T I G A

2.7K 63 0
                                        

“Nggak bakal bisa serius sama si kesayangan.Tetap menjadi teman terbaik ya, Cha.”


April 2004
Selain satu band, Ayu dan Ditto selalu hampir bersama
ketika mereka ada di lapangan sekolah mereka. Terutama kalau
sedang ada pertandingan futsal. Kalau di pertandingan futsal, Ayu
biasanya ada di barisan para supporter yang siap mendukung
Ditto kapan pun cowok itu turun ke lapangan.
Sebenrnaya bukan Ayu saja yang menjadi supporter untuk
Ditto. Banyak cewek di pinggir lapangan lainnya yang
meneriakkan nama Ditto dengan heboh. Namun mereka terlalu
takut untuk berada di dekat Ayu saat menjadi supporter.
Jangankan saat di lapangan, di mana pun area sekolah yang
terdapat Ayu, sebisa mungkin mereka akan jaga jarak.
Bagaimana tidak, cewek itu bisa dibilang memang seperti
‘preman’ sekolah. Bajunya yang selalu gombrong, rambut
panjangnya dikuncir kuda tanpa pernah digerai, teman-teman
bermainnya kebanyakan adalah cowok. Bahkan cara jalannya pun
seperti preman sungguhan, menurut beberapa orang.
Tapi Ayu sendiri cuek dengan hal itu. Buat apa peduli
kalau sahabatnya tak mempermasalahkan hal itu?
Saat ini kelas Ditto dan Ayu sedang bertanding futsal
sesuai jam sekolah. Sparing antar-kelas memang sudah biasa
dilakukan, pun dengan Ayu yang memilih untuk mendukung Ditto
darupada kelasnya sendiri, bagi kelas 2-2, itu sudah biasa.
Ayu melihat ke sekelilingnya, begitu banyak cewek-cewek
yang bukan berasal dari kelasnya atau kelas Ditto ikut menonton
di pinggir lapangan. Sesekali matanya menangkap tatapan
antusias mereka jatuh kepada Ditto.
Ayu akui, Ditto memang keren di kalangan mereka. Ketua
OSIS, pemain perkusi di band sekolah, jago di lapangan futsal,
dan juga pintar di kelas. Belum lagi sifat supelnya yang mampu
membuatnya mudah berbaur. Tak heran kalau bayak perempuan
yang kadang-kadang iri dengannya, karena ia bisa bersahabat
dengan Ditto.
Ada juga yang dengan sedikit keberaniannya, bertanya
kepada Ayu, bagaimana caranya bisa dekat dan bersahabat dengan
Ditto. Apakah harus jadi cewek tomboy? Atau mungkin harus bisa
bermain futsal kah?
Kadang Ayu kesal kalau sudah merasa jenuh dengan
keirian tak berdasar dari cewek-cewek itu. Tapi, jika ada yang
bertanya, ia sendiri pun bingung. Apa yang dilihat Ditto dari
dirinya?
Kalau Ayu sendiri, ia tak melihat kesupelan, kepintaran,
humoris, cuek, dan … pokoknya semua yang dimiliki Ditto. Ia
dekat dengan Ditto karena Ditto adalah dirinya sendiri. Cowok itu
tidak mendekatinya karena alasan-alasan konyol, tidak berusaha
mencari tahu tentang pekerjaannya seperti orang lain, obrolan
mereka menyambung, dan banyak hal lainnya yang pada akhirnya
mampu membuat Ayu merasa nyaman di dekatnya.
Saat ini, permainan sedang berjalan seru, kelasnya
beberapa kali kebobolan gol oleh Ditto, Igun, dan kemudian
Dwiki. Waktu tersisa kurang dari lima menit lagi, dan itu
menjadikan lapangan semakin riuh dengan dukungan yang tak
henti diteriakkan teman0temannya.
“Ayo dong, jangan kalah sama kelas 2-2!”
“Tendang aja si Ditto ke gawangnya!”
“Malu gue kalo kelas kita kebobolan lagi, Bro!”
Lima menit kemudian, tiupan panjang peluit wasit segera
mengakhiri jalannya pertandingan antara kelas 2-2 dan 2-3. Kelas
2-3 keluar sebagai pemenangnya, membuat penonoton yang
meyoritas cewe langsung hebih saat melihat Ditto keluar sebagai
anggota tim yang menang.
Cowok itu segera menghampiri Ayu yang sedari tadi
duduk sambil memangku tasnya. “Udah mau pulang?”
“Iya ada syuting satu jam lagi.”
Ditto meraih handuk kecil dari dalam tasnya dan berjalan
meninggalkan lapangan bersama Ayu. Kemudian, mereka berdua
mulai menunggu taksi kosong sebagai tumpangan Ayu untuk
pulang. “Gila, keren banget lo tadi!”
“Gue sih emang selalu keren,” kata Ditto menyetujui
ucapan Ayu. Yang langsung dibalas cibiran karena kenarsisannya.
Saat berjalan menuju gerbang utama, mereka berpapasan
dengan Damu yang sedang bersama teman-teman satu gengnya.
Damu melihat ke arah Ditto yang kebetulan juga sedang
menatapnya. Namun cewek itu segera mengalihkan tatapannya
dari Ditto.
“Mantan, mantan,” gumam Ayu sambil menyikut Ditto.
“Apaan sih, Cha.”
Ayu hanya tertawa. Kemudian suara klakson saat mereka
sampai di gerbang utama membuatnya segera pamit kepada Ditto.
Ayu pun masuk ke dalam taksi, kemudian melambai dari jendela
mobil kepada Ditto.
Ditto balas melambai, lalu saat taksi tersebut sudah
menjauh, ia kembali ke dalam sekolah untuk mengambil tasnya.
***
bgitu bel istirahat berbunyi, Ayu segera keluar dari kelasnya dan
beranjak menuju kelas sebelah.
“Dit, kantin yuk!” serunya begitu ia menemukan Ditto
yang masih duduk di tempatnya.
Ditto menyahut, mengiyakan dan segera keluar dari kelas.
Kelasnya yang bersebelahan dengan Ayu membuat mereka punya
kebiasaan untuk melongok ke dalam kelas hanya untuk
memanggil satu sama lain jika jam istirahat tiba.
Tak lama keduanyya sudah berjalan beriringan menuju
kantin, ada meja yang biasa mereka tempati bersama dengan
teman-teman satu band mereka.
Karena mereka sering latihan bersama untuk acara sekolah
atau turnamen band, mereka semua jadi sering bersama-sama di
luar kegiatan band. Selain Ayu dan Ditto, ada Ola si vokalis, Dana
yang bermain drum, Anka dan Ivan yang sama-sama bermain
gitar, Andini yang bermain keybord, dan ada Rendy yang bermain
bass.
Sudah ada Andini dan Dana yang menempati meja
mereka. Mereka berdua pun langsung bergabung dan larut dalam
obrolan yang seakan tanpa ujung.
“Inget, besok jangan sampe telat ketemu di sananya ya,”
ujar Andini saat mereka membahas turnamen band yang akan
mereka hadapi besok.”
“Iya, iya,” jawab Ayu sambil mengencangkan kuncir
rambutnya. Ia beralih pada Ditto. “Mana mi ayamnya, lama
banget.”
“Lo pikir gue yang jualan,” cibir Ditto, ia pun menoleh ke
penjual mi ayam yang sedang dipenuhi pembeli lainnya, “Gila,
rame bener.”
Ayu mendengus. Kemudian tanpa sengaja tatapannya jatuh
kepada Bobby, mantannya saat kelas satu dulu, yang sekarang
duduk tak jauh dari mereka.
“Ngeliatinnya biasa aja kali,” bisik Ditto saat sadar siapa
yang sedang dilihat Ayu.
Ayu pun mendelik ke arah Ditto. “Gue biasa aja.”
“Kangen mantan?” goda Ditto.
“Nggak.”
Baguslah, ucap Ditto dalam hati. Mana mungkin ia
menyarakannya keras-keras.
Bobby adalah kakak kelas mereka, satu tahun di atas
mereka tepatnya. Ayu pernah berpacaran dengannya saat kelas
satu, kurang lebih enam bulan seingat Ditto.
Kalau mau jujur, ia tak suka saat Ayu berpacaran dengan
Bobby. Bahkan sampai sekarang pun, sejujurnya ia tak pernah
suka dengan siapa pun yang berpacaran dengan Ayu. Tapi ia tak
bisa mengatakan hal itu secara gamblang kepada Ayu jika tak
ingin persahabatan mereka jadi aneh.
Jadi, Ditto hanya menyimpannya sendiri dan berusaha
untuk tidak menunjukkan sama sekali di depan siapa pun, terlebih
Ayu.
***
Keluarga Ditto selalu mengantar cowok itu jika ia mengikuti
turnamen band. Lengkap dengan satu keluarga. Kedua
orangtuanya dan satu adik cowoknya yang terpaut enam tahun
usianya.
Seperti saat ini, Ayu dan Ditto berada satu mobil dengan
keluarga Ditto. Teman-teman mereka berpencar di mobil lainnya.
Pada saat kelas satu SMP—saat pertama kalinya Ayu ikut
turnamen band—ia cukup terkejut melihat keluarga Ditto yang
benar-benar ikut mengantar mereka. Tapi setelah sekian lama
berteman dengan Ditto, ia pun menjadi terbiasa dengan kehadiran
mereka, bahkan lumayan akrab dengan ibunya Ditto.
Dari music player yang ada di mobil, terdengar Maroon 5
menyanyikan lagu mereka yang sedang menjadi hits saat itu. Ayu
dan Ditto ikut bersenandung sambil sesekali menimpali obrolan
orangtuanya. Andiko, adik laki-laki Ditto, yang duduk bersama
mereka di belakang terkadang ikut bernyanyi walau tak tahu lirik
lagu.
“Ucha nanti pas SMA mau ngeband lagi?” tanya mamanya
Ditto yang duduk di kursi depan. Ia memang sudah akrab dengan
Ayu karena anaknya selalu bersama dengannya.
“Nggak tahu, Bu. Ini aja aku ngeband kan karena diajak
Ditto.”
“Hah, si Mas mah emang maunya sama kamu terus, Cha.”
ledek perempuan paruh baya tersebut. Seisi mobil tertawa, seolah
mengiyakan ledekan ibu Ditto.
“Ucha sekarang pacarnya siapa sih? Nggak sama Ditto
aja?” Ayu dan Ditto sudah terbiasa menghadapi ledekan sejenis
ini dari ibunya Ditto. Perempuan itu suka sekali menggoda
keduanya.
“Pacarnya si Ucha sekarang artis tuh, Bu.”
“Apaan sih lo,” tampik Ayu dengan cepat. “Sama yang itu
mah udah putus kali.”
“Lha, sekarang?”
“Jomblo gue,” sahut Ayu sambil tersenyum lebar. “Bosen
gue sama dia doang. Pacaran kan gitu-gitu aja. Lama-lama ya
bosenlah.”
Ditto hanya bisa berdecak pelan. “Bosen … lo pikir lagi
mainan.”
“Ya bukan mainan juga sih. Tapi lo juga pasti ngerasa
bosen kok klo lagi pacaran.”
Ditto hanya mengangguk, mengiyakan. Tidak menyadari
ibunya yang duduk di kursi depan tersenyum samar melihat
tingkah mereka.
***
Jangan lupa bawa like sama komen nyaaa

TEMAN TAPI MENIKAH Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang