Januari 2004“Gimana si Damu?”
“Minta putus pas tahu hamsternya gue tinggalin di
sekolah.”
Jawaban Ditto sukses membuat Ayu tertawa. Ditto
menggeleng samar melihat ulah sahabtatnya. Beberapa hari yang
lalu ia memang sengaja meninggalkan hamster Damu di sekolah.
Toh ia juga tidak mungkin memelihara hewan tersebut.
Esoknya, saat Damu tahu bahwa hamster pemberiannya
ditinggalkan begitu saja di sekolah, cewek itu marah dan akhirnya
mereka pun putus. Katanya ia sudah tidak tahan lagi dengan
cueknya Ditto—yang awalnya ]dianggap keren, juga karena Ditto
tidak memiliki cukup banyak kasih sayang terhadap hamster yang
ia berikan.
“Ketawa aja, Cha. Sampe lo puas,” sindir Ditto sambil
bersandar di tembok studio seraya menunggu teman-temannya
yang lain datang.
“Oke, gue nggak ketawa lagi,” ucap Ayu setelah berhasil
meredakan tawanya. Ia melihat ke sekeliling, teman-teman satu
bandnya belum banyak yang datang. Baru Doni yang sedang
berkutat dengan buku yang berisi kumpulan lagu hits di tahun ini
dan Ivan yang sedang memainkan gitarnya di sudut lain studio.
“Anak-anak pada ke mana? Tumben telat.”“Palingan sebentar lagi juga pada nongol,” komentar
Ditto. “Denger-denger, lo sekarang sama artis ya?”
Ayu mengangguk. “Gitu deh, udah hampir lima bulanan.”
Setelahnya pembicaraan mereka berbelok ke arah lain,
seperti kelas Ayu yang sering ribut di mata pelajaran tertentu
karena gurunya jarang masuk, atau tawuran minggu lalu yang
membuat jalanan di dekat sekolah mereka ditutup karena
banyaknya polisi dan masyarakat yang membubarkan tawuran
tersebut.
Namun di balik semua pembicaraan itu Ditto sadar, Ayu
tak pernah benar-benar membicarakan pacar barunya dengan
Ditto. Hanya sepintas lalu. Yang bahkan namanya saja kadang-
kadang Ditto lupakan.
Satu hal yang Ditto pelajari, umur hubungan Ayu
sepertinya takkan lama. Cewek itu saja tak pernah benar-benar
bercerita kepadanya.
Tak lama studio mulai ramai dengan teman-teman satu
band mereka. Saat ini mereka harus sering-sering latihan untuk
bersiap menghadapi turnamen band yang akan segera mereka
hadapi.
***
Ingatan Ditto melayang kembali saat awal perkenalannya dengan
Ayu.
Hari itu adalah hari pertama ia menginjakkan kaki di SMP
19 setelah resmi dinyatakan lulus masuk menjadi siswa SMP ini.
Di lapangan, semua murid baru dibariskan dan pihak OSIS yang
menjadi panitia MOS mulai menyebutkan nama serta di
kelompok mana mereka berada. Setelah semua murid sudah
berbaris sesuai dengan kelompoknya, masing-masing kelompok
masuk ke dalam kelas sesuai dengan arahan senior Pembina tiap
kelompok. Ditto memilih duduk di posisi tengah-tengah kelas.
Kursi di sebelahnya masih kosong selagi anak-anak lain masih
bergiliran masuk dan mencari meja masing-masing.
“Ada orang nggak?”
Ditto menoleh, mendapati seorang cewek yang rambutnya
dikuncir satu sedang menatapnya dengan matanya yang besar.
Cewek itu menunjuk kursi di samping Ditto yang masih kosong.
“Masih kok.”
“Gue duduk di sini ya.” Dan tanpa menunggu persetujuan
atau penolakan Ditto, cewek itu sudah duduk di sampingnya.
Ditto tahu siapa cewek di sebelahnya ini. beberapa orang
yang ia lewati tadi pagi bilang kalau cewek bernama Ayudia akan
masuk di sekolah ini sebagai siswa baru. Ditto tentu punya
televisi di rumahnya, jadi ia tahu persis siapa yang kini duduk di
sebelahnya.
Tapi, ternyata cewek itu tidak benar-benar persis seperti
yang ada di layar kaca. Cewek ini … lebih dari sekadar apa yang
dilihat Ditto dari televisi.
“Gue Ayu,” ujar Ayu membuyarkan lamunan Ditto dan ia
pun menyodorkan tangannya kepada Ditto, yang langsung dibalas
oleh jabat tangan yang kikuk.
“Gue Ditto.”
Setelah perkenalan itu dan MOS telah selesai, ternyata
keduanya masuk ke dalam kelas yang sama. Wali kelas mereka
menyuruh mereka duduk dengan lawan jenis, karena kalau cewek
duduk dengan cewek, pasti akan ribut bergosip. Kalau cowok
duduk dengan cowok, pasti akan kompak membuat onar. Ditto
dan Ayu yang sejak MOS sudah duduk berdua langsung
menyambut perintah itu dengan gembira.
Jadilah, selama kelas satu mereka duduk bersama.
Lama-kelamaan Ditto tahu bahwa Ayu cewek yang benar-
benar tomboy. Setiap Ditto main sepak bola bersama anak kelas
lain di lapangan, cewek itu akan dengan senang hati
menemaninya. Gayanya yang cuek dan berantakan layaknya
cowok membuat cewek itu benar-benar mudah untuk membaur
dengannya dan teman-temannya yang lain. Ujung-ujungnya, Ayu
jadi ditakuti banyak orang karena gayanya yang ‘preman banget.’
Tapi Ditto tidak mempermasalahkan hal tersebut. Mau Ayu
yang seperti apa, ia akan tetap bersahabat dengannya dan … ia tak
pernah bisa melepaskan tatapannya dari cewek itu, sekalipun
cewek itu tidak pernah sadar kalau Ditto selalu menatapnya
dengan tatapan yang berbeda.
*
Jangan lupa like sama komentar yaaa

KAMU SEDANG MEMBACA
TEMAN TAPI MENIKAH
RomanceProlog "Gue kira lo nggak balik ke sini," ujar Ayu begitu melihat sosok Ditto. Perhatian Ayu kembali kepada Ditto. Saat kedua mata sahabatnya menatap tetap di manik matanya, Ditto tertegun sesaat. Kemudian, keberanian yang tak pernah terkumpul sela...