai tak membalas seperti orang pasrah dengan pukulan Sehun yang tak terkendali.
"Kau!"
UHUK
Saat terbatuk, darah pun keluar dari mulutnya dan membuat Sehun menghentikan pukulannya. Tangannya masih menggantung di udara, ia tahan hingga tangannya pun bergetar.
"Lanjutkan saja" dengan seringaian tercetak jelas di wajahnya dan dengan darah yang masih menetes dari mulutnya, Kai mengatakan itu dengan mudahnya. Seolah ia memang berniat untuk mati di tangan Sehun.
"Kau tak seharusnya seperti ini, keparat! Katakan yang sebenarnya!" Masih mendesak Kai untuk mengatakan sebenarnya dan Kai pun hanya tertewa meremehkan Sehun.
"Apa yang membuatmu begitu penasaran dengan siapa yang menyelamatkanmu?" Mendorong tubuh Sehun hingga Sehun pun tersungkur.
"Jika aku katakan, itu memang diriku yang membawamu ke ruang kesehatan karena melihat si gagu tuli itu berlari terbirit-birit dari arah kamar mandi dan aku langsung menuju kamar mandi untuk melihat apa yang terjadi, dan di sanalah aku menemukanmu"
"Cukup! Aku tak ingin lagi mendengarnya. Dia...dia pergi begitu saja? Ah~ selain tuli dan bisu, dia juga bukan manusia...cih!" Amarah yang tadi diluapkan pada Kai pun kini beralih ia luapkan pada Luhan. Sehun begitu mudahnya untuk percaya pada orang yang sudah begitu dekat dengannya.
"Ya seperti itulah dan kau berhutang padaku, kau harus membawaku ke ruang kesehatan dan mengobatiku" bangun dari duduknya walau sedikit sulit ia lakukan karena wajah dan tubuhnya begitu sakit akibat Sehun.
"Aku tak sudi mengobatimu, obati saja dirimu sendiri" dan pergi begitu saja meninggalkan Kai yang menyeringai begitu mengerikan.
"Wah wah...sepertinya akan ada pertunjukan besar. Aku tak sabar melihat pengganggu hubunganku dengan Kyungsoo berakhir di tangan Sehun"
.
.
.
.
.
Amarahnya terlihat jelas menguar membuat siapa saja yang melihatnya bahkan berpapasan dengannya di rumah sakit begitu takut melihatnya. Sangat mengerikan untuk seukuran anak sekolah menengah atas.

KAMU SEDANG MEMBACA
UNE BELLE VOIX [HunHan] | ✔
Fanfiction#1 on Disability #20 on SeLu #601 on School Life Sebuah suara yang tidak dapat kau dengar, suara yang kadang membuatmu terusik begitu juga yang dirasakan oleh Sehun. Satu kelas dengan orang tuna rungu entah mengapa membuatnya begitu kesal dan ingin...